Ahlul Hadits

ilustrasi

Oleh : Fauzan Inzaghi

Mengapa dalam aqidah Aswaja ada mazhab asya'riyah, maturidiyah dan ahlul hadis? Siapa sebenarnya mereka?

Dulu jaman-jaman baru belajar aqidah, kita minta pada syeikh hasan alkhiyami untuk membaca kitab kubra yaqiniyat, beliau menyetujuinya, tapi sebelum itu beliau bilang kita baca epistimologi dan metodelogi penelitian ilmiyah yang dipakai muslim terlebih dahulu, agar mudah memahami kubra yaqiniyat, salah satu pembahasan yang paling penting disana adalah pembahasan masadir makrifah(sumber pengetahuan), dalam ilmu keislaman bahkan non-keislaman(ilmu pengetahuan secara mutlak) secara garis besar ada 4 sumber pengetahuan penting yang biasanya membuat manusia dari "tidak tau" menjadi "tau", 4 sumber ya bapak-bapak bukan 4 istri, tolong fokus ckckck. Ke 4 empat sumber itu antara lain:
1. Akal atau logika atau rasio
2. Tajribah hissy atau pengalaman indrawi atau empiris
3. Khabar sahih atau berita yang benar
4. Ilham atau kasyaf atau intuisi

Sebenarnya ada beberapa sumber lain, tapi sangat lemah seperti insting, indera batin, dll. Bahkan untuk "ilham" sendiri walaupun hasilnya kadang bisa lebih kuat dari sumber yang lain, tapi karena sulit dijelaskan untuk orang lain tapi sebagai hujjah pada orang lain sangat lemah. Tapi diwilayah dzauqy(kenikmatan batin) sumber "ilham" sangat penting. Adapun akal, tajribah atau khabar sahih maka hujjahnya sangat kuat.

Nah dengan menggunakan empat sumber pengetahuan inilah ulama muslim menjelaskan aqidah pada umatnya, masing-masing sesuai dengan orang yang cocok. Ada yang cocok dijelaskan dengan akal maka ulama akan menjelaskan akidah secara logis. Ada orang yang suka merenungkan apa yang dia lihat dari alam semesta maka ulama akan menjelaskan dengan memperbanyak pembahasan tajribah hissy. Ada yang lebih cocok dengan penjelasan rasul setelah dia mempercayai bahwa Muhammad itu Rasulullah SAW maka akidah dijelaskan dengan memperbanyak dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Ada juga orang yang menikmati sebuah rasa dari perjalanan spritual, maka yang cocok baginya setelah mempelajari dasar aqidah maka tahap selanjutnya aqidah dijelaskan dengan pengalaman spritual dan ilham agar hatinya dipenuhi cahaya iman. Kalau pengalaman patah hati entar aja certianya mblo :p

Adanya berbagai kecenderungan ini dalam diri manusia, maka membuat para ulama merasa perlu menulis aqidah untuk memenuhi kebutuhan umat sesuai kecenderungan diri setiap manusia, bahkan penulis aqidah ini sendiri sebagai manusia juga memiliki kecenderungan yang sama dalam berfikir, maka dia akan condong kesalah satu dari 4 sumber tadi. Dalam menulis pun kecenderungan itu ada. Ini akhirnya membuat mereka mempunyai maslak yang berbeda dalam menulis kitab akidah walaupin sebenarnya isi ushul mazhab aqidahnya sama, hanya dalil yang diberikan saja lebih banyak memakai salah satunya. Ini yang kemudian menjadi madrasah atau mazhab dalam penulisan aqidah ahlussunah wal jamaah. Empat mazhab ini sesuai dengan sumber utama yang kita sebut diatas.

1. Yang mempunyai kecenderungan banyak memakai akal sebagai dalil utama dalam menjelaskan aqidah, mereka dikenal sebagai mazhab mutakalimin, ada dua madrasah besar didalamnya yang pertama madrasah maturidiyah, diantara buku yang penting dalam mazhab ini adalah musamarah, tabsiratul adillah, sahaif ilahiyah, dll. Kedua madrasah asyariyah ada dua manhaj dalam mazhab ini, timur dan barat, diantara buku penting asyariyah dibarat itu silsilah sanusiyah, iqtishad, dll atau madrasah asyariyah timur tawali, almawaqif, almaqasid dll. Atau yang terbaru manhaj mutakalimin kontemporer seperti kubra yaqiniyat. Disini mereka memakai sumber lain seperti nash, juga hanya saja tidak sebanyak dalil akal, kadang hanya untuk menguatkan dalil akal. Bagi yang mempunyai kemampuan berdebat, atau menyukai ilmu aqliyat dan mengenal berbagai macam aqidah maka mazhab ini samgat cocok untuk mereka, bahkan untuk dasar aqidah bagi yang sudah matang berfikir atau santri yang ingin memperdalam ilmu agama maka yang paling bagus untuk diajarkan biasanya adalah mazhab ini, karena membuat seorang mempunyai pondasi berfikir yang jelas dan terarah.

2. Yang mempunyai kecenderungan banyak memakai khabar sahih darii nash alquran dan sunnah dan atsar salaf dalam menjelaskan aqidah, mereka dikenal sebagai mazhab atsariyah atau ahlul hadis, karena memang dalil utama yang paling banyak dalam menulis buku dalam madrasah ini dipenuhi nash atau teks suci dari atsar dan hadis. Mereka sangat menekankan pentingnya riwayat sebuah nash dan memahami lafaznya seacara bahasa dan kaidah besar yang benar. Madrasah dari mazhab ini yaitu hanabilah(fudhala hanabilah) diantara buku yang banyak dipakai adalah luma al i'tiqad, mukhtasar nihayatul mubtadiin, ainul atsar, dll. Disini mereka juga memakai sumber lain sebagai dalil seperti akal, hanya tidak sebanyak dalil dari nash, kadang hanya untuk menguatkan dalil dari nash saja. Kita akan jarang mendapatkan terminoligi mutakalimin yang ribet disini. Orang yang menyukai ilmu manqul (hadis, qiraat, dll) dan gak terlalu suka debat sama yang diluar mazhab, maka biasanya sangat cocok diajarkan mazhab ini. Kalau belum cocok juga berarti memang nasib, usaha terus sampai dapat pendamping yang cocok, lho bahas apa ini?

3. Yang mempunyai kecenderungan banyak memakai pengalaman dan pengetahuan spritual dalam menjelaskan Aqidah baik ilham yang datang pada dirinya sendiri atau dari pengalaman orang lain, baik kasyaf yang ada dalam nash atau bukan. Mereka dikenal dengan mazhab dzauqiyah, madrasah dari mazhab ini terkenal dengan madrasab sufiyah atau madrasah tasawuf sunny. Diantara buku yang terkenal dijadikan kurikulum mazhab ini adalah anwar ilahiyah karya nabulsi, syarah aqidah ghazaliyah karya syeh zaruq, qawaid kasyfiyah dan jawahir karya imam syarany, futuhat makkiyah karya Syaikhul akbar, dll. Disini mereka juga memakai sumber lain seperti akal dan nash, hanya saja tidak sebanyak dalil ilham atau dzauqy., Kadang hanya untuk menguatkan saja. Orang yang suka dengan perjalanan spritual atau yang hatinya sangat keras, maka biasanya sangat cocok diajarkan mazhab ini.

4. Yang mempunyai kecenderungan pembahasan tajribah hissy atau pengalaman inderawi, biasanya adalah orang awam, sedangkan yang menjelaskannya adalah ulama dari 3 mazhab diatas, makanya gak ada mazhab khusus, karena memang penjelasan ini untuk orang awam, tapi jangan menganggap remeh masalah ini, karena kabanyakan manusia paling mudah memahami metode ini, ayat alquran sendiri secara dilalah ibarah paling banyak memakai metode ini, walaupun jika direnungkan lebih secara isyarat maka akan kita dapatkan metodelogi mazhab lain. Sekali lagi tajribah disini hanya sebagai dalil utama dalam menjelaskan adapun dalil lain adalah menguatkan. Dianatara buku yang penting dalam mazhab ini adalah yang klasik kayak hikmah fi makhluqatillah karya imam Al-Ghazali, kalau yang kontemporer islam yatahadda karya Wahiduddin khan. Khutbah Jum'at atau pengajian umum atau saat berbicara dengan awam ilmu agama, maka memakai mazhab ini biasanya adalah yang paling cocok untuk menjelaskan aqidah.

Jadi akhirnya madrasah ahlusunnah dalam aqidah dikenal 4 mazhab ini asyariyah, maturidiyah, hanabilah dan sadatuna sufiyah sedangkan metodelogi tajribiyah tidak menjadi madrasah hanya menjadi salah satu metode penulisan aqidah, karena sasarannya awam dan yang menjelaskan adalah madrasah lainnya. Tapi mempunyai salah satu kecenderungan pada salah satu sumber pengetahuan tadi bukan berarti menafikan sumber lainnya. Sumber lain juga dipakai tapi gak seluas sumber primer. Karena pada akhirnya gak ada mazhab aqidah yang gak memakai ke 4 sumber diatas, hanya saja sumber primer saja yang sesuai kecenderungan diri.

Dan uniknya ke 4 nya itu gak saling bertentangan bukan hanya di ushul aqidah tapi juga dalam ushul mazhab aqidah. Karena yang menciptakan akal adalah yang menurunkan nash(quran dan sunnah), Dia juga yang memberikan ilham dan menciptakan alam semesta yang bisa kita amati dengan indera kita, semua dari sumber yang sama,makanya tidak saling bertentangan. Walaupun karena perbedaan metode akan melahirkan beberapa perbedaan dalam furu(sekali lagi FURU MAZHAB), walaupun tidak bermasalah dalam ushul mazhab, seperti perbedaan asyari maturidi dalam masalah kasb, atau perbedaan tafwidh dan takwil antara asyairah dan hanabilah, masalah wahdatul wujud antara mutakalimin dan sufiyah, dll. Contoh ulam yang menulis perbedaan hanabilah-asyairah adalah sidi abdul ghani nabulsi, sedangkan ibnu kamal basya perbedaan asyariyah-maturidiyah . Perbedaanny dikit kom, belasan aja. Kalau beda pendapat dalam menentukan tanggal pernikahan, bukan mazhab aqidah itu mah cuma butuh musyawarah keluarga. Hahahaha

Jadi jangan aneh bila ada yang memiliki kecenderungan pada atsar tapi dia dibesarkan dari madrasah akal seperti asyairah maka dia beraqidah mutakalimin dengan manhaj ahlul hadis seperti imam baihaqi, ibnu hajar, sayuti, dll beliau menjelaskan aqidah asyairah dan qaul dengan manhaj atsariyah seperti dalam kitab alhidayah ala sabilil rasyad(penulisnya imam baihaqi yang bermazhab asyary), atau aqidah tahawiyah(penulisnya maturidi), dalam kitab ini walau yang mereka jelaskan itu aqidah asyairah yang dicapai dengan metode mutakalimin tapi mereka disini menjelaskannya dengan gaya ahlul hadis tanpa masum keistilah ribet mutakalim, Ini yang menafsirkan kata sebagian ulama ahlul hadis itu asyairah dan maturidiyah juga ya ini maksudnya. Mereka ini ahlul hadis asyariyah dan maturidiyah. Makanya atsariyah kadang gak disebut ketika sebagai mazhab ahlussunah, karena udah rangkap.

Begitu juga dengan seorang yang besar di madrasah hanabilah tapi mempunyai kecenderungan berfikir seperti mutakalimin, akhirnya dia menjelaskan mazhab hanabilah dengan metode mutakalimin, seperti kitab syarah safariniyah, kitab yang membela pendapat madrasah hanabilah seperti tafwidh dalam ayat mutasyabihat dan dijelaskan semua qaulnya dalam mazhab hanabilah atau mazhab lain, tapi hujjahnya memakai istidlal mutakalimjn, mereka inilah mutakalimin hanabilah, mutaakhirin hanabilah sangat banyak tipe ini. Begitu juga seorang yang besar dari madrasah asyairah tapi memliki kecenderungan berfikir seperti dengan latar belakang pengalaman spritual sebagaimana dalam madrasah tasawuf, seperti yang dilakukan ibnul marah dalam kita syarah irsyadnya, mereka inilah yang disebut mutakalimin(asyairah) sufiyah, selain karena maslak kasyaf dan ilham gak bisa jadi hujjah untuk orang lain, keberadaan asyairah sufiyah yang sangat banyak pada mutakhirin ini juga yang membuat kadang mazhab mereka ga disebut. Dan qiyaskan selebihnya dalam mazhab yang lain. Pada akhirnya madrasah dalam ilmu aqidah aswaja itu dibagi 4 asya'riyah, maturidiyah, atsariyah dan sufiyah, semuanya ahlussunah wal jamaah

#ilmukalam

Sumber : Status Facebook Fauzan Inzaghi

Sunday, February 23, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: