Ahok di Dalam Sunan Bonang

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Dalam sejarah politik Indonesia kontemporer, Ahok adalah sesuatu banget. Sulit menghilangkannya, sekali pun ia berhasil dipenjarakan. Dibutuhkan cara yang tak masuk akal, bahkan oleh Eep Saefullah Fatah sekali pun, juga Anies dan apalagi Sandi.

Hidup ialah hal yang tak terpermanai. Ahok adalah salah satunya. Mungkin berlebihan, tetapi siapakah yang tidak berlebihan, di Indonesia Raya ini, ketika kebencian begitu dimuliakan? Bahkan oleh mereka yang mengenal ajaran kasih-sayang, dalam busa kata-kata?

 

 

Tak ada hubungan antara Ahok dan Sunan Bonang tentu. Mereka generasi berbeda, meski sama-sama ‘keturunan’ China. Namun yang bernama nilai substansial, sejatining urip, tiada batas yang tak bisa ditembus. Nilai-nilai kemuliaan adalah universal, sebagaimana nilai-nilai kejahatan pun sama saja, dari sejak Ken Arok hingga Ken Soeharto.

Dalam sebuah ujarannya, Sunan Bonang memberikan simulasi lewat cermin. Bagaimana Wujil dan Satpada dibuat kebingungan. Mengapa ketika berdiri di belakang cermin, bayangan wajah mereka hilang, tiada kelihatan? Mengapa ketika dua orang berhadapan, satu di depan dan satunya di belakang cermin tak bisa saling melihat? Sementara yang di depan hanya melihat bayangannya sendiri? Tapi, lantas ke mana perginya bayangan itu, yang ada dalam cermin, ketika kita pergi dari hadapan cermin? Dan ketika disamperin lagi di depan cermin, ia kembali ada?

Wujil tak bisa menjawabn teka-teki yang tidak selucu Waktu Indonesia Bercanda, tapi tentu tak sebodoh Cak Lontong. Sebagaimana keberadaan lidah, yang terasa ada justeru ketika tiada kehadirannya. Ketika lidah mati rasa, karena makanan atau cairan panas.

Maka Wujil menjawab, bahwa Gusti Allah ialah manunggalnya dua unsur. Ketidakadaannya ialah keadaannya, dan keadaannya adalah ketidakadaannya. Pusing? Sang Maha Guru bertanya pada Wujil, “Bagaimana penjelasan selanjutnya?”

“Tak dapat dijelaskan lagi,…”

Sunan Bonang, Sang Sunan Wahdat, menghela nafas perlahan, “Kau benar Wujil, hal ini hanya dapat dibicarakan sampai disini saja. La Illaha meliputi sangkalan dan pengakuan, adalah ke-ada-an dan ke-tidakada-an. Hakikat dari Tuhan adalah ke-tidakada-an. Dalam ke-tidakada-an-nya ia mulai ada. Dan yang terakhir itu disebut: ke-ada-an yang abadi.

Termasuk mengapa ada orang seperti Amien Rais? Prabowo? FH? FZ? SN? Mungkin iya. Betapapun menyebalkan. Mungkin baik adanya, meski itu sungguh buruk. Tentu saja, sepanjang kita mengerti, apa yang terjadi. Eling lan waspada. Biarlah yang gila tetap gila. Asalkan engkau tak ikut gila.

Kalau ada yang ngomong ‘ora ngedan ‘ra keduman’, pastikan itu ajaran buruk. Yang tak ikut ngedan tetap akan keduman, dari hasil kerja kita sendiri. Bukan pemberian koruptor. Sebagaimana Ahok mengajarkan, untuk menjadi pahlawan cukup dengan ‘asal tidak korupsi.’

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Tuesday, November 14, 2017 - 23:45
Kategori Rubrik: