Ahok Dirikan Band "Nabi"?

Ilustrasi

Oleh : Enha

"kita nunggu lama lho Pak Ahok, tamunya banyak sekali, sudah seperti Wali", canda Gus Azaz Rulyaqien, kami tertawa, Ahok juga, Kiai Taufik Damas menimpali, "biasanya umat datang ke Kiai minta do'a, ini rombongan kiai antri minta tanda tangan ada yg di buku, di kertas, sampe di sorban." hahaha Kiai Solahudin dari NU Bekasi memang gak kehabisan akal, saat kertas kehabisan, beliau berikan sorbannya yang baru dipakainya khutbah jumat siang tadi untuk ditandatangani Ahok.

"Saya ini sudah jadi Nabi", statement Ahok sontak membuat sebagian kami terdiam, saya menahan tawa, dalam hati saya ini pasti candaan ala Ahok persis saat kunjungan kedua dulu waktu dia bilang soal perempuan bernama Sarah yang diplesetin jadi Sara...

"Beneran saya ini Nabi alias Narapidana Binaan, hahahaha", celetukan Ahok membuat tawa kami pecah. "Tadinya kita mau bikin Band The Nabi sama teman-teman di sini, tapi takut nanti dianggap penistaan lagi, kita ganti jadi BTP, Band Teman Penjara". hahaha kembali tawa kami pecah.

Pak Ahok gak bisa dihentikan, sejak kunjungan yang pertama, selalu dia yg dominan bicara, "kita kaga kebagian ngomong dah", kata Kiai Shodri, Ketua Jakarta Islamic Center, yang memang dikenal sangat dekat dengan Ahok. Dalam obrolannya, Kiai Shodri sempat menceritakan, Idul Adha kemarin, gak ada kiriman sapi qurban dari Gubernur sekarang, "mendingan punya Gubernur cina kafir ngirim sapi gede banget", saya melirik Ahok, sedetik saja saya perhatikan air mukanya berubah, entah apa yg dia pikirkan, tapi suasana segera pecah dengan candaannya yang lain. Pak Ahok memang terkesan menghindar dari menilai atau membicarakan kondisi Jakarta sekarang apalagi kalau sudah menyebut Gubernurnya.

"Jadi berita mau nikah dengan polwan bagaimana pak Ahok", tetiba saja ust Muhammad Abdullah Ade memotong dengan pertanyaan yg menghujam. Pak Ahok menjawab diplomatis, gak gegabah, kata Gus Saipul Bahri Romlie, Ahok udah kaya politisi banget, "ini akibat hukuman menulis dan tandatangan, bukan saja berpikir sebelum bertindak, tapi juga berpikir sebelum berpikir".

"ini seperti ketakutan sebagian pendukung saya bila saya masuk Islam. soalan muallaf dan nikah lagi itu gampang jawabnya, saya termasuk kategori pengambil keputusan dengan cepat, saya tidak stress, saya meyakini ketetapan Tuhan, kalau satu pintu ditutup pasti Tuhan sudah membukakan pintu yang lain, jadi pasti sudah ada wanita yang disiapkan buat saya. soal siapa dan kapan, saya itu termasuk kategori pengambil keputusan yang cepat".

ah pak Ahok pintar sekali berkelit, tapi ia memberikan keyword penting, "urusan masuk islam itu soal hidayah, dan hidayah itu tdk ada yang bisa mengintervensi, urusan Allah, begitu pesan Gus Dur ke saya".

sesaat senyap.

Ahok benar. urusan hidayah itu sangat personal, antara seseorang dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak seorangpun yang berhak campur tangan dan seharusnya bila ia beriman tak perlu kecewa atas perpindahan keyakinan orang lain, sekalipun itu orang yang kita cintai. ini wilayah personal banget.

bagaimana dengan soal jodoh?

"Pak Djarot itu Rasis, hahaha ", penjelasan pak Ahok kemudian bikin kami ngakak, asli, ini candaan super duper kocak. lalu apa kaitannya dengan Pak Djarot, mantan Wagub beliau saat memimpin Jakarta dulu?

hehehe biar saja itu jadi rahasia saya dan teman-teman Kiai yang mendampingi kunjungan ini. tapi nanti ada saatnya saya ceritakan. kapan? ya nanti lah, sabar saja hahaha 

lalu apa lagi?

perbincangan 45 menit itu terlalu banyak kalau mau diceritakan, tapi ada satu bagian yang membuat kami semua terpana, beberapa wajah saya perhatikan tertunduk, merasakan derita yang tampak perih, tapi Pak Ahok begitu kuat menceritakan bagian itu. mulai dari urusan vero sampai berapa berartinya nilai sebuah kebebasan.

suatu hari saya akan menuliskan bagian itu, yang pasti, tadi siang itu pak Ahok tampak sehat, bugar dan lebih terbuka, tidak seperti dua kunjungan saya sebelumnya, atau mungkin karena pertemuan tadi lebih spesifik karena berbincang dengan para kiai.

sejujurnya, ada banyak bagian yang tak bisa saya tulis, meskipun beliau tak menyebutnya rahasia, tapi ini sejenis obrolan kalangan khusus, yang Pak Ahok berasa nyaman karena yang diajak ngobrol sangat mengerti posisinya.

"setelah bebas nanti, saya akan tunaikan janji saya ke Pesantren Motivasi", beliau menepuk pundak saya seraya berdiri menghantarkan kami menuju pintu keluar.

45 menit. ini lebih lama dari kebiasaan waktu kunjungan yang dibatasi hanya setengah jam.

Sumber : Status Facebook Enha

Saturday, September 15, 2018 - 19:45
Kategori Rubrik: