Ahok dan "Shawshank Redemption"

Oleh: Niken Satyawati

Sebagai orang yang beriman saya percaya Tuhan sudah mencatat takdir yang harus dilakoni seorang Basuki Tjahaja Poernama (Ahok) bahkan sebelum Majelis Hakim memvonis dia bersalah dan harus ditahan. Terlepas dari vonis yang kenyataannya jauh melebihi tuntutan Jaksa Penuntut Umum dan seolah menafikan fakta persidangan, dijebloskannya Gubernur DKI itu ke Rutan Cipinang tidak lepas dari takdir Tuhan. Dan Tuhan adalah pembuat skenario terbaik.

Proses banding akan dijalankan. Namun kasus Ahok mengingatkan saya pada sebuah film yang sangat berkesan di hati saya, Shawshank Redemption. Film ini memiliki pesan, agar orang selalu bersikap positif dalam segala kondisi. Demikian pula Ahok yang sejak awal kasusnya bergulir tak pernah berusaha lari. Dia tertib menjalani setiap panggilan polisi maupun jadwal sidang di pengadilan.

 

 

Shawshank Redemption yang disutradarai oleh Frank Darabont, dibuat tahun 1994. Film ini dibintangi Tim Robbins yang memerankan tokoh utama, Andy Dufresne. Ada juga pemain watak Morgan Freeman yang dikisahkan sebagai Red, sahabat Andy. Film yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya Stephen King ini ber-setting pada tahun 1947 di Maine, Amerika Serikat. Adegan dimulai ketika seorang bankir muda nan ganteng yang kariernya sedang bersinar, Andy Dufresne dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Ahok ketika kasusnya bergulir dengan tuduhan penodaan agama menyusul video editan yang disebarluaskan Buni Yani, juga sedang menjabat gubernur meneruskan jabatan yang ditinggalkan Presiden Jokowi. Dan dia pun lagi dicalonkan sebagai gubernur periode selanjutnya.

Adapun Andy didakwa pembunuh istri dan pria selingkuhan istrinya, padahal bukan dia pelakunya. Andy kemudian dikirim ke sebuah penjara bernama Shawshank Prison, dipimpin Sipir Samuel Norton yang jahat. Di tempat yang tak pernah terbayangkan ini, Andy bersahabat dengan Red, narapidana lain yang sama-sama menerima vonis seumur hidup. Menjadi narapidana dengan vonis seumur hidup tak membuat keduanya putus asa. Sebaliknya mereka yakin harapan selalu ada.

Belasan waktu sempat dilalui Andy dan Red dengan terus berpikir positif dan tak membuang waktu sia-sia. Titik terang datang ketika Andy menawarkan diri mengelola perpustakaan penjara secara suka rela. Pada satu sisi, kemampuan mengatur finansial yang dimiliki membuat Andy mendapatkan teman dari kalangan penjaga penjara, Hadley (Clancy Brown). Andy membantu Hadley meminimalisasi pembayaran pajak secara legal. Pengalaman itu membuat semua pegawai bahkan pimpinan penjara Shawshank meminta bantuan Andy untuk kasus yang sama. Jadi ingat, Ahok juga merupakan seorang profesional keuangan sebelum terjun ke dunia politik.

Singkat cerita, Andy dipercaya melakukan jasa itu untuk pegawai di penjara lain, sehingga karena kesibukannya Andy diberi ruang tersendiri untuk mengerjakan berkas keuangan para penjaga, dengan kedok mengelola perpustakaan. Sipir Norton yang sadar akan potensi Andy sempat memintanya melakukan pencucian uang untuk memperkaya diri. Tetapi Andy tetap punya impiannya sendiri yang dirahasiakan dari siapapun, kecuali Red.

Kisah yang penuh adegan tak terduga ini berakhir dengan happy ending berkat kesabaran, ketelatenan dan sikap positif Andy.

Dalam konteks Ahok, sebaiknya Ahok dan semua pendukungnya juga jangan lama-lama larut terbawa perasaan. Tetaplah berpikir positif, seperti Andy Dufresne yang terjepit dengan vonis seumur hidup, permohonan ampunan selalu ditolak, namun tak pernah menyerah. Sebaliknya dia selalu memupuk harapan, dan harapan itu akhirnya menjadi kenyataan. "Hope is a dangerous thing. Hope can drive a man insane," kata Red beberapa kali kepada Andy.

Pak Ahok pun bisa menikmati hidup di penjara dengan tetap berpikir positif dan menjalankan passion-nya walau dalam keterbatasan. Tak perlu mengirim bunga lagi, menurut saya pribadi itu merupakan langkah yang kurang substantif. Sebagai gantinya para pendukung bisa mengalokasikan dana untuk hal yang lebih substansial. Bisa juga sebagian buat membeli buku-buku, untuk dikirimkan kepada pak Ahok. Kelebihan buku bisa dibagikan kepada rekan-rekan di penjara, agar mereka sibuk membaca dan menjadi orang-orang yang tercerahkan.

Mungkin justru dengan berada di penjara Pak Ahok bisa istirahat dari hiruk pikuk kasusnya yang menuai pro kontra, termasuk “gangguan” orang-orang yang terus datang ke Balaikota meminta bantuannya. Dengan demikian hidupnya lebih tenang. Kita doakan beliau sabar menjalani garis hidupnya, sembari memupuk harapan agar beliau tetap bisa berkontribusi bagi Indonesia. Dan sebagaimana film Shawshank Redemption, kisah hidup seorang Ahok pun akan berakhir bahagia. 

Be strong, Ahok! 

Tuesday, May 9, 2017 - 15:30
Kategori Rubrik: