Agama Oh Agama

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
Agama itu sebetulnya hanya salah satu dari produk peradaban dan kebudayaan umat manusia. Diluar agama ada science, teknologi, politik, ekonomi, sekularisme, ideologi, seni, tradisi, adat dlsb. Tapi banyak orang melihat dan mencoba menyelesaikan semua urusan masyarakat dari kaca mata atau sudut pandang agama. Akibatnya jadi "kacau beliau".
Misalnya, agama seenaknya mengafirsesatkan seni. Padahal si seni nggak pernah mengafirsesatkan agama. Agama juga seenaknya mau ngatur-ngatur politik. Padahal agama nggak paham ilmu politik. Agama juga seenaknya menghakimi sekularisme. Padahal sekularisme tak pernah jadi hakim.
 
 
Jika agama bisa dengan leluasa intervensi dan mengkritik dunia non-agama. Tapi ia gak terima kalau diintervensi dan dikritik sampai ada "pasal penodaan agama" untuk menggebuki mereka yang mengkritik agama. Mana ada, misalnya, "pasal penodaan seni" atau "pasal penodaan sekularisme" sehingga kalau ada yang mengenyek seni & sekularisme bisa dibui?
Jadi intinya begini cuk. Tidak semua urusan masyarakat dan umat manusia yang ruwet bin njlimet itu bisa diselesaikan dengan agama. Semua produk peradaban & kebudayaan manusia itu ada batasnya. Keruwetan terjadi karena kaliyen terlalu memaksakan dan bahkan "memerkosa" agama supaya bisa menyelesaikan semua urusan manusia & problem keumatan. Akibatnya banyak urusan jadi semrawut, amburadul dan awut-awutan kayak jembut kere.
(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)
Friday, July 10, 2020 - 21:30
Kategori Rubrik: