Ahok Adalah Sebuah Kategori

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Siapa diri Ahok yang sebenarnya ? Akan berakhir bagaimana kah ia ? Tersedia Surga atau neraka kah kelak diakhirat untuknya ? Semua pertanyaan itu bukan kita yang berhak menjawabnya. Tuhanlah yang akan menjawab. Karena pada setiap kita juga patut jadi sasaran pertanyaan tadi. Siapapun makhluk berakal akan diminta pertanggungjawaban, jin kah ia atau manusia.

Mari kita fahami Ahok sebagai kategori. Ia jenis manusia khusus yang hendak memberontak pada kemunafikan. Ia bukan Cina sembarang Cina. Ia bukan Kristen sekedar Kristen. Ia bukan seberang (ora jawani) sekedar sebrang. Ia bukan politisi sekadar politisi. Ia bukan eksekutif sembarang eksekutif. Ia sebuah Kategori Anti-Munafik.

Rakyat Indonesia sekian lama ditakuti hantu SARA. Suku itu apa. Agama itu apa. Ras itu apa. Antargolongan itu apa. Definisi Golongan saja setiap kita angkat bahu, tidak tahu. Yang kita tahu golongan darah dan golongan karya. Definisi Ras, ada ras Mongoloid ada Austronesia, sehari-hari tak populer di rakyat kita. Kita lebih familier dengan ayam ras.
Tak ada masalah juga dengan suku, setiap orang tak bisa ajukan proposal kepada Tuhan untuk lahir dari ibu suku apa. Agama juga sebenarnya bukan untuk ditakuti. Itu wahyu Ilahi untuk melengkapi keterbatasan akal dalam menemukan kesejatian. Ahok Sang Pengusir hantu-hantu itu. Cina, Kristen, berani menantang kemunafikan terkumpul dalam dirinya, sehingga ia ibarat magnet yang menyedot semua jiwa yang mengidap kemunafikan untuk menentangnya.

Ahok adalah sebuah kategori jiwa yang merdeka. Yang dapat mengesampingkan aksiden yang melekat pada dirinya. Ia kategori untuk jiwa yang berani melawan arus untuk sesuatu yang ia yakini benar. Meski ia harus belajar untuk lebih mendinginkan mulutnya, agar kekurangannya tak dijadikan celah musuhnya untuk membuat kegaduhan.

Bung Cebong :
Nilai apa yang Kang lihat dari sosok Ahok?

Kang Mat :
Ia adalah jiwa yang menjadi antitesis untuk melawan gelombang kemunafikan yang melanda bangsa ini. Ia berani menampilkan jiwanya tanpa takut diserang. Di peristiwa Demo 212 yang melumpuhkan Jakarta jiwanya menjadi sasaran utama, tapi masa sulit itu ia hadapi berikut penjara. Filmnya ditonton orang banyak yang ingin mengatahui perjalanannya. Meski semua itu kita harus tetap waspada, karena kisah ini masih terus berlanjut bagaimana kesudahannya. Kita juga sedang menunggu penempatan yang akan diberikan pada sosok Susi Pujiastuti. Kategori ini setidaknya jadi hiburan ditengah politik kawin yang serba mahar untuk partai.

Dul Kampret :
Emang elit kita ada berapa kategori Kang?

Kang Mat :
Surat Alfatihah menyampaikan paradigma tiga kategori manusia : Shirat Al mustaqim, Maghdub Alaih dan Dlollin. Manusia dijalan kebenaran, yang dibenci Tuhan (Iblis) dan awam yang disesatkannya. Mazhab Funding father, proxy dan korban hoax. Rakyat sedang menunggu lima tahun kedepan apakah cukup tersedia orang baik yang berani mendobrak kemunafikan yang telah mentradisi ini.

Santri Kalong :
Orang seperti Ahok cenderung ada karena dilahirkan atau by insiden. Bisakah bangsa kita menciptakan sistem pendidikan dan pengajaran yang dapat melahirkan manusia jujur by desain?

Kang Mat :
Pasti bisa. Sumber utamanya kesepakatan agung menifesto filosofis yang diridhai Allah bernama Pancasila.
Kita harus detox semua pemikiran keliru kita selama ini dalam perjalanan sebagai bangsa. Revolusi mental itu harus jelas. BPIP harus jelas. Pendidikan Pancasila yang mau dihidupkan lagi di sekolah sebagai nomenklatur mata pelajaran harus jelas.
Materi ajar harus berupa ilmu filsafat Pancasila. Sebagai materi didik, sistem pendidikan nasional harus mampu menciptakan lingkungan yang menghidupkan kebangsaan, peradaban dan ketauhidan. Pendidikan nasional harus menjadi penetasan atau persemaian tumbuhnya jiwa manusia Indonesia dengan delapan sisi : manusia tauhid, manusia peradaban, manusia kebangsaan Indonesia, manusia pemegang daulat, manusia pemilik suara, manusia rakyat, manusia pemimpin, dan manusia penerima keadilan sosial. Stop dengan kelatahan-kelatahan yang hanya buang waktu saja. Bangsa ini harus terus menerus menerjemahkan Pusaka Pancasila warisan leluhurnya tiada henti menuju keseksamaan.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Wednesday, November 20, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: