Ahok Kembali ke Partai, Why Not?

Oleh: Birgaldo Sinaga
 

Dalam perjuangan saya selalu fokus kepada result oriented, hasil. Semua dihitung berdasarkan kalkulasi yang cermat, dihitung menyeluruh dgn hitungan yang paling masuk akal mendekati terbaik.

Kekuasaan itu diperjuangkan untuk direbut. Bukan untuk gagah gagahan atau kemegahan pribadi, tapi agar kekuasaan itu bisa ditangan orang yang tepat hingga tujuan kekuasaan itu memberi manfaat bagi kesejahteraan umum terwujud.

Maka orientasi kekuasaan itu jika bermuara untuk kesejahteraan umum maka kita tentu harus flexibel, luwes dalam berjalan. Berkeras harus berkendaraan khusus independen tapi banyak ranjau dan jurang sulit menang itu bukanlah langkah bijak.

Kendaraan itu hanya alat. Tujuan akhirnya adalah mengantar kepada memenangkan kekuasaan. Rakyatlah yang mengantarkannya melalui pilihan pilihan yg ada dalam kompetisi itu.

Sedari awal sejak setahun lalu, saya dan teman teman pergerakan sadar dan tahu bahwa niat Ahok maju via independen itu hanya sebagai alat tawar bargaining power.

Itu bagian dari strategi dalam menjaga positioning Ahok tetap tinggi sekaligus sebuah ancaman bagi partai yg suka bermanuver tarik ulur negosiasi.

Dalam rencana taktis strategi, saya mendukung kerja atau gerakan politik itu. Sekian lama berjalan posisi Ahok semakin kuat. Ini menguntungkan Ahok. Sayangnya, dalam perjalanannya, tujuan pengumpulan ktp itu malah menjadi berubah. Bukan sebagai alat tawar lagi. Tapi berubah menjadi kendaraan politik. Ini menurut saya dan teman teman akan membuat peta kompetisi perebutan jabatan gubernur berantakan.

Analisis pemetaan dari SWOT secara menyeluruh tidak menguntungkan jika kondisi terburuk adanya tiga pasangan calon muncul. Ini malahan akan menggeser kemungkinan tadinya menang bisa menjadi kalah.

Jika ada tiga kandidat bertanding yaitu jagoan PDIP, Ahok dan jagoan Gerindra cs, maka mereka akan bertarung segitiga. Pada tataran basis massa, pendukung jagoan PDIP dan Ahok adalah sama dan sejenis. Sama sama basis nasionalis.

Saya dan teman teman yang memahami alur peta kekuatan basis massa Jakarta punya ramalan akan terjadi "pertumpahan darah" dalam merebut suara pemilih di kantong kantong akae rumput nasionalis.

Sementara kantong kantong suara kelompok Masyumi, Relijius dan pendukung Prabowo itu akan disapu bersih diambil gabungan Jagoan Gerindra PKS PPP.

Ini dilema. Bak buah simalakama. Tak dimakan mati ayah, dimakan mati ibu. Kami yakin inilah yg bakal terjadi. Inilah pertandingan memperebutkan kekuasaan itu.

Lalu jika gambaran ramalan itu yg terjadi apa yang harus saya dan teman teman lakukan?

Relawan Jokowi yang tadinya mendukung Ahok memutar haluan. Sy menarik diri dari mendukung Ahok. BaraJP, Projo, Seknas Jokowi dll menarik dukungan.

Mengapa?

Ini penting agar Ahok sadar diri bahwa jalan yang ditempuhnya itu keliru. Jalan yg ditempuhnya itu membahayakan perjuangan. Pengumpulan KTP itu langkah cerdas dalam strategi politik untuk alat tawar sekaligus menjaga popularitas dan tensi dukungan massa. Namun akan keliru jika dijadikan alat kendaraan untuk maju kontestasi pilgub.

Maka, Jalan satu satunya adalah memberikan sinyal pra warning. Sinyal peringatan pertama. Peringatan agar Ahok sadar hasratnya maju tanpa pengawalan partai itu berat sekali medan juangnya. Bisa bisa gagal dan kalah.

Jika kalah maka kerugian besar bagi kita. Kerugian bahwa kekuasaan itu tidak jatuh ditangan orang baik.

Saya dalam posisi berjuang untuk memenangkan Ahok menjadi gubernur. Saya bukan dalam posisi memenangkan Ahok merebut sejuta KTP tapi kalah dalam perebutan kekuasaan. Untuk apa? Itu hanya memuaskan ego yang gak jelas. Hanya krn emosional tak jelas bahwa partai itu busuk. Partai itu jelek bla bla bla.

Lho..emang Jokowi Ahok dan Ahok Djarot yang didukung partai jadi pemimpin Jakarta itu membawa kebaikan atau keburukan ya? Apakah karakter Ahok dan nilai nilai yang diusung Ahok ada dihalangi partai? Bukankah fakta empiris malah Ahok dibackup partai PDIP dari serangan musuh musuh Ahok di parlemen?

Dalam posisi ini, saya melepaskan diri dari pendukung berbasis emosional yang malah cenderunglp sering menyesatkan. Saya mendukung secara cerdas dalam hitungan hitungan yang cermat agar kekuasaan itu benar benar dimenangkan Ahok. Itu keyakinan politik saya. Dan saya akan berjuang atas keyakinan itu semampu daya saya.

So..Ahok kembali ke partai..why not? Its good choice.

Fahamkan kamu sayangggg

 

(Sumber: Status Facebook Birgaldo Sinaga)

Tuesday, September 20, 2016 - 20:00
Kategori Rubrik: