Ahok, Buku Tanda Cinta dari Bu Mega dan Pilgub DKI Jakarta

Oleh:  Beni Guntarman

Ahok berada dalam posisi secagai calon Petanaha pada Pilgub DKI 2017. Langkah yang ditempuh Ahok maju Pilgub lewat jalur independen terasa mengejutkan bagi banyak orang. Padahal banyak yang memprediksi bahwa Ahok akan maju diusung oleh PDI-P, NasDem, Hanura, dan kemungkinan juga oleh PKB. Namun kenyataan sementara ini lain dari prediksi banyak orang. Ahok memilih jalur independen dan meninggalkan PDI-P. NasDem telah menyatakan dukungannya meski Ahok maju melalui jalur independen. Kemungkinan besar Hanura juga akan mengikuti jejak NasDem ikut mendukung Ahok di jalur independen, memperkuat barisan Teman Ahok.

 Ada fenomena menarik, saat peluncuran buku Megawati tanggal 23/3/2016 lalu Ahok hadir bersama para undangan lainnya. Saat itu Bu Mega kerap menyindir Ahok, atau lebih tepat kalau dikatakan Bu Mega bercanda atau melancarkan guyonan politik menanggapi fenomena Teman Ahok, dengan menggunakan moment yang ada saat itu. Ahok yang sudah lama kenal dengan Presiden RI ke-5 itu sepertinya mampu menangkap substansi guyonan Bu Mega.

Muncul dugaan bahwa moment tersebut sengaja dirancang sebagai ajang sinyal politik dari PDI-P seputar Pilgub DKI 2017. Ada yang memperkirakan PDI-P akan memainkan kartu trupnya saat injury time guna mendukung Ahok. Ada juga yang berpendapat bahwa Bu Mega sedang melakukan test water melihat reaksi Teman Ahok atas perlakuaannya terhadap Ahok pada saat acara itu. Keduanya menunjukan pada satu hal bahwa Ahok masih tetap dipandang sebagai sahabat bagi PDI-P, dan Ahok masih tetap mencuri perhatian Bu Mega terkait masa depan karir poltiknya. Moment tersebut juga bisa ditafsirkan sebagai sinyal bagi NasDem dan Hanura agar all out mendukung Ahok. PDIP sepertinya lebih fokus kepada siapa paslon yang muncul sebagai pesaing Ahok yang bakal diusung oleh poros Gerindra, PKS, PPP, dan Golkar.

Pasangan Ahok-Heru saat ini baru sebatas bakal calon, karena keduanya belum resmi terdaftar sebagai calon Gubernur DKI pada Pilkada serentak Februari 2017 nanti. Masih ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh Ahok-Heru sebelum menjadi paslon. Pekerjaan yang sangat penting yang harus dilakukan oleh Teman Ahok adalah secepatnya memastikan bahwa dukungan bagi Ahok lewat jalur independen bisa memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan. Hasil kerja Teman Ahok akan menentukan bagaimana situasi Pilgub DKI 2017 nanti. PDI-P berkepentingan agar Ahok tetap maju sebagai Cagub DKI 2017, lewat jalur independen atau diusung sendiri bersama NasDem, Hanura, dan mungkin juga PKB.

Kenapa Ahok harus tetap maju? Karena bila Ahok gagal maju Pilgub 2017 nanti maka yang akan terjadi adalah sebuah pertarungan antar Djarot melawan Sandiaga Uno, dan mungkin juga Yusril seandainya PPP, PKS, PAN, dan Demokrat bersikeras membangun poros sendiri. Pilgub DKI 2017 tanpa kehadiran Ahok akan menjadi sebuah ajang pertarungan sengit yang tidak saja melibatkan kekuatan parpol namun juga akan menjadi sebuah ajang investasi berupa gelontoran uang dalam jumlah besar guna memenangkan sebuah pertarungan yang bersifat penting dan strategis.

Beda halnya seandainya Ahok ikut tampil sebagai Cagub, situasinya akan menjadi serba salah bagi Gedrindra, PKS, PPP, dan Golkar. Bila Gerindra dan Golkar membentuk satu poros, serta PPP, PKS. PAN, Demokrat juga membentuk poros lain maka kekuatan yang terpecah itu akan dengan mudah dipecundangi oleh Ahok. Seandainya mereka bersatu membentuk satu poros maka situasinya akan terjepit oleh PDI-P dan PKB di satu sisi, dan oleh Hanura, NasDem, Teman Ahok pada sisi lainnya. Bisa jadi PDI-P dan PKB tiba-tiba ikut bergabung mendukung Ahok saat injury time pendaftaran Calon Gubernur nantinya..

Teman Ahok adalah sebuah kekuatan yang tidak boleh dipandang remeh oleh seluruh Parpol yang mengikuti kontestasi politik Pilgub DKI 2017. Sebuah kekuatan besar yang sifatnya riil, yang jelas dan tegas telah mementukan pilihannya jatuh pada Ahok sebagai kandidat Gubernur. Kekuatan Teman Ahok bila disinergikan dengan permainan cantik PDI-P, NasDem, Hanura, dan juga PKB maka siapa pun yang akan menjadi pesaing Ahok-Heru akan berpikir panjang seandainya harus menggelontorkan uang dalam jumlah besar demi sesuatu yang mungkin akan berakhir dengan sia-sia.

PDI-P sangat berkepentingan agar Ahok tetap maju sebagai Cagub DKI 2017. Bu Mega memilih sendiri peran kekuatan partainya, sebagai pemecah suara lawan atau sebagai benteng pertahan yang kokoh bagi Ahok dan juga bagi kepentingan PDI-P sendiri di DKI Jakarta. Semuanya memperhitungan pengaruh Pilgub DKI 2017 terhadap Pileg 2019 dan juga Pilpres.

Teman Ahok adalah fenomena relawan. Sebuah fenomena dimana rakyat berpihak pada idealismenya, ketokohan, serta sosok seorang publik figure di panggung politik. Fenomena relawan terlalu berbahaya bila dilawan secara frontal, bisa memunculkan kegaduhan politik yang berkepanjangan. Politikus sekelas Megawati SP tentu lebih bijak dalam menilai dan menimbang situasi seperti ini.

 Karena itu Bu Mega sempat-sempatnya guyon dengan Ahok, dan hal ini tentu saja tidak lepas dari pengamatan para politikus kawakan lainnya. Ahok membuktikan bahwa dirinya seorang pemimpin, bukan wayang. Namun tidak ada yang mampu menduga apakah Ahok bisa menjadi seorang petugas partai yang loyal atau sebaliknya, sukar dikendalikan oleh partai. Hanya Ahok sendiri yang mampu menjawabnya. **(ak)

Sumber tulisan :kompasiana.com

Sumber foto :aktualpost.com

Sunday, March 27, 2016 - 19:30
Kategori Rubrik: