Ahok Ekspor Eh Pertamina Ekspor Loh

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Edisi Waras

Sepertinya, bukan tentang kita yang harus pintar apalagi jenius bila Indonesia maju adalah apa yang ingin kita tuju.

Kurang apa tanah ini kasih ke kita? Semua ada, komplit, plit..!! Semua terhampar didepan mata kita bahkan sejak kita lahir tanpa kita minta.

Anugerah atau justru jadi kutukan, tentu berpulang pada cara kita melihat. Bila waras adalah milik, hmm...,makmur negeri ini.

"Waduuhh...,kasar ini!! Atas hal apa kita dibilang ga waras??"

Anggap saja anda seorang ibu dari 7 anak dimana suami sangat kaya. Semua kebutuhan rumah dari beras, sayuran, daging hingga bahan mentah apapun selalu disediakan demi anak-anak itu.

Lima pembantu dan satu kepala asisten rumah tangga sebagai manager untuk semua hal anda pekerjakan. Anda boss atas rumah itu.

Entah kenapa, anda dan kepala asisten rumah tangga yang anda bayar mahal karena sebab pintar dalam banyak hal justru terjebak pada pola minimalis sesat yang menguntungkan.

Mereka tak pernah memasak nasi apalagi jenis sayuran dan lauk. Mereka beli semua. Mereka belanja apapun kebutuhan tanpa pernah kenal apa itu membuat.

Mereka belanja 1 juta lapor 1,5 juta, dan lebih gila lagi, anda sebagai istri justru lapor pada suami 2 juta. Dan itu terus berlangsung.

Adakah hal salah bila kebutuhan makan anak-anak terpenuhi? Tentu tidak. Membeli dan membuat sendiri sama-sama dipergunakan untuk anak-anak. Untuk kenyang dan puas anak-anak dirumah.

Everybody happy. Tak ada yang ditinggal kecuali suami.

Demikianlah Pertamina. Booming minyak di tahun 70an pernah terjadi dan lalu entah bagaimana, kebiasaan belanja tanpa ingin lagi membuat, ternyata dilihat lebih menguntungkan. Mereka terjebak dan menjebakkan diri.

Indonesia sebagai eksportir berubah menjadi net importir, tapi semua orang senang. Rakyat disubsidi, pejabat dan birokrasi dapat bagian sesuai peran masing-masing.

"Apa hubungannya dengan waras?"

Waras adalah tentang logika sederhana seperti ketika kita dipercaya, kita balas dengan bukti bahwa kita layak.

Mendapat posisi strategis dengan gaji besar dan lalu kebiasaan maling dalam diri kita yang tak pernah terpuaskan kita obral, tentu bukan apa itu waras.

Memasak apa yang sudah disediakan bukan malah belanja dengan harapan potensi adanya keuntungan atas selisih markup dan namun bersembunyi pada kalimat santun demi sehat anak-anak itu.

Sudah, sesederhana itu saja. Tak perlu harus pintar atau ber IQ tinggi untuk memiliki waras dalam diri.

Dan apa itu waras perlahan namun pasti kini memiliki rumah baru. Penyematan makna apa itu waras sepertinya mendapatkan tempat pada Pertamina dibawah kepengurusan baru yang dengan susah payah disusupkan.

Pertamina memasak dari stock yang ada dan sudah disediakan pertiwi. Pertamina membuat solar dengan kualitas euro 4 dan di ekspor ke Malaysia.

Belum banyak banget bila jumlah adalah apa yang harus dibanggakan. Namun bila langkah menjadi waras adalah apa yang harus kita apresiasi, ya...,ini adalah awal bagus. Awal yang baik karena kewarasan pasti akan mengarahkan kita pada jalan yang benar.

Paling tidak, kita telah diajak paham bahwa bila kita punya banyak kenapa harus beli to? Apalagi hanya demi nyolong selisih dan justru telah mengorbankan daya kreatif kita sebagai bangsa.

Paling tidak, kita dibawa kembali pada nalar benar bahwa pernah logika sederhana itu kita lupa dan kita terlena dalam buruk laku kita, kemaruk.

Tak terlalu berlebihan bila contoh apa yang kini Pertamina lakukan, berbenah dan terus berbenah adalah cara sederhana mencari jati diri siapa kita dulu pernah.

Ya...,mungkin menjadi waras terlebih dahulu adalah cara meletakkan bahtera ke Indonesiaan kita pada jalur yang benar sebelum pintar dan jenius anak-anak bangsa yang akan lahir dikemudian hari nanti mengajak kita ngebut menuju Indonesia Jaya.
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status facebook Karto Bugel

Wednesday, September 9, 2020 - 19:15
Kategori Rubrik: