Agamis Berkebangsaan

ilustrasi

Oleh : Achdiyat Ruly Santabrata

Bukan di jaman sekarang saja NU mendapat fitnah - sudah sejak dahulu ! Jadi tidak kaget lagi. (Foto di bawah)

Dan Alhamdulillah nya, NU selalu mampu menghadapi kelompok2 penebar fitnah yang sama akarnya itu - hanya kini mereka ganti casingnya saja.

Kita boleh jujur, bahwa kadangkala yang melakukan semua ini adalah orang Islam sendiri. Orang yang mengaku paling Islami namun mereka adalah Orang yang tidak betah hidup di negeri Pancasila.

Mereka anti pada banyak hal. Sehingga akan mudah berseteru dengan kelompok sendiri. Itulah yang membuat Timur Tengah retak-retak tanpa jiwa kebangsaan yang kokoh.

Sebenarnya NU adalah wajah Islam Indonesia sendiri, dan mencoba mempertahankan apa yang sudah diajarkan para ulama, yang ajaran tersebut bisa ditarik tanpa putus hingga pada Nabi Muhammad Saw.

Sementara para veteran konflik Timur Tengah mencoba menghancurkan keharmonisan ulama Islam di Indonesia dengan wajah islami.

Memang dibutuhkan kekuataan intelektual yang teruji untuk mengenali infiltrasi mereka yang rajin mengimpor konflik dan mengobral kebencian.

Sebagai contoh: Since day one, banyak yg mengkhawatirkan (termasuk saya) tak ada lagi teriakan anti zionis wahyudi yang kemudian diganti awas syiah, komunis, pki dan cina karena settingan perang kepentingan para Raksasa. AS vs Rusia/Tiongkok.

Beberapa tahun terakhir ini di Indonesia apalagi sejak Pakde Jokowi jadi RI-1, suara anti pemerintah terus berkumandang, tonenya terasa berbeda tak spt biasanya. Bukan hanya sekedar kritik tapi fitnah serta hasutan. Terutama jika pemerintah terlihat lebih mesra pada Tiongkok atau Rusia.

Peta Geopolitik ini ikut menggesek2 politik dalam negeri. Dan dengan tone agama, semuanya jadi sangat sensitif.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Krisis kemanusiaan di Yaman karena kerajaan Islam tetangganya. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh:

Islam di Indonesia.

Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia salah satunya karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Tapi di negeri sendiri, NU dicoba dikoyak-koyak.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah. Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Gotong royong menjaga gereja, dibilang munafikun. Padahal itu produk Islam Indonesia.

Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham.

Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” (saja). Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia.

Kenapa?

Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya.

Kenapa?

Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama WILAYAH? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggungjawabi disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau RAKYAT. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

NU ini benteng terawal dan terakhir bela Islam di Indonesia.

Ada tatanan dan pengertian yg sudah lama kita bina. Jangan jadi pecah karena sebuah kesalahpahaman. Susah membangunnya kembali.

Perang kita sekarang adalah miskinnya literasi, gurita oligarki, serbuan hoax, ketahanan pangan. Singkatnya: Cuci piring bersih2 paska orde baru.

Bukan import perang dari luar, lalu mendeclare nya dalam hajatan demokrasi (baca: Pilpres). Mengatasnamakan rakyat gelar PEOPLE POWER. Saat rakyat (55,5%) berkehendak, pundung tak bedundung. Rusuh.

Tak perlu jadi NU. Tapi cukup jadi kaum agamis berbalut jiwa kebangsaan yang kokoh untuk melawannya.

Lahawla wala quwwata illa bilahil 'aliyil 'adzim

Sumber : Status Facebook Achdiyat Ruly Santabrata

Thursday, June 13, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: