Ahok Is Back

ilustrasi
Oleh : Karto Bugel
 
Bukankah dulu, dia dianggap jagonya jagoan tukang bikin ribut seantero negeri?
Terbakar seluruh emosinya dengan kemarahan, para suci bin khusuk harus kasak kusuk di banyak lorong kemunafikan. Ikrar penjarakan si tukang gaduh mendapatkan panen 7 juta manusia memenuhi monas.
Agama dan Tuhan pun harus ditarik hanya demi jatuh seorang dobel kafir itu. Epik sebagai sebuah pertunjukan, tak diragukan mendapat score "A+" bila sebaran dari gaung itu adalah tentang apa yang menjadi ukuran.Drama itu berhasil menuai decak "kagum" penghuni semesta.
 
Keroyokan masal sepanjang catatan sejarah manusia, akhirnya ditorehkan. Butuh 7 juta orang guna menjatuhkan seorang Ahok.
"Wedeehh, hebat banget Ahok yak?"
"Ga ada Ahok, ga asik".
Paling tidak, ada warna yang dipaksa hilang dari keseharian kita. Paling tidak, ada satu nada hilang dalam sol mi sa si lagu kehidupan kita dan kita merasa ada yang tak selaras atau monoton.
 
Harapan sempat muncul manakala Januari 2019 dia keluar dari dinding pembatas antara Ahok dan pendukungnya. Dia di kurung sejak Mei 2017.
Tapi, dia tak kembali seperti dulu. Pemalu dan dan santun dia coba tampilkan sebagai baju lain dari Ahok yang baru.
Wagu..!! Itulah yang terlihat.
"Persoalannya, kalau saya jadi Dirut, ribut. Kadrun-kadrun, mau demo, mau bikin gaduh lagi republik ini..!!"
Sayup-sayup suara dengan intonasi tak asing namun ngangenin itu terdengar. Bukan Ahok dengan suaranya yang khas kita tahu, suara itu digaungkan justru oleh mereka kangen punya panggung megah lagi untuk tampil.
"Sepertinya Ahok lagi pakai jurus mabuk tubruk sana tubruk sini demi menutupi kebodohannya yang sudah membuat Pertamina rugi Rp11 triliun sehingga tidak ada prestasi Ahok si tukang gaduh aja kerjanya paling jago ya cuma nyalahin orang terus mencari kambing hitam deh,".
Seorang Bamukmin yang lagi sepi job angkat bicara dan kita mendengar. Dia menyambar peluang panggung itu dengan pernyataan yang tak dia mengerti. "11 triliun kerugian pertamina semester pertama tahun ini".
Bamukmin mencoba mengalihkan protes Ahok tentang keadaan Pertamina dimana salah satunya adalah tentang kucing-kucingan management dalam hal pengangkatan direksi dan pemborosan keuangan negara atas mereka yang tak lagi menjabat namun masih berpenghasilan sangat besar.
Bamukmin yang menurut cerita, jabatan tertingginya sebagai seorang yang pernah bekerja pada sebuah perusahaan bila itu adalah kapasitasnya, namun bagian "wingking" justru yang duduki, ngomongin kerugian 11 triliun Pertamina???
Serius??
 
Oalaahh...,jauh api dari panggang kan bila kita harus berdebat?? Dijamin, masih lebih ok panggung Firsa dengan segala perniknya.
Ya, infonya doi punya riwayat pekerjaan menjadi ”OB” di gerai Pizza Hut selama empat tahun (1992-1995). Keluar dari Pizza Hut, doi bekerja di PT Multi Laras Harapan Abadi yang bergerak di bidang jasa pengiriman ekspor dan impor, sampai tahun 2006.
Entah wangsit apa dia terima, tiba-tiba pinter dan kritik kerjaan level dunia, Pertamina.
Tak perlu sekolah, tak perlu kejar apa itu kompetensi, jadilah "kaum itu", maka kau dianggap pintar segalanya.
Bak gayung bersambut, panggung penuh kerlap kerlip itupun disambar si kuping tipis dari seberang jauh lapangan.
 
"Ahok sebut kadrun akan demo jika dia jadi dirut Pertamina. Jika benar dia sebut kata "kadrun" sungguh Ahok tidak tahu diri... Ahok, ente diterima tinggal di NKRI saja mestinya sudah syukur... Sadarlah diri..." kata Tengku melalui akun Twitter @ustadtengkuzul.
Siapa Zul sehingga merasa negeri indah ini seolah miliknya sehingga boleh dan tidaknya seseorang menjadi warga negara bergantung pada caranya menilai.
Yan jelas, pernah tersebar seorang yang sangat mengenalnya bercerita tentang siapa dia dahulu.
"Tengku Zul ini om saya... panggilannya Ayah Naen.... Dulu penyanyi di RRI... masih suka main keyboard Yah? Dulu setahu saya bukan ustaz, tiba-tiba saja jadi ustaz," bunyi kicauan @DHadibrata pada 19 April 2018, yang kembali diungkit pengguna akun Twitter @HsanRice, Jumat 7 Juni 2019.
 
Di cuitan yang lain, seorang teman, @WagimanDepp, berkicau dengan narasi "Ternyata @ustadtengkuzul tidak bisa bedaken Nadzar & Janji, hati-hati ber-Nadzar," Selasa (10/09/2019).
Hal itu terkait tentang Ustadz Tengku Dzulkarnain yang dinilai tidak bisa membedakan nadzar dan janji. Hal ini terkait batalnya membeli mobil Esemka yang sebelumnya sempat dinazarkan oleh dirinya.
Ya...,Ahok is back. Dan itu telah memancing mereka yang dahulu turut memenjarakannya kembali berteriak.
"Loh..,wong sudah bagus diam, ga bikin riuh koq malah ngomopori? Emang masih kurang ribut po negara ini?"
Ahok yang bersandiwara menjadi santun dan kalem bukan apa yang negeri ini butuhkan, apalagi saat ini.
Ahok yang apa adanya adalah dia yang berani bersuara dengan bahasa aslinya. Jujur..!! Tak ada pakem bahwa kejujuran harus santun. Justru kebohongan dan kemunafikan akan tergambar diasana.
 
Terlalu banyak orang munafik negeri ini punya, dan Ahok tak perlu menjadi bagian dari mereka dan sehingga harus bertambah satu lagi. Ada banyak diluar sana mereka yang berkelakuan lebih buruk dari umpatan nama binatang yang biasa mereka lontarkan.
Sepertinya, umpatan dan cara berbicara ala Ahok bukan harus kita maknai dengan apa itu kasar, tak sopan, hingga tak sesuai dengan budaya bangsa ini. Mereka kaum munafik itu jauh lebih tak berbudaya dan apalagi hanya sebagai topeng, mereka jauh lebih berbahaya.
Sama dengan diam tak lagi emas, jujur dan meski itu terasa sangat kasar, seharusnya tak perlu lagi kita haramkan.
 
Selalu ada antitesa dan itu adalah sifat alamiah bagi semesta. Ahok adalah antitesa kaum munafik berbaju perintah Tuhan. Ahok hadir karena alam memintanya.
Sama dengan setan dan iblis yang dapat berbahasa malaikat dan berbaju agama, seharusnya demikian pula Ahok. Kebaikan tak selalu harus tentang apa itu santun ada kalanya sakit yang harus dihujamkan.
Ayo Hok...,kamu tak perlu lagi harus sembunyi dalam bingkai yang mereka ingin, kamu adalah kamu apa adanya.
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status Facebook Karto Bugel
Monday, September 21, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: