Ahok dan Egi

Oleh: Sahat Siagian

 

Saya berketetapan untuk, sampai kapanpun, tidak setuju melaporkan seseorang ke hadapan hukum karena pikirannya.

Sebagaimana saya menentang pelaporan terhadap Ahok dan menganggap sidang yang mengadilinya sebagai pengadilan sesat, saya pun bersikap sama: akan menganggap proses terhadap Egi Sujana, karena penyampaian pikirannya di serambi gedung MK, sebagai proses hukum yang sesat.

 

 

Orang boleh omong apa saja--entah seberapa sesat ucapannya--asalkan muncrat dari pikiran yang jujur. Sila menganggap agama di luar Islam bertuhan entah 3 atau 999. Selama Pancasila memberi kebebasan kepada warga Indonesia untuk menghayati ketuhanan dengan rumusan, doktrin, dan teologi yang beragam, itu cukup.

Yang penting, sesuai sila kesatu, para penghayat ketuhanan di Indonesia tetap bersatu, esa, dengan seluruh perbedaan penghayatan tersebut, dan bertekad untuk tidak membiarkan kekuatan manapun, bahkan iblis sekalipun, menceraikan kita.

Kesesatan berpikir bukan kejahatan. Tapi kebohongan adalah kejahatan. Saya setuju Saracen diadili karena mereka telah menyebarkan kebohongan. Saya menentang Egi Sujana diperiksa, sebab ia cuma lebih bodoh daripada saya yang bodoh ini. Dia hanya perlu lebih banyak baca buku, melanggan perpustakaan nasional agar cukup pintar membedakan esa dari eka.

Di hadapan sidang terbuka rakyat Indonesia, kita telah melihat ketololan Egi. Kurang cukupkah itu? Apakah kita sudah menjadi sama bengisnya dengan mereka yang menyeret domba bernama Ahok ke meja pembantaian?

Ahok memaafkan penindasnya. Saya tergetar, tersungkur, malu di hadapan keagungan hatinya.

Kamu?

 

(Sumber; Facebook Sahat Siagian)

Monday, October 9, 2017 - 20:30
Kategori Rubrik: