Ahli Dari Indonesia Rancang Kehidupan Di Mars

Ilustrasi

Oleh : Made Supriatma

Vera Mulyani memang lahir di Jakarta. Tapi Planet Mars memanggilnya. Maka dia pergi ke tempat dimana mimpinya bisa terwujud. Dan itu bukan dinegaranya. Tapi di California. tepatnya di Gurun Mojave.

Dia adalah seorang arsitek. Dia memakai istilah "Marschitect," seorang yang merancang bagaimana manusia bisa hidup di Mars.

Hidup di Mars bukan impian. Itu akan segera menjadi kenyataan. Manusia sedang merancang semua teknologi yang diperlukan. Orang seperti Vera Mulyani membantu mewujudkan itu.

Kau bangga bahwa ada orang Indonesia mau melakukan itu? Tunggu dulu. Sebaiknya kau bersedih.

Negerimu tidak mampu memberikan kepada orang seperti Vera Mulyani kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Itu yang harus kau pikirkan.

Orang seperti Vera Mulyani membutuhkan kebebasan untuk mewujudkan kreativitasnya. Dia tentu tidak ingin diukur oleh apakah moralnya baik hanya karena dia bercelana pendek. Dia tidak ingin dihujat hanya karena mengenakan baju dengan belahan dada agak lebar. Dia ingin merasa nyaman akan apa yang dia pakai.

Apakah itu mempengaruhi kreativitasnya? Jelas! Caramu menghakimi orang tidak akan pernah melahirkan kreativitas apapun. Kalau kau mengukur hidupmu hanya dengan surga dan neraka maka yang kau dapat adalah surga dan neraka -- yang datang sesudah kau mati bukan di saat kau hidup. Dengan begitu, tak heran jika kau tidak akan pernah mampu membuat kancing bajumu sendiri!

Kalau kau tahu, ancaman terbesar untuk sebuah bangsa bukan datang dari penaklukan militer. Itu cara primitif untuk berkuasa.

Ancaman terbesar untuk sebuah bangsa adalah ketika orang-orang cerdas dan kreatif meninggalkan negaranya, pergi ke tempat dimana dia bisa berkreasi. Itu disebut 'brain drain.' Bahkan 'brain drain' lebih berbahaya daripada pelarian modal!

Kau tahu, negeri Cina yang kau kutuki saban hari itu, berusaha menarik semua "otak yang lari dari negerinya" dan memberikan keleluasaan untuk mengembangkan kepandaiannya? Kau lihat hasilnya?

Kau memberikan otak seperti Bahar Smith tumbuh subur di negeri ini. Kau menyibukkan otakmu dengan menghantam kaum LGBTQ. Sedemikian obsesifnya kau terhadap sex, bahkan sedikit gambar bahu di TV-TV-mu harus kau kaburkan!

Hanya orang-orang lemah tapi haus sex yang takut terhadap sex. Sebegitu hebatnyakah bahu dan dada sehingga membuatmu kelaminmu basah atau ngaceng?

Lebih serius lagi: Tidakkah kau merasa terhina; karena derajatmu sebagai manusia direndahkan hanya sebagai binatang haus seks? Jika tidak, mengapa kau biarkan para komisioner itu menentukan kapan kelaminmu harus basah atau ngaceng?

Dengan berlaku seperti itu, sesungguhnya kau bersyukur bahwa orang seperti Vera Mulyani harus minggat mencari kesempatan lebih baik di negeri yang mampu membuatnya berkembang.

PS. Saya tidak mengenal Vera Mulyani. Semua pandangan saya ini adalah interpretasi saya sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan Vera Mulyani. Namun saya menghargai setinggi-tingginya karya dan dedikasinya untuk mengembangkan kehidupan umat manusia di Planet Mars.

Sumber : Status Facebook Made Supriatma

Sunday, December 16, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: