Agnez Mo : I Grew Up Singing at Church

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

“Ya, itu sangat menarik karena Indonesia memunyai lebih dari… 18,000 pulau. Dan di setiap pulau kamu memiliki bunyi berbeda, pakaian tradisional yang berbeda, tetabuhan berbeda. Musik kami memiliki…, tahu nggak…, sangat beragam. Saya pikir, saya… tumbuh bersama itu. Tapi, enggh…, yang lucu adalah bahwa saya juga tumbuh dengan bernyanyi di gereja. Sehingga…, itu lebih seperti…, kamu punya musik dan seni tradisi tapi di saat yang sama kamu juga tumbuh besar dengan bernyanyi di gereja. Hal tersebut menjadi bagian dari diri saya. Karenanya itu bukan lagi sekadar representasi budaya tapi lebih menjadi inklusivitas budaya. Itu adalah sesuatu yang saya yakini.” (menit ke-6 wawancara Build Yahoo dengan Agnez Mo).

Anda paham apa yang Agnez sampaikan melalui pernyataan sekian baris di atas?

1. Dia meyakini inklusivitas sebagai panduan hidup.
2. Dia mengagumi kemaharagaman budaya Indonesia
3. Dia perempuan yang tumbuh dalam kegiatan gereja.

Itu doang?
Level kalian memang cuma segitu.

Perhatikan dengan baik bagaimana Agnez menjelaskan posisinya tentang “keberbedaan” kepada Kevan Kenney.

Pertama, Agnez bercerita tentang kemaharagaman Indonesia. Dia akui bahwa dia tumbuh bersama kebesaran Indonesia. Tapi di sisi lain dia juga tumbuh dalam kegiatan gereja dan bahkan merintis karir-bernyanyinya dari sana. Ketika menghubungkan 2 pointers ini Agnez menggunakan penyambung “funny”.

Funny bisa berarti lucu, bisa berarti “apa gitu”, bisa berarti “sedikit keanehan yang menyenangkan.” Dengan kata lain Agnez menyadari bahwa dunia tradisi—baik tenun, musik, dan macam-macamnya—gak nyambung dengan gereja, gak matching dengan Kekristenan. Demikianlah dia memahami relasi adat-istiadat suku dan gereja.

Sebagian orang Kristen malah bergerak lebih aneh. Mereka gak bersedia kalau anaknya mengikuti upacara kenaikan bendera di sekolah, serta melarang keras menghormat kepada Sang Saka. Itu di tingkat ekstrim.

Pada umumnya orang Kristen memang gagap dalam berhadapan dengan istiadat lokal. Bahkan ibu-ibu HKBP rada risih menjunjung aneka tanaman di kepala ketika manortor mengelilingi mayat seorang Ompung. Contoh-contoh lain bisa saya sodorkan dari berbagai suku tapi nanti bakal kepanjangan.

Dengan berpandangan bahwa adat dan tradisi sebetulnya tidak pantas bersanding dengan Kekristenan, saya wajar menduga bahwa Agnez berasal dari lingkungan Kristen konservatif. Ada pertentangan di dalamnya. Sebagian dari mereka yang bersuku Batak bahkan bertindak lebih jauh dengan membakar ulos serta tak bersedia hadir di acara adat.

Lalu, bagaimana Agnez menyikapi “pertentangan” itu?

Dia membiarkan kedua hal tersebut hidup di dalam dirinya. Artinya, meski Surga adalah upah bagi kehidupan bergereja, Agnez tak bersedia kehilangan kemaharagaman Indonesia. “Di keduanya itu saya berdiri,” tegas Agnez.

Jelas keindonesiaan Agnez Mo berada di tataran lebih tinggi daripada Fadli Zon dan semua yang nyinyir menggempur perempuan berusia 33 tahun itu kemarin. Saya gak tahu apa jadi penyebab. Kuota tipis, otak karatan, penguasaan bahasa Inggris 3 strip di bawah pas-pasan, atau apa lagi…, mbuh.

Lalu Kevan Kenney bertanya serius: “you are a little bit different than everybody else, huh?”

“Ya. Saya tidak punya darah Indonesia, apa pun itu. Saya sebetulnya Jerman, Jepang, dan Cina. Saya hanya lahir di Indonesia. Dan saya juga Kristen. Kamu tahu kebanyakan orang Indonesia beragama Islam. Jadi, saya selalu berada dalam keadaaan, enggh, ….kamu tahu…, saya, engh, saya…, saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa saya bukan bagian dari mereka…, karena saya selalu merasa bahwa mereka menerima saya apa adanya. Tapi selalu ada perasaan bahwa saya tidak seperti mereka.”

Melepaskan jawaban Agnez dari pertanyaan Kevan—seperti dipamerkan secara tolol oleh beberapa empunya warta—adalah kesesatan. Kevan minta penegasan bahwa Agnez sedikit berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan. Agnez mengonfirmasinya. Itu yang pertama.

Yang kedua, kita masih mendua untuk menetapkan apakah darah Cina bagian dari Indonesia atau bukan. Tapi jelas dan pasti kita bersepakat bahwa darah Jepang dan darah Jerman bukan bagian dari darah Indonesia. Karenanya, apa yang salah dari pernyataan Agnez? Perempuan itu tentu orang Indonesia karena dia lahir dari peranakan Jerman-Jepang-Cina yang berkewarganegaraan Indonesia. Tapi ras, yang darimana Agnez berasal, bukan Indonesia. Ada yang berani bantah?

Ketiga, pernyataan Agnez harus diletakkan pada konteksnya. Yang mana? Pernyataan pada bagian pembuka tulisan ini. Itu mukadimahnya. Terhitung tegas, bahkan.

Bahwa dari ancaman neraka, yang mungkin dihujah sebagian orang Kristen kepada para penerima dan pengusung adat-tradisi, Agnez memilih untuk merengkuh Indonesia ke dalam dirinya dan menyusrukkan kepalanya ke pangkuan Bunda Pertiwi. Sehingga, pernyataan kedua harusnya dibaca begini:

“Meski keIndonesiaanku begitu tipis karena hanya lahir dari Ayah dan Ibu yang berkewarganegaraan Indonesia, tapi aku milik Indonesia. Aku memuja Indonesia. Seluruh instrumen tradisi hadir di sekujur karyaku.”

Di video klip “Diamond” Agnez menghadirkan Jaipongan. Itu pasti haram, musyrik, buat 212 beserta gerombolannya. Itu juga dianggap “kuasa gelap” oleh sebagian orang Kristen.

Agnez tak peduli. Cintanya kepada Indonesia membara melebihi api neraka.

(Duh, penalaran pas-pasan kayak kalian kok berani-beraninya menyatakan yang itu kafir, yang ini haram. Makanya saya ngakak guling-gulingan saban dengar orang Kristen menyimpulkan bahwa Sodom dan Gomora dihujani belerang oleh Tuhan karena rakyatnya ber-LGBT)

Rene’o. Deketin cangkemmu biar aku sun.

Sumber : Status facebook Sahat Siagian

Wednesday, November 27, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: