Agama Itu Ada Metodologinya

ilustrasi

Oleh : Ahmad Hafidh

Komitmen mengamalkan ajaran agama itu ada prosedur metodologinya. Surat an Nisa' 101 misalnya, mengatur kebolehan meng qashar shalat dalam situasi perjalanan; surat al Baqarah 184-185 mengatur mengenai kebolehan menunda puasa Ramadhan bagi penderita sakit, orang lemah dan musafir; ada juga metode "istihsan" sebagai prosedur analisis hukum yg bahkan bisa mengubah hukum dari wajib menjadi haram atau yg haram menjadi wajib.

Hal-hal demikian hanya diperoleh dalam pelajaran metodologi kajian hukum. Kaidah seperti:
الضرورة تبيح المحظورات،
الضرر يزال،
الضرورة تقدر بقدرها
إذا أشكل الناظر فى شيء أ هو حلال او حرام فلينظر إلى مصلحته ومفسدته

 

menjadi suspensi problematika hukum ketika menghadapi dinamika sosial. Operasionalisasi hadits Rasulullah لا ضرر لا ضرار maupun ayat semodel فمن اضطر غير باغ ولا عاد فلا إثم عليه
membutuhkan piranti metoddologi untuk menerapkan dalam prosedur teknis berhukum.

Belum lagi jika dilanjutkan dengan mendiskusikan المقاصد الشريعة . Intinya agama tdk sesederhana yg terlihat dr luar. Kalau selama ini ditempilkan sederhana, itu semata karena firman Allah swt.:
ماجعل عليكم فى الدين من حرج
يريدالله بكم اليسرولايريد بكم العسر

yang memerintahkan agar agama itu tampil enerjik, simpel, ringan & bersemangat. Tp itu tdk mengurangi kompleksitas kerumitan kajian hukum Islam. Maka lengkapilah piranti yg disyaratkan jika ingin terlibat.

Akibat kelemahan dan ketiadaan software metodologi ini, bisa menimbulkan kesesatan dalam berhukum. Hati-hati, agama itu rahmat, jangan sekali-kali diubah menjadi laknat; agama itu menyelamatkan, bukan menyengsarakan; agama itu bukan hanya urusan akhirat, tp juga urusan kebahagiaan dunia.

Hati2 dg model pemahaman agama berikut:

https://www.eramuslim.com/…/edy-rahmayadi-jangan-tinggalkan…

Sumber : Status Facebook Ahmad Hafidh

Friday, March 20, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: