Agama, Pengendalian Diri dan Radikalisme

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

“Islam radikal itu nggak ada. Islam itu agama pembawa damai. Salamnya aja doa bagi orang tersebut. Yang bener adalah: … ada orang radikal, kebetulan agamanya Islam,” demikian sepenggal komika Panji Pragiwaksono. Betul?

Saya ingin mengujinya. Namun, agar penjelasan ini tak disalahpahami, baiklah kita gunakan contoh dari agama Kristen.

Amerika Serikat mencatat bahwa dari 201 kasus terorisme di negara itu di sepanjang 2008 hingga 2016 terdapat 115 kasus yang dilakukan oleh kulit putih sayap kanan, 65 kasus oleh mereka yang beragama Islam, dan sisanya adalah kasus terorisme lingkungan. Dari 115 kasus kulit putih sayap kanan, 74% beragama Kristen. Tak cuma itu, Jeremy Christian secara mencolok menghujamkan pisau ke lambung dua lelaki kulit hitam beragama Islam karena mereka berupaya menghalangi penghinaan yang dilakukan sekelompok orang kulit putih kepada segelintir muslim di sana.

Bagaimana kita mempersepsikan data tersebut? Tentu boleh kita gunakan logika Panji Pragiwaksono: 74% dari 115 kasus itu dilakukan para teroris, kebetulan mereka beragama Kristen. Sahih? Pasti, kalau kesimpulan Panji kita anggap sebagai rujukan final.

Mari kita simak fakta berikut ini?

425 peraih hadiah Nobel sejak tahun 2001 hingga 2015 beragama Kristen. Jumlah itu setara dengan 64.5% dari jumlah peraih secara keseluruhan. Bagaimana kita mempersepsikannya? Gunakan saja logika yang sama: 425 orang itu peraih hadiah Nobel. Kebetulan mereka beragama Kristen.

Setuju? Enggak Wooiii.

425 peraih nobel itu adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk mengerjakan karya keselamatanNya di bumi ini. Mereka telah dengan sempurna menjadi saksi Kristus, memuliakan nama Allah, mengagungkan panji-panji Kristen. Gagah betul!

Lalu bagaimana dengan 74% dari 115 kasus terorisme?

Jangan gitu dong, lu jangan rasis. Kasus-kasus Itu tak menandakan Kristen sebagai agama teroris. Mereka cuma oknum-oknum. Kebetulan saja orang-orang itu beragama Kristen. Agama Kristen adalah agama kaum pemenang. 425 peraih hadiah nobel mencerminkannya.

(kalau ada biji salak deket gua, udah gua sambit pala lu pada).

Saya setuju dengan logika Panji sekaligus mewanti-wanti kita semua untuk konsisten menggunakannya sebagai rujukan bagi kisah-kisah sebaliknya. Tentu ada banyak protes. Agama Kristen membawa damai. Barangsiapa yang bertindak sebaliknya adalah pengkhianat nilai-nilai Kristiani; sementara mereka yang mematuhinya akan berbuah kebaikan.

Persis di situ soalnya. Agama tidak berdaya membuat Anda lebih baik. Keputusan final berada di tangan Anda sendiri. Andalah penentu kebaikan maupun kejahatan, bukan Agama. Entah seberapapun agungnya nilai-nilai dalam agama yang Anda anut, semua terlihat hina ketika Anda mengingkarinya. Jadi, apa guna agama?

Tahun 1687 Isaac Newton memublikasikan karyanya dalam buku bertajuk Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica. Tiga laws of inertia dipampangkan di sana. Isinya tentang gerak, gaya, vektor dan kesalingpengaruhan di antara mereka. Tiga hukum tersebut kelak digunakan dalam perencanaan konstruksi gedung, jembatan, menara, dan bangunan-bangunan menjulang serta canggih lainnya. Kekokohan konstruksi dapat dipastikan serta terukur untuk menahan beban maupun guncangan gempa.

Tapi tahukah Anda bahwa ada ratusan bangunan-menjulang telah dibangun sebelum Isaac Newton mengumandangkan Laws of Inertia? Pernah ke Srilanka? Pasti Anda sempatkan diri berkunjung ke Ruwanwelisaya, bangunan bertinggi 28 meter. Atau, tengok juga Porta Nigra yang berdiri pada 180 BC. Tak ketinggalan Knossos di Gerika, berdiri pada 1300BC.

Jembatan? Jembatan tertua di dunia yang masih digunakan adalah jembatan lengkung single slab-stone di atas sungai Meles di Izmir (dahulu Smyrna), Turki, yang berasal dari c. 850 SM. Sisa jembatan Mycenaean, c. 1600 SM, ada di lingkungan Mycenae, Gerika di atas Sungai Havos.

Bingung? Jangan!

Isaac Newton menyimpulkan apa yang telah dikerjakan nenek-moyang kita. Sebelum Newton, gedung-gedung telah berdiri. Bedanya, konstruksi bangunan sesudah Newton didirikan dengan penggunaan bahan yang terukur, tidak boros, sehingga menghadirkan cost efficiency.

Kehidupan di Nusantara baik-baik saja sebelum agama-agama besar itu datang. Bedanya, sekarang kita memiliki rujukan tercatat, sistematis dan padat. Selebihnya sama. Mereka mengajarkan kebaikan, demikian juga nenek moyang kita. Hidup kita baik-baik saja sebelum agama eksis, dan seharusnya akan tetap baik-baik saja bersama agama atau pasca-agama. Sebab bukan agama yang menjadi penentu, tapi kamu. Aku? Iyaaa, kamu.

"Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu."

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Saturday, February 17, 2018 - 12:15
Kategori Rubrik: