Agama Jargon

ilustrasi

Oleh : Abd Rasyid

Dalam benak masyarakat awam, Jargon itu penting. Jargon ini akan membentuk karakter budaya masyarakat tersebut. Namun tidak selamanya jargon itu penting, karena hanya manis di bibir Saja.
Sekitar tahun 2010, ada semacam gerakan sosial "Jogja Serambi Madinah", bahkan teman Saya ikut aktif di gerakan itu baik Off maupun On Air. Saya termasuk yang tidak mengikuti gerakan-gerakan macam itu. Kemudian setelah 2012 gerakan itu seakan-akan mati suri, apalagi 2013 menjelang Pilpres hilang dari peredaran.

Wacana membikin Jargon seperti ini membuat kota Jogja menjadi lebih tidak berbudaya, dan memberi kesan bahwa Jogja adalah Sub-ordinat daripada yang mana sebuah Kota Lain. Jargon Aceh sebagai Serambi Makkah memang sudah lama, mungkin dalam hitungan mendekati ratusan tahun sebelum Indonesia Merdeka. Alasan penggagas Jargon "Jogja Serambi Madinah" itu saya kurang tahu persis, metode pendekatan Anthropologi model bagaimana. Andaikan dulu itu terjadi, Jogja sebagai kota Budaya akan hilang nilai-nilai intrinsik kebudayaannya yang mana berbeda dengan Madinah yang dianggap sebagai Rumah, sementara Jogja dianggap Serambi.

Prinsip saya Jogja ya Jogja, Madinah ya Madinah. Jargon Jogja yang sudah ada "Jogja Berhati Nyaman". Wong Kebudayaannya juga berbeda koq diuthik-uthik.

Nah Kembali pada Jargon-jargon tadi, kebudayaan itu adalah sebuah heritage (warisan) yang tidak boleh ditinggalkan dan dilupakan. Sementara peradaban itu berkembang sesuai dengan tuntutan Zaman. Saudi sebagai pemangku Makkah dan Madinah Sekarang perayaan Valentine Day yang mana bagi sebagian orang dianggap sebagai budaya Kafir, sebagai rumah malah meriah. Aceh sebagai Serambi malah melarang. Masih relevan-kah Jargon itu? Atau malah menjadi Agama Jargon Saja?

Oiya sampaikanlah pendapat anda secara BerBudi dan Ma'ruf, agar kamu menjadi Arif Bijaksana.

Sumber : Status Facebook Abd Rasyid

Sunday, February 16, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: