Ahok, Prabowo dan Freeport

Oleh: De Fatah
 

Ahok itu kecil, yang besar itu Demo mereka yang berjilid jilid
Ahok itu mungil, yang besar itu umat Islam
Ahok itu kecik, yang besar ini harga diri koruptor dari partai dan agama mereka saja

 

Sekarang ini saya menunggu pidato Prabowo yang katanya seorang negarawan, dengan pidatonya yang menggelora, membahana, "Siapa yang ingin Prabowo jadi Presiden,.hayoo turun ke Jalan kita suport negara melawan Tamak dan Lobak si Rakus Freeport", tapi sepertinya itu tidak terjadi

Prabowo hanya tertarik pada Gubernur DKI, karena DKI ibarat panggung, panggung gagasan, panggung gengsi antar parpol, panggung ormas dan panggung pecah belah. Bagi mereka, DKI adalah harga diri mereka yang intoleran, sedangkan Freeport hanyalah sapi perahan dan komoditi politik menjelang Pilpres saja

Kontrak karya Freeport dimulai sejak 48 tahun yang lalu dimasa Soeharto bekas mertuanya Prabowo. Ini kontrak Penanaman Modal Asing yang pertama kali ditandatangani oleh Soehato sendiri. Kontrak itulah yang membuat Freeport mengangkangi gunung Ertsberg sampai sekarang.

Kita ini seperti preman kampung, yang kita ributkan hal yang seupil upil, masalah kentut, masalah perut, masalah cocot , masalah beda argumen, beda tafsir, itulah muara dari masalah yang selama ini menguras energi bernegara kita. Seakan akan negeri ini bakal hancur hanya gegara seorang Ahok dituduh menista agama padahal tujuan mereka sesungguhnya adalah hanya Pilkada DKI.

Mengapa harus Prabowo, karena selama ini beliau yang selalu menggaungkan nasionalisme, jargon tolak asing dan aseng selalu jadi ujung tombaknya, mas rijik ngga usah dihitung, dia dan umatnya cuma bergerak asal ada fatwa bagaikan Pak Ogah, SBY jangan diganggu do'i lagi merenung di depan kalkulator, Mami PDIP lagi pucing karena parpol pendukung Ahok lemah syahwat

Jonan dan Arcandra sedang gebuk-gebukan berjibaku demi kedaulatan negara dan mereka yang disini berdemo tak ada habis habisnya hanya karena seorang Ahok saja, sambil mendengar cocot si zonk dan efHa yang ingin menggulirkan Hak bertanya.

Masalah Ahok saja mereka tidak mengerti dan masih ingin bertanya pulak, apalagi menghadapi Freeport, bakal keluar asap dari ubun ubunnya. Pilkada itu 5 tahunan tapi freeport puluhan bakal ratusan tahun kedepan

Jadi yang sebenarnya boneka asing itu siapa ?

 

(Sumber: Status Facebook De Fatah)

Tuesday, February 21, 2017 - 19:15
Kategori Rubrik: