Ahok : Saya Pilih Kalah Daripada Kehilangan Kepercayaan

Ilustrasi

Kalau ada orang yang saat ini paling membetot perhatian publik, salah satunya bisa jadi Basuki Tjahaja Purnama. Dia tak lain Ahok, Gubernur DKI Jakarta. Watak dan intonasi suaranya di atas rata-rata. Ceplas ceplos, seolah tak mau tahu lawan bicara sreg atau tidak. Kini setelah tak `sengaja` menjadi orang nomor satu di DKI, Ahok berencana kembali menakhodai Ibu Kota hingga 2022.

Ahok, yang sampai akhir pekan kemarin masih gamang, kini sudah memantapkan hati. Dia maju lewat jalur independen bersama Teman Ahok. Berisiko tinggi, tapi menurut Ahok, itu jalan paling realistis. "Saya memilih kalah daripada kehilangan kepercayaan mereka."

Lelaki yang biasa menyebut Jakarta dengan kata `Kita` itu sudah melepaskan separuh beban seputar rencananya jadi Gubernur DKI periode kedua. Selain sudah memilih jalannya, pria yang memandang kekuasaan sebagai jalan untuk mensejahterakan banyak orang ini juga telah menetapkan calon pendamping: Heru Budi Hartono.

Saat menerima wartawan Metrotvnews.com L. B. Ciputri, Krisiandi Sacawisastra, Fauzan Hilal, Mohammad Adam, Sjaichul Anwar, dan videographer Syawaludin firmansyah, Ahok bicara tentang banyak hal, mulai permukiman mana lagi yang bakal digusur setelah Kalijodo, pembangunan Jakarta, dan juga hubungannya dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Sesekali mereguk air mineral dalam wawancara berdurasi 1,5 jam lebih pada petang menjelang Magrib di Ruang Tamu Balai Kota DKI Jakarta, Ahok tak sedikitpun kehilangan semangat. Juga rasa humor. Beberapa kali dia tertangkap mengarahkan jari telunjuk untuk membetulkan letak kacamatanya. “Saya kerja full.”

Apa yang terlintas di benak Anda akhirnya memutuskan mencalonkan diri lagi di 2017?

Ada empat alasan. Pertama, dari sisi politik supaya saya tahu apa orang Jakarta, menghargai kinerja saya atau tidak. Sampai sekarang masih banyak yang berpikir saya jadi gubernur karena hoki. Karena Jokowi jadi presiden, lalu gua jadi gubernur.

Secara politik saya juga ingin membuktikan sebetulnya isu primordialisme sudah selesai. Selama 13 tahun terjun ke dunia politik, belum pernah ada orang berani ngadu program dan debat sama saya. Selalu ujungnya soal primordialisme, soal SARA.

Saya percaya satu teori, selama kamu tidak terima suap, tidak berpihak, rakyat akan pilih kamu. Itu yang saya yakin. Saya enggak pernah mau kasih kaus, kasih duit. Nah, saya mau buktikan teori itu benar atau tidak. Sekarang kan istilahnya, lu menang karena lu kaya. Bukan. Persoalannya bukan itu, tapi Anda dipercaya atau tidak.

Lalu?

Sisi kedua, pembuktian. Saya pengin Ibu Kota ini bagus. Saya selalu percaya akar semua masalah adalah korupsi. Kalau tanpa korupsi pembangunan di Jakarta akan luar biasa. November 2016 atau Desember 2016, kamu bakal kaget lihat Jakarta. Semanggi, akan dikerjain segala macam. Itu semua enggak pakai uang saya, tapi dari kewajiban tambahan pengembang yang sudah sukses di Jakarta.

Sisi ketiga, test case politik. Benar enggak sih persepsi orang kalau enggak ada duit jangan harap dicalonkan lagi. Kalau enggak ada duit nggak akan jadi. Atau lebih kasar lagi, kalau kamu enggak didukung partai besar, kamu enggak jadi. Makanya saya mau ikut.

Sisi keempat, kalau kamu tidak sama partai, misalnya hanya NasDem yang dukung dan usung, kira-kira kamu bisa menang enggak? Kalau bisa menang, ini betul-betul harus dicanangkan sistem baru: kalau kamu kerja baik, jujur, enggak nerima suap, konsisten, dan adil, kamu terpilih.

Jakarta enggak gampang loh terpilih. Beda dengan daerah lain, asal juara. Ini 50 persen plus satu. Menarik. Makanya, saya bilang yang terbaik harus datang tanding di Pilkada DKI.

Anda didukung Teman Ahok, di sisi lain Anda juga di hadapkan pada dukungan partai politik, sikap Anda?

Dengan Teman Ahok, aku enggak ke luar duit loh. Orang-orang ini menyediakan diri. Tanpa minta bayaran. Mempertaruhkan pekerjaan dan rela dimarahin orang tuanya. Ini sorry ya, bukan kita mau omong soal primordial agama yah, enggak gampang orang berjilbab mau dukung Ahok. Dan, mereka enggak peduli.

Bisa diceritakan proses dukungan dari NasDem?

Saya kenal Bang Surya (Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh-Red.) lama. Saya ini deklarator NasDem. Beliau telepon saya sehari sebelum deklarasi dukungan NasDem. Dia ngomong, `Abang dukung kamu Hok. Pokoknya terserah, mau dukung mau usung terserah kamu. Enggak ada partai kita cari, pokoknya kamu harus jadi gubernur lagi`.

Saya tanya enggak ada syarat-syarat? Bang Surya jawab, `udah enggak usah banyak omong`. Saya tanya lagi, Teman Ahok gimana? Surya Paloh menimpali, "kita ikutin juga enggak apa-apa. Pokoknya kamu mesti jadi gubernur. Sudah banyak perubahan di Jakarta. Besok kita mau deklarasi."

Ini artinya apa? Artinya, sampai hari ini teori saya benar. Kalau kamu kerja benar, masih ada orang waras dukung kamu dong. Makan dia bayarin, semalam (4 Februari) makan gua yang bayarin. Semalam kita ketemu lagi. Saya lapor ke SP (Surya Paloh), dan kata Pak Surya, ‘Sudah kita ikutin Teman Ahok, nanti kita cetak kaus, kita cuma minta di ‘O’ nya ‘Hok’ itu kita kasih lambang NaDdem. Hahaha....

Partai NasDem atau Teman Ahok meminta nama wakil?

Oh enggak. Mereka bilang terserah. Yang saya khawatir, saya sempat baca berita, Teman Ahok mau buka calon wakil saya. Wah, saya bilang, masa saya yang menikah kamu yang nentuin. Saya yang tentukan dong, lagipula saya sudah cocok sama Mas Djarot (Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat-Red.). Makanya (Teman Ahok) saya undang makan. Kalau overidealis, overdosis, kacau juga ini. Bisa berantem nih.

Tapi, kata mereka, wakil terserah Bapak. Wah, berarti Teman Ahok cukup idealis. Mereka juga enggak masalah wakilnya dari orang partai. (Djarot adalah salah seorang elite di DPP PDI Perjuangan)

Jadi siapa wakilnya?

Kita tanya Pak Djarot, bisa nggak PDI Perjuangan memutuskan pada April. Ternyata, sekarang PDI Perjuangan ngotot nih mau usung. Tapi, mereka tak mau ikut Teman Ahok. Kami besar, katanya...masa ikut Teman Ahok. Saya bilang, kaya Nasdem dong! Kata mereka, NasDem kan kecil. Wah ini jadi isu menarik kan.

Terus muncul, (politikus Gerindra) Habiburokhman. Dia bilang anak-anak ini (Teman Ahok-Red.) palsu datanya. Cuma di mulut doang. Ditambah, Yusril (Ihza Mahendra, bekas Mensesneg yang mencalonkan diri jadi Gubernur DKI Jakarta), mengatakan you musti tuliskan wakil loh, enggak bisa kosong nih. Kata Teman Ahok, ulang pun kami mau, kita buktikan kita mampu. Sekarang mereka minta nama wakil.

Mereka tanya, kalau PDI Perjuangan enggak mau dukung, apa Pak Djarot mau ikut Bapak? Saya bilang enggak! Mereka tak ada waktu lagi, lalu minta surat dari PDI Perjuangan dan tunggu hingga pekan ini. Kalau enggak ada mereka minta saya sebut satu nama wakil.

Jika ternyata Djarot diusung PDI Perjuangan?

Saya enggak tahu. Tapi, kalau saya mau diusung PDI Perjuangan, saya berani jamin, saya gubernur, wakil gubernurnya Djarot. Tapi, masalahnya, kenapa saya tidak mau terima, yang paling penting itu dalam negara, politik, dagang, dan apa pun itu adalah kepercayaan.

Sekarang ada sekelompok anak-anak muda yang saya nggak kenal, yang berjibaku, berhenti dari kerja, terima gaji lebih kecil, dan mereka percaya saya. Kalau saya pindah ke partai begitu saja, mereka frustrasinya parah. Tapi, kalau saya ikut mereka melawan semua partai, dalam teori politik, aku bisa dikerjaain habis-habisan, belum tentu bisa menang. Makanya saya bilang, kalau memang harus kalah saya pilih kalah daripada kehilangan kepercayaan mereka.

Siap menghadapi kemungkinan itu?

Ya bisa saja, itu menarik. Untuk membuktikan siapa yang terpilih. Saya enggak terpilih enggak apa-apa. Ini kan hipotesa. Kita tes dong, orang Jakarta lebih suka Ahok atau suka dia, ini menarik. Kalau saya enggak kerja susah diukur. Saya kerja full loh, konsisten loh dari saat menjabat wagub.

Jika ternyata Djarot terbentur partainya, lalu siapa?

Pak Heru (Budi Hartono, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah DKI Jakarta). Kenapa PNS, karena ini bicara kepercayaan. Rakyat harus percaya kepada pejabatnya, kepada institusi pemerintahnya. Rakyat enggak percaya ada politisi jujur, Jokowi muncul, orang percaya. Kalau saya terpilih, berarti rakyat percaya saya kategori politikus jujur.

Tapi, sekarang rakyat masih mikir, apa ada PNS yang jujur dan berdedikasi. Kalau saya pasang Basuki-Heru, kira-kira semua wartawan, semua lawan politik akan incar Heru. Semua boroknya akan dikorek. Itu yang saya suka. Kenapa, saya suka orang hantam saya. Fitnah saya. Tapi, pada akhirnya, kalau mutiara tetap mutiara kok meski di kubangan lumpur.

Nah, kalau Heru diubek-ubek dan ternyata enggak bisa dicari kelemahannya, artinya apa? Rakyat percaya kepada PNS. Berarti, ada loh politikus dan PNS jujur. Kalau kami terpilih, ini akan membuat seluruh PNS di Indonesia bekerja dengan baik dan benar. Karena mereka kemungkinan gampang jadi politisi, jadi legislator di DPRD.

Kenapa Heru?

Pertama kenal Heru itu ketika banjir besar 2013. Saya pelajari sistem air. Saya tanya, siapa yang ngerti kalau mau bongkar-bongkar waduk Pluit. Ada yang bilang, oh mesti tanya sarana umum di (Jakarta) Utara. Namanya, Heru. Saya langsung suruh temuin saya. Dan setelah bertemu, saya langsung bawa ke Pak Jokowi (saat itu Gubernur DKI). Setelah bertemu, Pak Jokowi bilang bagus ini anak.

Tak lama, Heru jadi Kepala Biro dan Kerja Sama Luar Negeri. Heru masuk ke provinsi dari Utara. Jadilah dia orang kepercayaan Pak Jokowi. Terus, saat kami mau membereskan Utara, Taman BMW, dan lain-lain, Pak Jokowi perintahkan Heru jadi Wali Kota Jakarta Utara.

Saat BPKAD masalah, aset kita kacau balau dan mau dibenahi, kita kebingungan cari yang jujur, yang bisa dipercaya. Akhirnya, nama Heru lagi yang muncul. Heru besar di Eropa Timur, karena bapaknya sempat jadi atase militer di Yugoslavia. Enam atau delapan tahun di sana. Anaknya satu dan istri profesional. Dia punya perusahaan taksi rental. Orangnya enggak neko-neko, enggak serakah.

Heru juga nothing to lose. Saya pernah tanya, `Pak, gimana kalau jadi wakil saya? Dia jawab, `Enggak apa-apa. Kalau bukan bapak yang jadi gubernur, saya juga pasti dibuang orang.` Karena dulu, kalau enggak main golf, enggak naik pangkat di DKI. Dan, dia enggak bisa main golf. Bisa cuma nembak. Ini orang loyal.

Selain Heru, saya kira ada satu lagi yang oke: Edi Junaedi, Kepala Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Tapi, dia terlau muda. Kariernya bagus, 39 tahun sudah (golongan) IVB.

Jadi antara Djarot dan Heru?

Kita tunggu pekan ini. Djarot berani enggak. Kalau Djarot enggak dapat surat dari PDI Perjuangan, saya pasang Heru. (Saat berita ini dirilis Ahok telah menentukan Heru sebagai calon wakil di Pilgub DKI 2017)

Kira-kira Djarot berani keluar dari PDI Perjuangan?

Enggak berani. Dia loyalis partai. Saya sudah ketemu dan omong. Saya bilang, saya senang bekerja sama dengan Mas Djarot, tapi partai PDI Perjuangan enggak mau. Urus dong.

Anda pernah bertemu Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Saat itu, sebelum memutuskan tak akan maju di Pilgub DKI 2007, Ridwan disebut bakal menantang Anda, begitupun Ganjar. Sebetulnya ada pembicaraan apa?

Jadi, sebetulnya, aku enggak tahu kejadian hari itu. Malamnya Ganjar WhastApp saya, dia bilang istri gua mau pindah ke Semarang, karena cuti tanpa tanggungan 2,5 tahun lewat, harus pindah. Dia mau permisi belum pernah ketemu gubernurnya. Saat ngobrol dengan Ganjar, ajudan bilang Ridwan Kamil mau mampir.

Jam 14.00 WIB, Ridwan datang. Dia minta pendapat. Dia juga minta pendapat ke Presiden dan Presiden mau tiap daerah ada yang bagus. Ya oke. Saya bilang kalau mau maju jual program yah, lu kalau jual SARA enggak laku, paling di bawah 10 persen. Jakarta butuh 50 persen plus satu. Ridwan setuju. Kata Ridwan, yang bisa bersaing juga cuma kita, karena rekam jejak. Ah, saya bilang, lu sudah ngerti nih. Rekam jejak.

Tidak ada pembicaraan Ridwan Kamil tak akan maju di Pilgub DKI?

Itu rahasia. Enggak enak aku.

Setelah itu, Ridwan menyatakan tak bakal maju, kontak-kontakan setelah itu?

Enggak.

Yang jadi pertanyaan juga, apa Pak Ahok dan Prabowo Subianto sempat bersitegang?

Enggak pernah. Aku terakhir masih makan bareng tahun lalu. Enggak pernah bersitegang.

Persisnya kapan?

Akhir tahun lalu. Sama Pak Hashim (Djoyohadikusumo, adik Prabowo yang juga Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Gerindra) baik, sama Oni (Widjono Harjanto, bekas Ketua Fraksi Gerindra di DPR), kami makan.

Sudah pernah bertemu Prabowo setelah menyatakan diri keluar dari Gerindra?

Enggak ketemu karena enggak ada acara. Dulu jadi anggota juga jarang ketemu. Kamu kira gampang menemui Prabowo. Susah menemui dia.

Setelah keluar dari Gerindra apa pernah komunikasi?

Dari dulu juga enggak pernah komunikasi. Komunikasi hanya lewat Oni. Lewat telepon juga enggak.

Kalau misal Gerindra mendukung atau mengusung di 2017?

Saya kira semua partai yang mau dukung saya ya silakan. Tapi, harus ketemu Teman Ahok. Tapi kita enggak mau keluar duit nih. Enggak ada duit nih.

Anda pernah ketemu Sekretaris Kabinet yang juga politikus PDI Perjuangan Pramono Anung, apa ada pembicaraan soal Pilgub?

Ya ada beberapa surat harus kita ubah, selain itu juga bicara soal PDI Perjuangan. Kalau PDI Perjuangan, saya pasti diusung. Tapi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri enggak mau dukung. Mereka pengin usung calon sendiri. Teman Ahok jadi tim sukses. Kita penginnya Teman Ahok daftar independen, PDI Perjuangan ikut mendukung. Tapi, wakilnya tetap Djarot. Kalau Ahok-Djarot, Ibu Mega sudah oke. Tapi, bukan mendukung yah.

Ada beberapa nama yang juga menyatakan diri siap ikut andil dalam Pilgub DKI 2017, bahkan ada anekdot mereka bersatu untuk menyingkirkan Ahok, tanggapan Anda?

Itu menarik. Saya enggak terpilih lagi juga orang Jakarta, untung. Kenapa, sampai akhir tahun ini saja hampir semua taman utama di Jakarta, ada WC ber-AC. Kaya mal. Serius ini. Lagi pula, kalau pun tak terpilih lagi, jabatan saya baru berakhir Oktober 2017. Tahun depan APBD 2017 sudah bentuk template.

Bagaimana Anda memandang kekuasaan?

Kekuasaan adalah tempat kita mengatur untuk menolong orang. Waktu gua jadi orang kaya, gue enggak mampu menolong banyak orang miskin. Perusahaan saya pernah untung USD150 ribu tiap bulan. Waktu itu saya masih muda. Tapi, pada 1995, pabrik saya tutup karena saya berantem sama pejabat.

Saya frustrasi. Saya sempat ingin pindah ke Kanada. Saya punya duit. Saya S2, punya pabrik, ngapain tinggal di Indonesia. Banyak pejabatnya suka nekan. Tapi, bapak saya melarang. Katanya, rakyat butuh saya. Indonesia akan berubah.

Bapak saya mengucapkan pepatah Tiongkok kuno, `Orang miskin jangan lawan orang kaya, kalah kamu. Orang kaya jangan nantang pejabat, bangkrut. Kalau mau menolong orang miskin, tapi enggak pakai duit pribadi, ya jadi pejabat. Tingkat paling mulia manusia itu jadi pejabat. Bisa menentukan nasib manusia. Pedagang pengusaha nomor enam.` Bapak saya meninggal 1997.

Kekuasaan ini bisa mengubah segalanya. Kamu ada duit, belum tentu dokter dan suster rumah sakit mau melayani kamu. Kamu mau nangis pun, kalau enggak ada ruangan, ya kamu enggak bisa dilayani. Sekarang, aku punya 7 RSUD besar-besar di Jakarta. Kalau saya bukan gubernur bisa enggak saya bangun rumah susun segitu banyak, saya bantu UMKM segitu banyak. Saya bantu anak sekolah dengan KJP Rp2,7 triliun. Tahun ini, yang masuk perguruan tinggi negeri kita bantu Rp18 juta per tahun. Pedagang sewa di pasar hanya Rp4.000 sehari. Itu kekuasaan bagi saya.

Apa Ahok pernah stres?

Saya enggak gunakan kata happy. Bahasa Inggris lebih cocok joy. Teman saya pernah bilang, `Gue kasihan sama lu, enggak ada waktu.` Dia salah. Berat badan saya 92 kilogram, tapi isinya otot. Jantung dan otak saya sehat. Tidak ada pembuluh darah tersumbat. Kenapa? Karena joy yang ada di saya mengalahkan semua. Padahal, gue kerja kaya orang gila. Aku enggak tahu apa aku sempat stres. Aku pikir aku enggak pernah stres. Kalau capek, aku tidur.

Apa kiat Anda biar enggak stres?

Senang. Sukacita. Saya usahakan juga tiap hari olahraga, minimal 20-30 menit. Latihan jantung otot. Badan aku not too bad loh dibandingin orang yang umur 30 atau 40. Betul loh.

Apa yang ada di bayangan Anda tentang Jakarta?

Jakarta yang saya mau ada transportasi massal, teratur. Sekarang, kita jadi kota terbesar di dunia yang pasang LED. Enggak pernah ada kota di dunia pasang LED sebanyak kita. Kita beli Rp1,2 triliun untuk tiga kota, Pusat, Selatan, dan Utara. Ini untuk hemat listrik dan terang benderang 24 jam. Saya bisa hemat listrik itu Rp400 miliar 1 tahun.

Tahun ini saya juga jadi developer terbesar di Jakarta. Saya bangun 57 tower setinggi 16 lantai dan 35 blok. Itu equivalen dengan apartemen 20.188 unit ukuran 36 meter per segi. Enggak ada developer yang ngalahin saya. Setahun kita kerjakan. Untuk lahan kita beli tanah sampai Rp3 triliun, mana ada developer yang seperti itu.

Kita juga akan jadikan Jakarta cashless city (kota tanpa uang kontan). Juni-Oktober berubah total.

Taruhlah Anda terpilih kembali, apa yang jadi fokus?

Saya bisa ngebut. Jangan-jangan banyak yang saya pecat-pecatin. Kalau saya terpilih berarti 15 Februari 2017 sore saya sudah tahu saya jadi gubernur lagi. Pada 2017 APBD saya susun lebih sempurna lagi, pakai template. Bisa dianalisis. Duit kita (Jakarta) akan lebih besar karena pendapatan pajak lebih besar.

Omong-omong, penertiban Kalijodo cepat dan lancar, apa sih yang Anda lakukan?

Kalau Kalijodo, saya enggak press 20 hari, bisa enggak beres-beres. Tunggu PTUN-lah, dipanggil Komisi III DPR-lah atau dipanggil Komnas HAM. Sebelum itu terjadi, gue ratain dulu.

Apa langkah Anda itu buah pelajaran dari penertiban di Kampung Pulo yang sempat rusuh?

Kampung Pulo itu salah sedikit. Salahnya, kita enggak minta dukungan polisi dan tentara. Itu masalahnya. Saya sudah bilang polanya mesti pakai pola penertiban Waduk Pluit. Taman Burung. Kalau pakai pola Waduk Pluit, semua beres. Nah, kalijodo ada pola Waduk Pluit.

Di Kalijodo enggak ada perlawanan karena semua pemilik senjata di sana sudah dilucuti. Pola ini persis dengan di Taman Burung. Waktu itu 1.000 Brimob dikerahkan.

Setelah Kalijodo, mana lagi target Anda?

Aku mau beresin pasar ikan Luar Batang, Pelabuhan Sunda Kelapa. Ini juga mirip sama Waduk Pluit, ini juga besar. Kita tinggal tunggu rusun siap. Baru selesai April-Mei 2016. Jumlahnya 3.000 unit.

Kamu akan enak tinggal di rusun. Bebas naik bus, enggak bayar. Anakmu dikasih bus antarsekolah. Dapat KJP. Mereka mau kerja, gua kasih modal Rp5 juta sampai Rp10 juta. Di rusun juga kita siapkan dokter, bidan, dan perawat. Mau apa lagi, taman main ada, bola ada, semua ada.

Sumber : FB Arimbi Bimoseno

Sunday, March 13, 2016 - 22:30
Kategori Rubrik: