Ahok dan Ikon Ketulusan

Oleh: Erizeli Bandaro

 
Waktu masih muda usia 25 tahun keatas, saya punya mentor berwiraswasta. Dia etnis china. Saya suka dengan dia karena wawasannya luas dan punya usaha macam macam. Saya dipercaya dia untuk jadi auditor perusahaan dia dibidang jasa keuangan ( leasing company). Dan mengurus pajak pribadinya. Untuk itu semua saya tidak dibayarnya. Bagi saya tidak ada masalah. Karena itu pekerjaan paruh waktu saya sebagai pengusaha yang memang punya skill dibidang auditor. Tetapi dapat kesempatan sekali seminggu makan malam dirumahnya dan ngobrol, sudah lebih dari bayaran apapun. Apa yang menarik dan sampai kini saya tidak pernah lupa nasehatnya? Apa nasehatnya ?

 

Orang yang punya mental korup paling tidak suka dicurigai korup. Katanya. Paling tidak suka dengan sikap terus terang. Tidak suka terbuka apa adanya. Paling tidak suka kata kasar walau itu tentang kebenaran. Mengapa ? Karena mereka hipokrit. Mufafik. Orang munafik karena sebetulnya engga ada sifat malu lagi dalam dirinya. Kini terbukti, orang tertangkap OTT KPK masih bisa tersenyum. Mengapa ? Karena urat malu udah engga ada. Manusia berbeda dengan hewan hanya ada pada sifat malu. Kalau manusia sudah tidak ada malu maka dia sama dengan hewan.

Kerika Ahok jadi pemimpin jakarta, Ahok bersikap apa adanya. Dia senang dengan keterbukaan. Balaikota jadi tempat rakyat menyampaikan keluhan. YouTube menjadi alat keterbukaan informasi atas program DKi. Ahok suka bicara apa adanya, yang kadang terdengar kasar. Tetapi kasar itu bukanlah mencela pribadi orang. Yang dia kasari itu adalah sikap dan perbuatan orang. Bagi orang yang munafik memang kasar nya Ahok seperti menelanjangi mereka. Sebetulnya, mereka tidak malu ditelanjangi tetapi marah karena kebiasaannya munafik dihalangi. Ini memang tabiat rendah, yang lebih rendah dari hewan. Pelacur itu secara moral memang sangat rendah namun pelacur tidak marah dituduh pelacur. Mereka sadar dan tahu diri bila profesinya direndahkan. Setidaknya mereka tidak munafik.

Penyakit sebagian besar elite Politik dan birokrat negeri ini bukan hanya korupsi tapi lebih buruk dari korup yaitu sikap munafik. Mereka bicara keberpihakan tapi APBD dibancaki. Pas ketahuan, yang membocorkan malah kena sangsi. Mereka bicara tidak menggusur karena keberpihakan kepada rakyat kecil. Nyatanya tetap menggusur. Tapi ketika diingatkan akan penggusuran, mereka beralasan yang kena gusur itu rakyat yang tidak ikut pemilu. Bahkan sebagian tokoh agama juga punya sifat hipokrit. Setelah 212 diharapkan persatuan umat melahirkan kemandirian ekonomi. Tapi apa yang terjadi ? Lahirnya bisnis MLM berkedok agama yang diendoese ustadz. Hasilnya triliunan uang umat ditipu begitu saja. Bukannya memberdayakan umat malah menyengsarakan umat. 

Ahok memang kena pidana. Tapi dia tidak kehilangan sifat malu. Justru dia mengorbankan diri karena malu kepada Tuhan bila tidak mau mengalah dan berkorban untuk kedamaian dan perdamaian. Nabi Isya ( Yesus ) di salip tanpa sedikitpun menaruh dendam kepada yang mensalipnyaJustru nabi Isya berdoa kepada Tuhan” ampuni mereka Tuhan. Karena mereka tidak tahu...” saya membela Ahok dari sejak dia jadi gubernur DKI, dan tidak ikut mengadili ketika dia gugat cerai istrinya. Karena saya percaya Ahok itu tulus. Tulus karena Tuhan, bukan karena manusia. Ya Memang sulit dipahami terutama bagi orang yang munafik.

Mentor saya menasihati saya, “ pastikan kamu tidak hilang sifat malu. Kalau itu hilang, secara spiritual kamu sudah bangkrut dan engga mungkin bisa lagi bangkit. Orang munafik selalu jadi pecundang.”

 
(Sumber: Facebook Erizeli Bandaro)
Thursday, November 21, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: