Agus Yudhoyono ,Pemimpin Sejati Tak Butuh Debat di Televisi

Seandainya Anda di panggung itu, joget PPAP Anies-Sandy pasti akan terlihat culun karena gerakan badan Anda jauh lebih luwes dan enak dilihat dan serbapantas. Apalagi jika Anda mempraktikkan selancar panggung di sana, di stasiun televisi nasional, disaksikan jutaan pasang mata, secara langsung, tak akan ada yang tidak terpana. Anda akan menyihir seluruh rakyat Indonesia.

Seandainya Anda menghadiri acara debat itu, suara Djarot yang coba-coba berduet dengan Tompi akan terdengar seperti gilingan padi, dan nyanyian Anies-Sandy akan terbanting sampai ke dasar sumur bor, karena suara Anda jauh lebih melengking sampai ke langit tinggi. Di berbagai kesempatan Anda telah membuktikan bahwa Anda penyanyi yang amat-sangat mumpuni, bahkan melampaui kemampuan Pepo yang sudah menelurkan empat album.

Seandainya Anda datang ke studio Kompas TV tadi malam, komedi berdiri Ahok-Djarot tentu bakal garing karena pidato Anda jauh lebih menghibur dan menyenangkan. Anda akan jadi bintang, semakin dielu-elukan, tapi Anda begitu rendah hati dan memilih memberikan panggung kepada dua kandidat yang lebih tua. 

"Saya tidak hadir, masih dengan rakyat. Saya masih di sini. Saya memilih untuk menyibukkan diri bersama rakyat, mendengarkan langsung aspirasi masyarakat," kata Anda di Cipete, beberapa jam sebelum acara debat tak resmi itu, menerbitkan haru semua orang di sekeliling Anda.

"Saya ingin bersama rakyat." 

Anda betul-betul penjelmaan pemimpin yang kuat hati, tidak mudah tergoda sorot kamera, dan selalu ingin menempel dengan dengan rakyat seperti besi kepada besi berani. Anda tak ingin dipisahkan dengan rakyat hanya karena pihak swasta yang genit bikin acara debat-debatan.

Anda tak peduli Twitter dihujani tagar #AgusTakutDebat dan orang-orang memberondong Anda dengan julukan-julukan merendahkan: pengecut, pecundang. "Beraninya cuma lompat-lompat saja. Sangat tidak cucok untuk memimpin DKI," kicau @Jovita_SHN, disertai meme bertuliskan #BeraniLompatTakutDebat.

Anda paham betul apa yang namanya keberanian dan keprajuritan dan itu tidak ada hubungannya dengan adu wicara. Anda lebih tahu mana yang harus dijadikan prioritas. Pertemuan dengan warga DKI di atas segalanya, debat calon yang harus diikuti ya hanya yang wajib dari KPUD pada Januari dan Februari nanti. Dua debat televisi, di Net TV dan Kompas TV, tak lebih dari kosmetik belaka.

Anda sudah mempertimbangkan masak-masak dan sangat mengerti konsekuensi dari kehadiran atau ketidakhadiran di acara-acara televisi bersama calon-calon saingan. Dan Anda bersama wakil Anda, Sylviana Murni, memilih tak datang ke debat yang tidak perlu. 

Sebelum dua debat itu, Anda juga tak datang di acara ulang tahun Mata Najwa ke-7 yang mengundang semua pasangan calon Pilkada DKI Jakarta. Selain Tuan Rumahnya pernah memberondong Anda dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan, perhelatan itu sungguh tak penting sama sekali. Cuma selebrasi. Jauh lebih bermaanfaat bergerilya di tengah warga, berinteraksi dengan konstituen, mencatat dengan baik harapan-harapan mereka dan mendengarkan masukan-masukan untuk membangun Jakarta yang lebih baik.

Najwa Shihab memang menyebalkan. Tidak membiarkan narasumbernya menarik napas panjang adalah bakat yang dikembangkannya sejak lahir dan itu menjadi semacam hobi baginya. Ia dan timnya adalah orang-orang kepo lebay yang suka menggali-gali bangkai rekam jejak dan ucapan para narasumbernya dan menggunakan bahan-bahan itu sesuka hatinya. Reputasinya bikin bulu kuduk banyak politisi berdiri.

Seperti Anda lihat dengan mata kepala dan alami sendiri, dalam episode "Bertaruh di Jakarta", Si Mbak Nana ini seolah tak pernah kehabisan jurus untuk membuat tamunya dongkol. Setelah pertanyaan "Apakah keputusan ini memang langkah mempersiapkan Anda menjadi dinasti penerus Cikeas?" dapat Anda jawab dengan kalem, ia bertanya lagi, "Tapi Anda bisa masuk dalam kompetisi, itu kan tidak ujuk-ujuk. Anda bisa mendapatkan tiket paling mahal di politik yang paling seksi di Indonesia, itu karena Anda putra Ketua Umum Partai Demokratkah?" dan lagi, dan lagi, dan lagi.

Puncaknya, nekat-nekat ia menanyakan, "Kalau kemudian Anda bukan anak mantan presiden yang sekarang ketua umum parpol, apakah kira-kira ada yang mencalonkan Anda, Mas Agus?"

Jawaban Anda tepat sekali. "Menurut Anda, gimana?" kata Anda, dengan senyum lebar lalu membuka kedua belah tangan. 

Najwa sepertinya tak menduga Anda justru balik menyerang sehingga ia tak punya pernyataan lain selain "Saya bertanya."

"Menurut Anda?" 

"Kira-kira?"

"Coba, menurut Anda gimana?" ujar Anda sekali lagi, sambil memegang tangkai gelas air minum yang disediakan panitia di atas meja. Penonton bertepuk tangan, beberapa malah bersorak dan tertawa. "Menurut Anda, bagaimana? Apakah saya pantas, atau tidak, menurut Anda bagaimana?" 

"Yang akan menjawab pantas apa tidak tentunya rakyat." Ia akhirnya menjawab sementara Anda mengangkat gelas dan minum kopi dari gelas itu satu teguk. "Tapi apakah jika SBY..."

"Tentu itu juga," kata Anda lagi, sebelum ia sempat menuntaskan pertanyaan lanjutan, "Sehingga saya tidak bisa menjawab 'apakah hanya karena anak SBY saya diajukan sebagai calon', biarlah rakyat yang menjawab, Mbak."

"Pada saat kompetisi nanti," ujarnya, masih ngotot tak mau kalah. "Tapi berarti Anda mengakui dapat tiket VIP untuk langsung masuk kompetisi?"

"Tidak demikian."

Dengan pengalaman begitu, wajar bila Anda ogah datang ke pesta ulang tahunnya dan acara-acara sejenis yang kelewat banyak tanya. Lagi pula, menurut rilis terakhir Lembaga Survei Indonesia, Anda lebih disukai warga Jakarta ketimbang dua calon lain. Siapa yang butuh debat televisi jika sedang di atas angin?

Jalan-jalan ke Tanah Abang
Jangan lupa beli sepatu
Kurangi debat-debat
Perbanyak selawat **

 
Sumber : tirto.id
Friday, December 16, 2016 - 15:00
Kategori Rubrik: