Ahok, I Call You A Man

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Saya lupa hari itu tanggal berapa, gulungan awan tipis diatas bandara Blitong menyapa pesawat Sriwijaya yg saya tumpangi. Hari itu adalah kali pertama kaki saya menyapa tanah Blitong tempat Ahok, Andre Hirata dan Yusril Izza Mahendra dilahirkan. Rumah Andre berjarak 100 m dari rumah Ahok, rumah Yusril terletak di lain Kecamatan.

Hari itu adalah hari dimana saya membayar nazar untuk menziarahi makam Bp. Indra Tjahaja Purnama, papanya Ahok.

 

 
 

Diantar seorang supir taxi sewaan sepanjang jalan menuju kediaman rumah Keluarga Ahok, supir terus bercerita tentang almarhum ayahnda Ahok, dari mulai kedermawanan sampai cerita bandara Blitong yg dibangun oleh ayahanda Ahok sebagai kontraktornya. Bapak tidak akan boleh pulang kalau Bapaknya Ahok masih hidup. Beliau selalu menahan tamunya untuk bermalam dirumahnya apabila tamunya datang pada sore hari.

Kenapa saya berziarah, itu pertanyaan yg banyak saya terima, padahal saya bukan siapa-siapanya Ahok, kenal juga tidak. Kenapa ziarah ke makam ayahandanya, apalagi lain agama tanya teman saya. Dalam hati saya cuma bergumam, inilah kalau ziarah diartikan cuma berdoa diatas kuburan. Ada esensi lain dari arti ziarah, yaitu, mengingat kembali.

Nazar saya adalah bermula dari kekaguman kepada Ahok mendampingi Jokowi dan, lalu melanjutkan sebagai Gubernur DKI. Etos kerjanya luar biasa, kontroversi antara mulut yg dinilai kasar namun anti korupsi. Dana reses anggota DPRD DKI yg semula dibuat poya-poya dikepras sampai tinggal 8m, begitu Ahok tak ada 2018 dana resesnya melesat bak roket Nasa menjadi 108 m, pikir sendiri bagaimana cara membagi dan dipakai untuk apa uang negara itu dihadapan mereka.

Keberanian Ahok ini seperti punya nyawa serap dan gak takut mati. Kekhawatiran saya sampai memikirkan bisa-bisa dia dibunuh, bermula dari sana, andai dia tidak dibunuh saya akan ke Blitong menziarahi makam ayahandanya, yg tentunya telah menempanya menjadi manusia bermanfaat untuk bangsa dan negaranya.

Memasuki halaman rumah keluarga, saya disambut oleh orang kepercayaan karena sang Ibu sedang di Jakarta mengikuti sidang keputusan Ahok. Saya cuma mau menyampaikan bahwa saya akan berziarah, lalu saya jalan menuju lokasi makam bersama sopir. Kami kesasar ke komplek makam yg salah, namun ternyata disana ada makam nenek Ahok diatas bukit, saya naik dan menyaksikannya. Kemudian kami diantar penjaga makam ayahanda Ahok dilokasi lain tidak jauh dari situ.

Sah nazar saya, setelah menginap 1 malam di Blitong saya kembali ke Jakarta. Ahok tetap dipenjara dgn tuduhan menista agama islam, 2 tahun tahanan, dia terima dgn lapang dada dan dijalaninya, setelah sidang demi sidang yg selalu dihadirinya. Manusia satu ini sangat luar biasa, keimanannya, tegasnya, beraninya, jujurnya, setia atas negaranya, menjaga uang negara, mengayomi, dan cintanya kepada Jakarta terlihat dari bagaimana dia bekerja. Sayang dia telah di begal oleh kaum berotak dangkal, minim akal. Sialnya dia diakali oleh editan ayat kitab suci, oleh pahlawan kepentingan Buni Yani, yang kini juga mendekam dibalik jeruji besi. Buni Yani dinyatakan bersalah, terus apa judul hukuman yg dijalani Ahok selama ini, apakah dalam hal ini Ahok tidak dizholimi. Ahok korban konsfirasi orang-orang kerdil prestasi besar nafsu berkuasa dengan cara durjana, begitu kok bangga. Sekarang baru terasa, Enceng Gondok serasa Tebebuya.

Seminggu yang lalu saya menonton film Ahok, disana saya makin lengkap mengikuti bagaimana ayahanda Ahok menempanya menjadi manusia yg bermanfaat, dan tidak sia-sia, bukan seperti yg lainnya cuma banyak gaya, tak bisa kerja. Pantas saja kelak anaknya menjadi abdi negara, bukan pencuri yg pura-pura bisa kerja.

Ahok, ditakuti lawan politiknya sekaligus dibenci, bahkan kawan-kawannya sendiri, karena dia tidak bisa diajak kolusi apalagi mencuri. Januari 2019 insyaallah manusia Indonesia yg luar biasa ini akan bebas setelah menjalani hukuman yg tak jelas salahnya apa. Kita akan tunggu kiprahnya, kita menanti gebrakannya. Yang seru, Ahok keluar penjara, orang-orang yg melucutinya gantian masuk, ini namanya karma kata kawan saya, tapi sebenarnya memang merekalah yg pantas dipenjara karena dari mulut sampai kelakuannya tak pantas disebut manusia, sayang belum ada penjara khusus kera.

Ahok, selamat datang kembali untuk mengabdi, saya kok bermimpi engkau kelak diangkat jadi Mendagri agar bisa banyak menangkap pencuri yg selama ini selalu menari-nari seolah dirinya bersih padahal kita mual melihat nya.

AHOK, ENGKAU MEMANG LELAKI, SAYANG LAWANMU BANCI, MAKANYA MAIN KEROYO'AN. CACI MAKINYA LUAR BIASA PAKAI DALIL AGAMA, JUSTRU SEBENARNYA MEREKALAH SEJATINYA PENISTA AGAMA.

AHOK KEMBALI DAN INSYAALLAH MENDAMPINGI JOKOWI LAGI. NDONESIA AKAN MAKIN JAYA BERSAMA KABINET KERJA JILID DUA.

SELAMAT PAGI BUKAN HARUS MINUM KOPI, TAPI MAWAS DIRI UNTUK NEGERI.

#MARIJOKOWILAGI.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

 
 
Monday, December 10, 2018 - 22:00
Kategori Rubrik: