Agus Lennon (20 Agustus 1960-10 Januari 2020)

ilustrasi

Oleh : P Hasudungan Sirait

AKTIFIS TULEN, PENERBIT TERKEMUKA BUKU-BUKU KIRI

Perlahan tapi pasti, berpulang sudah satu demi satu aktifis angkatan 1980-an. Nuku Sulaiman, Amir Husin Daulay, Ahmad Taufik, Ging Ginanjar, Aa Sudirman, Muhammad Yamin, dan Muhammad Abduh Aziz, antara lain yang telah tiada. Tiga hari lalu giliran Agus Edi Santoso (Agus Lennon) yang menyusul, akibat sakit jantung. Belum sepuh sesungguhnya mereka, paling kepala 5.

Terkait dengan pergerakan politik kebangsaan, negeri kita melahirkan beberapa angkatan aktifis dalam sepanjang sejarahnya. Zaman Hindia Belanda menghasilkan Angkatan Sumpah Pemuda (’28) dan ’45. Era Orde Lama memunculkan Angkatan ’66 (mereka yang ikut menumbangkan Presiden Soekarno).

Lantas, masa Orde Baru yang 32 tahun melahirkan sekaligus 3 angkatan: ’70-an (gerakan yang berpuncak pada Peristiwa Malari tahun 1974 serta penolak Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan [NKK/BKK, 1978]), ‘80-an, serta ‘98 (yang menggulingkan Presiden Soeharto).

Angkatan ‘80-an berkiprah di saat Presiden Soeharto sedang di puncak kejayaannya. Rezim Orde Baru hegemonik betul saat itu karena telah berhasil memonopoli kekuasaan dengan menggunakan mesin politik yang luar biasa dayanya: Golongan Karya (partai yang tak mau disebut partai), ABRI (kalau di zaman sekarang: TNI plus Polri), dan birokrasi.

Begitupun, tetap saja penguasa alergi terhadap kritik. Siapa pun yang menyoal, apalagi sampai mencela, akan dilibasnya (meminjam istilah Panglima ABRI yang berkumis baplang, Jenderal Feisal Tanjung). Namun demikian, perlawanan terhadapnya tetap muncul di masa itu, termasuk dari kaum muda warga kampus.

Kebijakan NKK/BKK yang diberlakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef telah menghilangkan ruang bagi para mahasiswa yang kritis terhadap kekuasaan yang otoriter. Tersingkir, alhasil di luar kandang kemudian kaum intelijensia yang mengedepankan ‘moral force’ tersebut menyalurkan aspirasinya.

Ada dari mereka yang kemudian mendirikan kelompok studi. Tapi yang paling banyak adalah yang membentuk kelompok-kelompok advokasi. Mereka ini merajut jejaring dengan NGO-NGO terkemuka yang pentolannya umumnya tiada lain dari veteran aktifis mahasiswa.

Kedung Ombo, Kacah-Piring, Badega, Cimacan, dan Rancamaya antara lain ‘medan tempur’ dari aktifis P. Jawa yang memilih jalur praksis. Di sana rakyat digusur dari tanahnya, atas nama pembangunan. Hak orang-orang kecil itulah yang diperjuang para aktifis.

Gerakan pembelaan seperti itu tentulah tak disukai rezim. Gangguan terhadap stabilitas nasional, itu mereka persepsikan. Alas nalarnya memang ada.

Berazimatkan trilogi pembangunan, rezim Orde Baru. Prinsipnya, yang harus diprioritaskan adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta stabilitas (politik dan keamanan) yang senantiasa terjaga, sebagai syaratnya.

Adapun pemerataan hasil pembangunan, itu nanti saja dibicarakan kalau negeri ini sudah ‘gemah ripah loh jinawi’ (nyatanya hingga hari ini pun produk nasional bruto Indonesia, GDP, belum kunjung besar betul). Dengan nalar seperti itu maka siapa pun pengganggu pertumbuhan ekonomi dan stabilitas negara sah saja untuk ditindas-dilibas.

Dalam konteks perlawanan aktifis ‘80-anlah kedirian seorang Agus Lennon perlu dan pantas dibicarakan. Lelaki bertubuh agak bongsor ini bukanlah jenis demagog hebat atau pemimpin yang berpengaruh besar, sesungguhnya. Dirinya lebih merupakan pengait antar-mata rantai gerakan. Itulah kontribusi utamanya sebagai orang perlawanan.

Dikhotomi kelompok diskusi-aktifis jalanan tak tepat digunakan untuk mematut dirinya, sebab ia seorang pelintas batas-sekat. Artinya, kemana pun dia bisa masuk. kantong-kantong yang dijambanginya bertebar luas, melampaui kota-kota besar dalam negeri. Kelenturan dan kehangatan pembawaanlah modal utamanya sehingga dia diterima baik di kubu kiri maupun kanan.

‘DIE HARD’
Rezim Orde baru memberedel ‘Tempo’, ‘Editor’, dan ‘Detik’ pada 7 Juni 1994. Kejadian yang mengejutkan ini memicu reaksi keras pelbagai lapisan masyarakat di negeri kita. Aksi-aksi solideritas pun berlangsung di sejumlah kota dengan melibatkan seniman, budayawan, aktifis mahasiswa, akademisi, dan yang lain di samping wartawan sendiri.

Di Jakarta, Agus Lennon termasuk yang rajin bersuara dan turun ke jalan. Di masa itulah aku baru mengenalnya secara pribadi kendati kami berdua sebelumnya cukup acap bersua di pelbagai kesempatan, termasuk di acara-acara yang menghadirkan sastrawan utama Pramoedya Ananta Toer (Pram).

Kami lantas berinteraksi. Kesanku kemudian adalah: pria yang tadinya mengenakan kacamata bulat berbingkai tipis ‘a la’ John Lennon—sebab itulah ia kemudian lebih dikenal sebagai Agus Lennon daripada Agus Edi Santoso—tapi belakangan menggantikannya dengan yang bergagang hitam tebal yang terkadang, saat dirinya berujar, bisa melorot agak ke ujung hidungnya, adalah jenis ‘die hard’ meski tutur katanya lembut dan pembawaannya ‘kalem’.

Dia tak seperti Nuku Sulaiman dan Beathor Suryadi—2 pentolan Pijar yang merupakan kawan baiknya—yang bisa sangat garang dan bahkan dapat menghadirkan khaos saat di lapangan.

Pula, tak selantang Yeni Rosa Damayanti, aktifis perempuan terkemuka dari angkatan ’80-an, tatkala berorasi. Ia lebih menyerupai diplomat yang mengutamakan retorika dan pendekatan kemanusiaan. Kebetulan, humoris dia meski tak sejenaka anak Pijar lainnya, Tri Agus Siswomiharjo yang kini mendosen di Yogyakarta.

Kami menyatakan kelahiran Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 7 Agustus 1994. Beberapa pegiat organisasi perlawanan ini adalah kawan-kawan lama Agus Lennon di jarur gerakan. Stanley Adi Prasetyo, Dhia Prakasha Yoedha, Satrio Arismunandar, Roy Tumpal Pakpahan, Santoso, dan Imran Hasibuan (Ucok), di antaranya.

AJI beroleh simpati dari banyak kalangan waktu itu. Pada sisi lain, organisasi ini juga membuka pintu lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin bahu-membahu dengannya. Jadi, tak mengherankan jika dalam rapat-rapat yang kami langsungkan, baik di sekretariat maupun di luar, bisa 'nimbrung’ mereka yang bukan jurnalis.

Para pegiat Solideritas Perempuan dan Kalyanamitra, misalnya, ada kalanya ikut merapat. Mereka adalah sejawat dari Ati Nurbaiti dan Titi Irawati, feminis yang merupakan pendiri-pegiat AJI. Tati Krisnawati berkali-kali ikut bergabung. Terkadang ia disertai Agus Lennon, sosok yang memang dekat dengan para aktifis perempuan. Kalau aku tak keliru, waktu itu keduanya menjalin hubungan khusus.

Setelah Presiden Soeharto tumbang (21 Mei 1998), persuaanku dengan Agus Lennon menjadi jarang. Seingatku dia ada di antara para aktifis yang sedang bercengkerama di sebuah ruangan khusus di Hotel Indonesia yang disewa dr. Hariman Siregar saat aku ke sana pada sebuah malam di tahun 1999. Tokoh Malari itu memintaku datang untuk mempertanggungjawabkan laporan utama majalah kami, ‘D&R’, ihwal tim silumannya Presiden BJ Habibie.

Lalu, di tahun 2004, aku bertemu lagi dengan Agus Lennon di dekat eskalator Grand Indonesia. Saat itu ia bersama sahabatnya yang sedang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Mulyana W Kusumah (sudah almarhum juga). Waktu itu kami hanya sebentar bercakap.

Di saat dunia gerakan semakin lesu darah akibat reformasi politik yang luar biasa di negeri kita, kudengar kabar bahwa Agus Lennon kian sibuk bergiat di lapangan penerbitan buku. Dunia penerbitan memang sejak lama telah menarik hatinya.

TEPLOK PENYINAR PIKIRAN
Buah yang langsung nyata dari reformasi 1998 adalah kemerdekaan berekspresi di semua lapangan. Di dunia perbukuan, termasuk.

Pelarangan dan sensor merupakan mekanisme yang digunakan rezim Orde Baru untuk membungkam siapa pun yang tak disukainya. Kitab termasuk yang disasar, terutama yang dianggap bermuatan ajaran komunis atau yang diterbitkan oleh mereka yang berlatar atau bersimpati pada kaum kiri. Di antara semuanya, buku keluaran Hasta Mitra-lah yang paling sering dinyatakan terlarang oleh Kejaksaan Agung.

Hasta Mitra didirikan oleh 3 sekawan yang pernah menjadi tahanan politik: Pramoedya Ananta Toer, Hasjim Rachman, dan Joesoef Iskak. Setiap mereka meluncurkan karya Pram, Kejaksaan Agung pasti akan bereaksi keras. Beberapa hari atau minggu berselang, otoritas ini akan menyatakannya sebagai karya terlarang. Konsekuensinya, pantang untuk diperdagangkan, disimpan, dan dibaca,

Kalau pantangan dilanggar? Ganjarannya bakal berat. Lihatlah apa yang pernah dialami oleh aktifis Yogyakarta: Bambang Isti Nugroho, Bambang Subono, dan Bonar Tigor Naipoaspos (Coki). Mereka ditangkap dan diadili karena mengedarkan novel Pram (tetralogi).

Dituduh subversif, pada September 1989 Bambang Isti divonis penjara 7 tahun; Bambang Subono 8 tahun. Adapun Bonar Tigor yang ditangkap setahun berselang (Juni 1989), ia diganjar 8,5 tahun. ‘Kids zaman now’ kemungkinan besar akan menganggapnya absurd. Tapi, begitulah yang terjadi.

Dengan ganjaran seperti itu, pasti tak banyak orang yang berani mengoleksi, apalagi memperdagangkan karya Pram dan penulis kiri lainnya di sepanjang masa Orde Baru. Seperti narkoba akhirnya karya tersebut.

Di pasar loak Kwitang, umpamanya, karangan Pram, Tan Malaka (terutama ‘Madilog’), dan Marx-Engels-lah yang paling diburu kolektor bernyali besar (jumlah mereka sedikit saja). Kalaupun ada, terbitan itu sangat langka.

Di antara semuanya, ‘Madilog’-lah yang paling dicari sebab semisterius penulisnya: disebut-sebut orang tapi tak pernah tampak. Kalaupun ada, ia sebatas fotokopian yang dijual sangat mahal akibat keberisikoannya yang maha tinggi. Aku mengetahui persis hal itu sebab sempat belasan tahun berinteraksi erat dengan para pedagang di sana.

Sejak tahun 1999 keadaan sontak berubah betul. Buku-buku yang sebelumnya serba terlarang, mendadak bermunculan termasuk di toko-toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Salah satu pencetaknya yang paling bersemangat adalah Teplok Press yang didirikan Agus Lennon bersama seorang temannya di pertengahan 1999.

Teplok beralamat di Jl. SMEA VI Nomor 26, Cawang, Jakarta. Pendekatannya ‘indie’, seperti kebanyakan penerbit yang bermunculan di Yogya selepas tumbangnya Presiden Soeharto. Selera pribadi Agus Lennon yang merupakan direkturnya sangat mewarnai kitab-kitab yang dihasilkannya.

Terbitan perlawanan merupakan ‘mainan’ lama Agus Lennon sebelum mendirikan Teplok. Lewat Frantz Fanon Foundation yang ikut diurusinya, misalnya, itulah antara lain yang disebarkannya.

Bekerja sama dengan Yayasan Bentang Pustaka, lembaga ini kemudian, pada Februari 1999, membukukan skripsi Soe Hok Gie menjadi ‘Di Bawah Lentera Merah’. Isinya tentang perjalanan Sarekat Islam Semarang (1917-1920) yang berhaluan kiri.

Sejak lama Agus Lennon memang gandrung pada wacana Marxisme-Leninisme (kiri). Sebab itulah ia dinamai ‘Agus Lenin’ juga oleh lingkup pergaulannya.

Teplok memilih segmen kiri sebagai ladang garapannya, sedari awal. Cirinya yang khas, karya yang dihadirkannya senantiasa serba kakap. Itulah yang membedakannya dari yang lain.

‘Madilog’ karya terlangka yang pernah dilahirkan pemimpin Indonesia, mereka munculkan ke pasar pada Januari 2000. Bertebal 554 halaman, kitab itu mereka cetak ulang tahun itu juga, yakni pada April. Saat dicetak oleh Penerbit Widjaya tahun 1951, halamannya 410 saja. Teplok telah memutakhirkan ejaaan, selain memperbesar ‘font’-nya.

Mei 2000 Teplok menghadirkan karya Tan Malaka (nama aslinya adalah Ibrahim atau Datuk Sutan Malaka) lainnya yakni ‘Aksi Massa’. Gambar sampulnya dikerjakan Si Ong. Kelak Si Ong (Ong Hari Wahyu), bersama Buldanul Khuri—kawannya yang juga pemilik Bentang Budaya—akan dikenang publik sebagai peletak dasar rancangan sampul buku terbitan Yogya yang sangat khas.

Laksana hendak melampiaskan nafsu yang lama dikekang, pada Juni 2000 Teplok menyuguhkan karya langka Tan Malaka lainnya: ‘Dari Penjara Ke Penjara’ 3 jilid sekaligus. Tan Malaka menulis jilid 1 buku ini di Canton, Cina, tahun 1924. Pustaka Murba, Djogjakarta—beralamat di Jl. Purwanggan 15—yang mengenalkannya kali pertama ke publik dalam bentuk kitab.

Pengantar jilid 1 ditulis Tan Malaka pada September 1947 tatkala ia mendekam di penjara Ponorogo. Sedangkan introduksi jilid 3 dibuatnya di Yogyakarta pada Oktober 1948, atau tak lama setelah Perisitiwa Madiun (18 September) yang menggemparkan. Serupa dengan Musso yang merupakan saingannya, Tan Malaka tragis akhir hidupnya. Tokoh misterius yang piawai menulis ini dieksekusi prajurit Batalyon Sikatan (Divisi Brawijaya) di Selopanggung, Kediri, pada 21 Februari 1949. Makamnya di sana pernah kujambangi.

Seperti halnya Teplok—logonya adalah lampu semprong yang tampak sisi kirinya—Yayasan Massa (Jakarta) juga pernah menerbitkan ‘Dari Penjara ke Penjara’, yakni pada Oktober 1980. Fotokopiannyalah yang beredar di lingkungan kaum pergerakan tahun ’80-an dan ’90-an. Yayasan ini milik orang-orang Murba (singkatan dari Musyawarah Rakyat Banyak, partai yang didirikan Tan Malaka dan pengikutnya pada 7 November 1948).

Karl Marx tentu saja tak dilewatkan Teplok. Karya Anthony Brewer, diterjemahkan Sekjen Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Joebaar Ajoeb, menjadi ‘Kajian Kritis Kapital Karl Marx’. Teplok menerbitkannya pada November 1999. Mereka mencetak ulang buku ini pada April 2000, atau tak sampai setahun berselang.

Karya Joebaar Ajoeb sendiri tak diabaikan Teplok. ‘Mocopat Kebudayaan Indonesia’ dan ‘Gerakan Seni Rupa Modern Indonesia’ mereka tampilkan sekaligus di tahun 2004. Kala itu alamat yang mereka gunakan bukan lagi Jl. SMEA VI Nomor 26, Cawang, melainkan Jl. Arus Nomor 30, Dewi Sartika, Jakarta. Ya, masih kawasan Cawang juga…

Keberanian Agus Lennon dan kawan-kawannya yang menggerakkan Teplok nyata betul saat mereka memunculkan karya 2 tokoh penting PKI yakni pledoi Sudisman, ‘Kritik Oto Kritik Seorang Politbiro CC PKI’ (November 2000), dan karangan Nyoto, ‘Marxisme Ilmu dan Amalnya’ (Juni 2003).

Dengan terbitan ini tak syak lagi mereka telah melompat jauh untuk menjadi yang terkemuka dalam penerbitan wacana kiri di Tanah Air. Sampai hari ini kedudukan tersebut tak tergantikan. Apalagi sebelumnya mereka juga telah mempublikasikan ‘Che Guevara—Revolusi Rakyat’ (April 2000, sampulnya dikerjakan oleh Buldanul Khuri) dan ‘Kontradiksi Mao Tse-Tung’ (Oktober 2000).

HARIMAN SIREGAR
Sejak lama Agus Lennon dekat dengan Hariman Siregar, tokoh yang banyak membantu kaum aktifis—termasuk angkatan ’80-an dan sesudahnya—lewat dana topangan atau fasilitas berobat di rumah sakit Baruna di Cikini. Hariman yang memang progresif-revolusiner baik dalam pikiran maupun tindakan, menjadi hirauan Teplok juga (tak tahu aku apakah pentolan peristiwa Malari ini terlibat mendanai penerbitan mereka sekian lama, atau tidak).

Buku C. van Dijk tentang Hariman Siregar termasuk produksi Teplok Press, yakni ‘Pengadilan Hariman Siregar’ (Mei 2000) dan ‘Hariman Siregar, Gerakan Mahasiswa Indonesia’ (2013).

Karya mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas itu juga mereka kitabkan, yaitu ‘Hariman Siregar—Gerakan Mahasiswa Pilar ke-5 Demokrasi’ (Oktober 2001). Sebelum lupa: esok, 14 Januari 2020 adalah peringatan Peristiwa Malari tahun yang ke-46.

Banyak lagi karya yang dimasyarakatkan Teplok Press. Termasuk ‘Memahami Gender’ (Khamla Bhasin, terbit tahun 2001), ‘Anti Kapitalisme’ (Chris Karman, hadir pada 2003), dan ‘Kronik Irian Barat’ (Koesalah Subagyo Toer, 2011).

Jelas, publikasi Teplok Press serba terpilih berdasarkan ketinggian mutu dan kelangkaan. Warna diri Agus Lennon, terutama sebagai ‘Agus Lenin’, kental betul dalam khazanah tersebut.

Tanpa kusadari, sejak lama ternyata diriku juga termasuk penyuka dan pembeli produk-mereka yang terbilang setia. Kecuali ‘Anti Kapitalisme’ (Chris Karman) dan ‘Kronik Irian Barat’ (Koesalah), semua yang kusebut di atas masih kumiliki hingga hari ini. Fotonyalah yang ku-sken dan kutampilkan di postingan ini.

Euforia reformasi melanda negeri ini tak lama setelah Presiden Soeharto tumbang. Tak ada lagi yang pantang, buku-buku kiri (dan juga kanan) pun mucul sporadis di negeri kita ini. Selain Teplok Press, penerbit kitab berwacana Marxis-Leninis ini terutama berbasis di Yogya. LKiS, Pustaka Pelajar, Jendela, Resist Book, Galang Press, Insist Press, Syarikat Indonesia, Ombak, Gelombang Pasang, Tamboer Press, Marjin Kiri, CarasvatiBoooks, Freedom Pers, Penerbit Sumbu Yogyakarta, CEDI & Aliansi Press, Intan Asia, Yayasan Litera Indonesia, Oesaha Terbitan Radja Minyak, antara lain.

Di luar Yogya ada juga pemain sejenis, kendati jumlahnya tak banyak. Di antaranya adalah: Media Lintas Batas (Melibas), Pante Rei, Penerbit Pustaka Pena, Yayasan Pancur Siwah, Media Kita, Jaringan Kerja Budaya (JKB), BIGRAF Publishing, Fuspad, Yayasan Nuansa Cendekia (Bandung), Pustaka Promethea (Surabaya), selain pemain besar seperti Komunitas Bambu (Kobam) serta Gramedia dan anaknya: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Begitu banyak pun pemainnya, menurutku Teplok tetap yang paling istimewa. Sebabnya? Itu tadi: keterpilihan publikasinya, selain intensitasnya dalam menerbitkan. Di sinilah antara lain kebesaran seorang Agus Edi Santoso a.k.a [‘also known as’] Agus Lenin dan Agus Lennon. Tanpa terobosannya, kecil kemungkinan ada di pasaran karya-karya utama yang tak kurang dari 32 tahun diharamkan di negeri kita.

Akhirul kalam, Agus Lennon adalah penerbit terkemuka di lapangan kiri, selain aktifis yang bukan sepuhan. Beruntunglah Indonesia yang telah melahirkannya.

Selamat jalan, Gus yang baik, berani, dan kreatif….Kau pantas dihormati oleh siapa pun penentang penguasa yang lalim-zalim.

Sumber : Status Facebook P Hasudungan Sirait

Thursday, January 30, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: