Agar Tak Kembali ke Orde Bau Busuk

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Tak ada yang lebih buruk daripada praktik politik di Indonesia. Ehm, itu pernyataan gagah banget. Tapi, coba kita melihat, bagaimana tidak mudahnya bekerjasama antara dua parpol, Gerindra dan PKS misalnya, dalam kaitan pengganti Sandi di wagub DKI Jakarta. Padahal keduanya, berkoalisi untuk capres yang sama. Dan mantap sebagai partai oposisi.

Yang kemudian terjadi, klaim masing-masing pihak, bahkan bisa saling mengancam. PKS mengancam tidak akan mendukung capres Prabowo, meski itu hanya berlaku untuk wilayah DKI Jakarta. Lucu? Tragis! Tapi begitulah.

 

 

Dan ketika Ahmad Taufik kemudian mengalah, dan Prabowo memberi sinyal pada PKS sebagai pengganti Sandi, masalah selesai? Tidak. Gerindra memberikan ketentuan, meski dari PKS syarat dan ketentuan tetap berlaku. Pakai fit and proper dulu. Meski semua dipilih dari kader PKS, hal itu membuat kubu PKS terbelah. Ada yang setuju karena toh semuanya (cawagub pengganti) adalah kader PKS. Tapi yang tak setuju, ini pelecehan bagi PKS. Sementara, aturan dasarnya bagaimana?

Di situ rakyat DKI Jakarta, sebagai yang berhak memilih cagub-cawagub, dilecehkan. Tak diikutsertakan. Apalagi jika DPRD DKI Jakarta sendiri ternyata juga tak mengikuti UU atau Perda dalam soal pergantian wagub itu.

Politik elitis ini juga menyangkut media dan para elite dari kampus, yang memposisikan diri lebih kuasa daripada rakyat. Coba lihat, bagaimana kita sama sekali tak bisa berdialog, bekerjasama dan saling mengapresiasi. Dan media, sama sekali tak bisa memediasi hal itu.

Banyak media online yang seolah berbobot, tapi mereka mendiamkan diri menjadi media beberapa nama yang memakai ukuran sepihak sebagai analis, pengamat, dan apalagi konsultan politik. Kumparan dan Tirto, sering gagal menjaga keseimbangan itu. Kalau mereka media non-komersial, atau amatiran kayak fesbuk, bisa dipahami.

Televisi dipenuhi perdebatan tidak mutu, tanpa disertai pendampingan untuk melakukan moderasi dari pihak independent dan netral. Alih-alin nyediain kelompok moderat, malah ada media mengeksploitasi seseorang untuk ditahbiskan sebagai filsuf, sementara statemennya cenderung makin partisan.

Dan ketika itu semua terjadi, sama persis dengan kejenuhan masyarakat atas perilaku elite dan politikus. Mereka tak ayal memilih yang bisa mempersonifikasikan identitasnya. Yang untuk sementara ini, Jokowi belum ada tandingan. Ia manusia biasa, dengan kelebihan dan kekurangannya. Dan itu justeru adalah kita. Setidaknya saya, sekiranya bukan Anda.

Perjuangan kita dari 1998 sampai kini, sesungguhnya adalah memutus mata rantai elite dan politikus busuk, sontoloyo, dan gendruwo, yang ingin kembali berkuasa. Hal itu agar kelak 2024, kita bisa memulai lembaran baru. Dengan politik kinerja, bukan kinerja politik yang busuk. Dan itu milik generasi baru, agar tidak kembali ke Orde Soeharto Baru.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, November 17, 2018 - 08:15
Kategori Rubrik: