Ahok Bisa dijegal Mafia dan Koruptor lewat KPUD

Oleh :Ninoy N Karundeng

Ahok memang fenomenal. Dalam perang di Pilgub 2017, satu-satunya cagub yang bisa melawan Ahok hanyalah Ridwan Kamil. Namun, selain itu, Ahok juga bisa gagal maju menjadi cagub dari jalur independen jika gerakan mafia ikut bermain. Mari kita tengok bahaya yang mengancam kegagalan Ahok dalam pencalonannya dengan hati gembira ria riang sentosa girang senang bahagia pesta-pora menari menyanyi tanpa henti waspadai serangan mafia selamanya senantiasa.

Meski Ahok memiliki nilai tawar dalam pencalonan gubernur DKI Jakarta, Ahok adalah musuh partai politik. Jelas posisi Ahok di mata para parpol menjadi ancaman serius karena saat ini, dengan tanpa parpol Ahok bisa tetap melakukan pemaksaan terhadap parpol untuk menyetujui program kerjanya. Senjatanya adalah media dan rakyat.

Parpol sangat dirugikan oleh Ahok yang menutup hampir semua permainan korupsi APBD DKI yang begitu besar. Kasus UPS, kasus-kasus yang batal menjadi bancakan para partai, membuat Ahok dihambat dan menjadi musuh nyata DPRD DKI yang merupakan kepanjangan para partai.

Selain parpol, organisasi massa seperti FPI jelas akan menentang dan berkampanye anti Ahok sebagaimana kampanye anti Jokowi-JK dan Jokowi-Ahok. Bahkan MUI DKI pun bisa mengeluarkan fatwa politik menolak Ahok.

Seterusnya, para koruptor dan pengusaha yang berafiliasi dengan partai dan anggota DPRD yang korup pun akan menentang Ahok. Para pengusaha dan koruptor ini bisa masuk ke seluruh organ pemilu gubernur DKI Jakarta 2017. Uang akan digunakan sebagai money politic untuk memengaruhi kebijakan seperti misalnya di KPUD DKI.

Jika pun lolos, maka Ahok pun akan dilawan oleh seluruh partai. Gambaran gelap ini pun sempat ditangkap oleh Ibu Megawati yang melihat adanya gerakan untuk mencegah Ahok berkuasa kembali melalui tiga pintu.

(Untuk itu ada suara PDIP dan juga NasDem untuk menggabungkan suara independen dengan dukungan PDIP dan NasDem. Disarankan kepada Ahok untuk tetap menggunakan kendaraan pencalonan Gubernur DKI Jakarta dengan jalur independen. Dukungan PDIP dan NasDem harus digabungkan dengan kekuatan 500,000 KTP dukungan kepada Ahok. Itu jaminan bagi Ahok untuk secara strategis merangkul kedua kekuatan: independen dan PDIP dan NasDem.)

Dengan demikian, melihat latar belakang perang sesungguhnya, meskipun Ahok memiliki nilai tawar 500,000 KTP dukungan, tetap sda tiga permainan yang dapat menjadi senjata yang bisa menggagalkan pencalonan Ahok sebagai calon gubernur DKI Jakarta yakni (1) KTP palsu dan dipalsukan, (2) money politic pra-pencalonan, dan (3) mafia bermain di dalam KPUD dengan membatalkan keabsahan KTP dan Ahok akan tersingkir sebelum maju menjadi cagub DKI 2017.

Untuk itu Ahok harus secara waspada memainkan kartu kekuatan tetap di jalur pencalonan dari jalur non-parpol alias independen. Jika ada dukungan dari partai, jadikan itu dukungan moral dalam pemilihan. Pun, dalam tempo saat ini, tak ada satu pun calon yang menonjol selain Ridwan Kamil. Orang-orang semacam, tanpa merendahkan, Dessy Ratnasari, Angel Lelga, Adyaksa Dault, Sandiaga Uno, Tantowi Yahya, M. Taufik, Lulung, Hidayat Nur Wahid dari partai agama PKS yang hanya akan menjadi hiasan di kertas suara dan pasti akan kalah oleh Ahok. Namun, yang pasti, Kawan Ahok dan panitia pendukung Ahok atau relawan Ahok harus memerhatikan tiga hal di atas kalau mau melihat Ahok maju dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Jika tidak akan gigit jari dilibas oleh para mafia dan koruptor. Salam bahagia ala saya.

 

Sumber : kompasiana

Tuesday, February 2, 2016 - 11:00
Kategori Rubrik: