Ahok, Kenapa Kau dulu Ada

Oleh: Iyyas Subiakto

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar kita merindukan sosok " ceplas-ceplos " dan kadang kontroversial ini, sekian puluh tahun Jakarta sejak ditinggal Bang Ali seolah tenang dan damai ditangan penerusnya, ternyata damainya karena pinter bagi-baginya, semua kebagian kerja dan hasil siluman lainnya.

Sejak Jokowi dan Ahok memasuki Jakarta, menjadi Gubernur, transfaransi biaya dilakukan, APBD diterang benderangkan, rapat disiarkan, kerja dijalankan. Jakarta menjadi Ibu kota yg sebenarnya, bukan ecek-ecek, becek dan bengek, sayang umurnya tak lama hanya karena mereka tak suka kepada orang yg tak seagama, jujur mengatur uang negara agar tidak lagi di mangsa, itulah masalahnya, sehingga hasil kerja yg nyaris sempurna dianggap tak ada, bahkan yg baikpun dicari-cari kejelekannya agar bisa di cela.

 

 

Sekarang kita menganga melihat Gubernur penggantinya yg terus salah gaya, dan tak bisa kerja, kelihatan banget mau bagi-bagi duitnya, membetulkan kolam saja begitu mahalnya, dana hibah salah alamat, mengangkat pembantu melebihi menteri negara, gajinya besar tak berdasar, sayang uang KJP dipenggal dagingpun sulit dibeli untuk menambah gizi anak-anak negeri karena subsidi dialihkan kepada tim untuk balas budi.

Benar kata kawan2, Anies dan Sandi itu apes, mereka meneruskan kerja Gubernur yg digdaya, coba kalau meneruskan bekas Gubernur yg malas pastilah mereka aman dan bisa tidur pulas. Sekarang mereka duduk dikursi panas, kebiasaan Ahok kerja cepat dan tepat sasaran jadi bandingan, tidak usah kebijakan, tanah abang saja sudah membuat perbedaan bagaimana mereka tidak bisa mengatur pedagang kaki 5 yg membuat jalanan porak poranda, Gubernur tak berdaya dan tak bisa, malah ngomongnya kemana-mana.

Oh Jakarta, andai saja engkau bisa bicara, pastilah engkau memilih kembali menjadi Batavia daripada diurus orang gila kuasa tapi tak bisa kerja. Atau ibarat ruang kelas matematika diajar guru bahasa, angkanya kemana-mana, dijawab sekenanya, kini masyarakat Jakarta jadi pengab, dan megap-megap, inilah resiko memilih orang yg gagap hasilnya cuma mangap, pengusungnya alap-alap yg targetnya kekuasaan dan membuat Indonesia jadi tontonan karena kita dianggap menelan ketololonan gara-gara memilih pengembik daripada petarung.

Jakarta itu beranda Indonesia, bukan kandang kuda, sehingga perlu dijaga bukan dicoba-coba, jadi kalau tak bisa kerja mundur saja daripada terus dicela. Kalau kelas menjangan jangan ikuti jejak harimau, selain kelihatan kerdil anda tak kan bisa sama karena memang belangnya berbeda.

# Jakarta darurat pemimpin.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Friday, December 1, 2017 - 21:15
Kategori Rubrik: