Ahok, Kambing Hitam dalam Perang Proxy

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Ketika Uni Soviet bangkrut, saat itu pula pusat komunisme dunia sebenarnya telah runtuh. Ia memang masih hidup di beberapa negara, tapi mengalami asimilasi. Komunisme (sosialisme) terus mengalami perubahan, sebagaimana kapitalisme yang kini dipoles sebagai Good Capitalism. Meskipun pada akhirnya, sulit membedakannya dengan Bad Capitalism. Tapi komunisme masih dijadikan ancaman. Ia dijadikan musuh bersama dan kabar buruk bagi setiap umat beragama.

Dulu ketika Jokowi muncul dan mencalonkan diri sebagai presiden, fitnah, Cina, keturunan PKI, juga dijadikan senjata. Sebenarnya ini sangat sulit diterima nalar. Tapi beberapa wilayah, seperti Sumatera Barat termakan isu itu. Sekarang isu itu kembali didaur-ulang dan diserangkan pada Ahok. Hubungannya dengan PKI secara langsung memang tidak ada. Sialnya, Ahok cina. Dan Cina Daratan (RRC) adalah negara komunis. Cina = komunis. Orang tak butuh penjelasan. Case closed.

Keterlibatan Ahok pada narasi besar memasukkan orang Cina Daratan ke Indonesia dijadikan bahan perang proxy. Ahok adalah pion yang ditugaskan Xi Jinping untuk mencinakan Indonesia. Sembilan Naga, mafia yang keberadaannya mirip siluman itu adalah tentaranya. Mereka masuk ke banyak segmen bisnis, terutama properti. Maka dari itu Ahok ngotot reklamasi. Pekerja Cina yang datang ke Indonesia adalah calon penduduknya. Orang-orang tak butuh penjelasan. Case closed.

Tapi sesederhana itukah perang proxy?

Sebenarnya memang ada banyak teori, tapi akan kita bikin gampang. Perang proxy hakikatnya dijalankan oleh pihak intelijen. Negara X yang memiliki kepentingan dengan negara lain menggunakan kekuatan orang lain. Mereka memasang agen di mana-mana, termasuk orang pemerintahan dan media. Mereka bahkan kadang menggunakan teroris dan pemberontak. Jangan heran jika tiba-tiba para pemberontak itu punya senjata canggih dan sokongan dana yang kuat. Negara X telah menyuplainya. Mereka dipelihara sekaligus pura-pura diperangi.

Sekarang kita ingat, di dunia ini ada berapa negara kuat yang berpotensi menjadi negara X itu? Di Asia Tenggara, orang-orang dengan mudah menunjuk Cina. Tapi kita lupa ada negara kuat lain yang berpotensi sama, Rusia dan Amerika. Kita gugurkan Rusia, kita lihat Amerika lebih dekat.

Setelah perang dunia II terjadi, Amerika menjelma negara adidaya. Ia membangun pangkalan militernya di mana-mana. Tidak seorangpun benar-benar sadar, apa tujuan sebuah negara yang menyebarkan tentaranya ke seluruh penjuru dunia itu? Jelas, ini adalah Imperialisme. Tidak satu kekuatanpun di dunia ini yang mencegah Amerika memamerkan kekuatan militernya. Ia boleh membuat bom nuklir, pesawat tempur canggih, senjata mematikan, ia boleh membangun pangkalan militer di manapun semaunya. Sementara negara lain yang baru belajar membuat pembangkit listrik tenaga nuklir harus dicurigai. Baru membuat rudal jelajah tingkat menengah harus diawasi.

Amerika dengan sukses bersembunyi di belakang topeng polisi dunia. Ia boleh menginvasi Irak, sementara negara lain tidak. Ia bebas campur tangan di Afganistan, sementara negara lain tidak. Ia terang-terangan menyokong Korea Selatan, sementara Korea Utara diembargo.

Jika posisi Cina tadi kita ganti dengan Amerika sebagai negara X, apa yang terjadi?

Amerika dan sekutunya bebas masuk Indonesia dan menguasai tambang semenjak Soeharto berkuasa. Ada banyak sumber menyebutkan, CIA, dinas intelijen Amerika turut bertanggung-jawab atas kudeta yang dilakukan Soeharto. Karena Soekarno adalah presiden yang keras kepala. Pembunuhan jenderal pro Soekarno dilimpahkan dosanya pada PKI. Pertanyaan pentingnya, apakah selama ini PKI diberi hak untuk membuktikan mereka tidak bersalah? Tidak. Apakah bukti otentik tentang Super Semar itu benar-benar ada? Tidak. Apakah pencarian fakta peristiwa itu boleh dilakukan oleh generasi sekarang? Tidak.

Kita disuguhi satu narasi besar, Soeharto mendapat mandat dari Soekarno untuk melenyapkan PKI, karena mereka telah merancang kudeta. Tapi mandat penting itu dengan ajaib hilang. PKI adalah iblis. Titik. Jangan tanya alasannya.

Di sinilah posisi Ahok sekarang. Ia memang dimanfaatkan sebagai agen perang proxy, tapi oleh siapa? Cina? Atas dasar, Singapura juga berhasil dicinakan? Padahal Singapura bukan negara komunis, dan mereka justru dekat dengan Amerika! Ahok adalah sebagian dari kambing hitam yang dimanfaatkan oleh negara X tadi. Sama halnya pembunuhan misterius yang diberi nama G 30/S PKI. Kambing hitam dalam jumlah berjuta-juta telah disembelih. Dan kita tak memberikan hak pada mereka untuk membela diri.

Cina dan Amerika memang sedang berebut pengaruh di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Kekuatan tempur Amerika sebagian besar telah ditarik dari Timur Tengah. Minyak bumi sudah tidak menarik. Di masa depan, orang berebut sumber pangan dan energi dalam bentuk lain. Indonesia jelas menjadi salah satu sasaran empuk. Kita punya semua itu. Sah kalau kita waspada terhadap hegemoni Cina. Tapi kita lupa, moncong senjata belasan pangkalan militer Amerika sedang mengarah ke Indonesia!

Tapi dalam kondisi yang jelas itu, kita masih termakan propaganda. Bahwa Ahok adalah bibit yang akan membangkitkan komunisme. Ahok adalah agen yang ditanam Cina di Indonesia. Ahok adalah bencana dari sebuah rencana genosida. Padahal kita tahu, bagaimana nasib pribumi seperti Indian Dan Aborigin itu. Siapa pelakunya, Cinakah? Bukan. Pelakunya adalah orang-orang Eropa. Segala tuduhan tak masuk akal dilontarkan. Akun-akun palsu berkeliaran dan menyebarkan tuduhan di dunia maya. Ahok dikambing-hitamkan. Orang-orang bahkan tak butuh bukti dan tak boleh bertanya. Case closed.

 

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Tuesday, April 19, 2016 - 11:00
Kategori Rubrik: