Ahok Sudah Habis

Oleh: Dahono Prasetyonegoro
 

Seru, dinamis, penuh muslihat. Padahal babak awal Pilgub DKI baru akan dimulai pada tahap penentuan bakal calon oleh Partai Partai pendukung. PDI-P sebagai Partai ber-kursi terbanyak ternyata masih “rakus” dukungan demi menandingi strategi Ahok. Koalisi Kekeluargaan-pun digalang bersama Gerindra, PKS, PAN, PPP, PKB, Demokrat.

Meski belum menentukan sosok yang akan diusung, namun kita bisa mencermati “perlawanan” kepada sosok Ahok terjadi secara sistematis. Barometer partai politik di Indonesia dipertaruhkan pada wilayah selebar Jakarta. Tapi bukan Ahok kalau tidak menyadari sejak awal. Sejak memutuskan keluar dari Gerindra, Ahok sudah mengambil jarak dengan Partai. Buntutnya pertikaiannya dengan DPRD silih berganti. Saling serang statemen, kasus, fitnah, opini hingga adu mulut secara langsung menjadi tontonan demokratis tidak hanya untuk warga DKI.

Begitu “keruhnya” sistem birokrasi dan politik di DKI adalah spirit Ahok berjuang sendirian, sesekali dia membabi buta menyerang babi lain yang dianggapnya korup dan bermental orde baru. Sistem birokrasi di-revolusi total, undang undang bersayap dilibas habis, intrik politik dilawan dengan logika argumen seorang Ahok. Hasilnya, “kerusakan” dahsyat” pada zona comfort memaksa “Petinggi Preman” turun tangan menyusun strategi perang. Implikasinya nyata pada perebutan jabatan Ahok yang hanya tersisa hitungan bulan. “Kebrutalan” Ahok memporak porandakan “kenyamanan” yang selama ini menjamin hidup beberapa generasi menuai pro kontra.

Ahok adalah ancaman serius yang harus dilenyapkan dengan cara “keroyokan demokrasi” mengatas namakan rakyat Jakarta. Resiko itu sudah difahami Ahok lengkap dengan antisipasinya. Jakarta tidak butuh Ahok. Tapi Ahok sukses memaksa Jakarta berubah. Secara logika politik Ahok sudah hampir pasti kalah dalam Pilgub. Keputusan akhir dari Emak Banteng sudah bisa ditebak arah dan kepentingannya. Ahok siap meninggalkan Jakarta dan siap naik level ke “permainan” lebih tinggi yang sudah dipersiapkan sebagai antisipasinya.

Sedikit meminjam istilah bung Denny Siregar : “Jakarta bukan sekedar hutan belantara dengan belasan harimau lapar, serigala liar dan tikus pemakan segala. Jakarta sudah dihuni ratusan Tyrex bergigi pedang, siap melumat siapa saja hingga ke tulang tulangnya”. Kalaupun Risma yang jadi, bersiaplah banyak mengeluh daripada bekerja. Jika Rizal, perbanyaklah “ngepret” sana sini ketimbang mendamaikan birokrasi. Kalaupun Kang Emil, saya mohon anda benar benar tinggalkan atribut The Viking jika tak ingin dicabik cabik The Jak Mania. Jika Buwas, ....ah masih terlalu sayang ke-buas-annya salah sasaran. (Maaf, untuk calon lain yang tidak signifikan terpaksa tidak dituliskan di sini demi menghindari Ge-eR)

Sebegitu menakutkannya Ahok. Sedemikian sulitnya menandingi Ahok sampai harus mengorbankan apapun. Salah satunya warga Surabaya harus siap jadi korban yang baik jika benar Risma merapat ke DKI. Atau PPP an PKS yang terpaksa melanggar kaidahnya sendiri demi meng-Amini pemimpin perempuan. Bagaimana emak banteng menghadapi dilema pilihan yang sulit. Bagaimana pula PDI-P bisa bergandengan mesra dengan Gerindra dan Demokrat yang selama ini getol berseberangan. Semua demi melawan Ahok.

Jika benar Ahok tersingkir, setidaknya dia telah mewariskan karya besar dengan memporak porandakan tatanan birokrasi dan politik di Jakarta. Merubahnya dari terselubung menjadi terbukaan. Bukan kita di masa sekarang yang akan menikmati hasil karyanya, tapi anak anak kita pada generasi selanjutnya. Ahok menjadi salah satu sosok yang dibenci saat ini namun dikenang manis di masa datang. Bukan sebagai Pahlawan, tapi sebagai inspirasi ketegasan dan keberanian seorang pemimpin. Karena saat kita membaca berita 7 partai sedang memaki Ahok, tanpa kita sadari ada 700 pemuda Jakarta sedang terinspirasi akan keberanian Ahok. 7000 pemuda di luar Jakarta mempelajari ketegasan Ahok. Dan 700.000 orang berdoa memohon ketabahan dan kesehatan bagi Ahok.

Ahok sudah habis di Jakarta. Tapi dia akan ada dimana mana. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada di sebelah Pakdhe. Reuni duet manis yang semakin “menakutkan”

Depok, 09/08/16

 

(Sumber: Status Facebook Dahono P)

Tuesday, August 9, 2016 - 20:45
Kategori Rubrik: