Ahli Bahasa dari UI: Surat Al Maidah Tidak Berbohong Hanya Dijadikan Alat Untuk Membohongi

REDAKSIINDONESIA-Untuk mendapatkan kejelasan dari sisi bahasa mengenai kalimat pidato Basuki Tjahaja Purnama atau akrab dipanggil Ahok, di Kepulauan Seribu apakah termasuk penodaan agama atau bukan, pada sidang ke-15 hari ini (21/3/2017) Tim Penasihat Hukum BTP menghadirkan Ahli Bahasa yaitu Prof.DR. Rahayu Surtiati.

Berikut beberapa keterangan/pendapat yang disampaikan oleh Ahli dalam persidangan dan menjadi hal yang sangat penting antara lain adalah :

Ahli berpendapat kalimat yang diucapkan Ahok pada pidato di Kepulauan Seribu terkait Al-Maidah 51 merupakan suatu ungkapan pikiran yang ditunjukan dari perkataannya dimana Ahok konsisten menjelaskan mengenai program perikanan dari awal hingga akhir (walaupun ada sisipan cerita tentang surat Al Maidah), yang didalamnya juga terdapat ungkapan perasaan bersemangat dilihat dari nada intonasinya.

Ahli menyatakan pidato Ahok lebih dominan merupakan ungkapan pikiran berkaitan dengan program budidaya ikan kerapu.

Terkait dengan kalimat pidato yang diucapkan Ahok di Kepulaua Seribu, Ahli menerangkan sebagai berikut :

“Jadi, saya ingin cerita, ini supaya bapak ibu semangat. Jadi enggak usah pikiran” ah, nanti kalau enggak kepilih pasti Ahok programnya bubar.” Enggak, saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang.”Menurut Ahli kalimat tersebut adalah Program perikanan tetap terselenggara karena Ahok Gubernur hingga Oktober 2017. Jadi pada saat itu Ahok bukan berkampanye untuk dirinya tapi untuk program ikan.Kalimat “jadi jangan percaya sama orang.”, Menurut Ahli bermakna gosip atau desas-desus. Dimana kalimat tersebut menjelaskan bahwa hanya orang yang berbicara tersebut lah yang dapat menjelaskan sendiri apa yang dikatakannya.Ahli berpendapat bahwa KALIMAT DALAM PIDATO AHOK DI KEPULAUAN SERIBU TIDAK DAPAT DIKATEGORIKAN SEBAGAI MENISTA, PENODAAN DAN PENGHINAAN.

Ahli menyampaikan bahwa dalam pidato Ahok pengertian “jangan percaya sama orang” disini adalah orang bukan ulama, dan ucapan Ahok tersebut adalah berdasarkan buku Ahok yang berjudul “Merubah Indonesia” dan pengalaman masa lalu Ahok, karena didahului dengan kata-kata “jadi saya mau cerita”.

Berdasarkan keilmuan ahli secara linguistik, ahli menjelaskan, bahwa dalam pidato Ahok jelas maksudnya ialah untuk memberikan motivasi kepada masyarakat Kepulauan Seribu yang sedang mengikuti program budidaya ikan kerapu.

Menurut Ahli, Ahok menggunakan kata “Pakai” pada kalimatnya sehingga Surat Al Maidah tidak berbohong dan hanya dijadikan alat untuk membohongi orang lain, kecuali ia memakai kata “merujuk” itu baru mengatakan Al Maidah berbohong. **

Sumber : jakartaasoy

Thursday, March 23, 2017 - 13:30
Kategori Rubrik: