Agama Diperalat Hanya Karena Jabatan

Oleh: Ardiyansyah

 

Masih ingat bagaimana ketika Gus Dur menjadi presiden? Ruang MPR melantunkan salawat Badar yang menandakan bahwa Gus Dur datang untuk mengubah wajah perpolitikan di Indonesia pasca Soeharto. Dan benar, Gus Dur membawa khazanah pemikiran yang membuka pemikiran anak bangsa. Salah satunya ialah pluralisme. Gus Dur menjelaskan pentingnya mengakui bahwa keragaman agama dan budaya sudah menjadi sunnahtullah, yang mana itu harus kita jaga.

Maka dengan itu, Gus Dur melindungi komunitas Tionghoa yang pada orde baru dilarang. Gus Dur juga yang mengusulkan agar Soeharto dan keluarganya diadili, dan disita hartanya jika itu hasil korupsi. Tetapi pada kenyataannya, banyak pejabat busuk yang meneriakan reformasi tetapi justru haus akan kekuasaan dan harta.

Terbukti, ketika Gus Dur menjadi presiden kaki tangan orde baru serta pejabat yang haus akan kekuasaan menganggap Gus Dur bantu sandungan mereka. Mereka dengan segala cara berupata menurunkan Gus Dur dari kursi presiden.

 

 

Konspirasi mereka berhasil. Atas keputusan Amin Rais, Gus Dur lengser tanpa ada bukti Gus Dur bersalah. Ketika Gus Dur lengser, pasukan berani mati pun bermunculan. Mereka siap melawan Amin Rais untuk membela Gus Dur. Tetapi Gus Dur cegah, Gus Dur tidak ingin bangsa ini terpecah belah karena dirinya. Gus Dur merelakan kursi jabatannya yang terpenting bangsa ini tetap utuh.

Inilah ulama, berbeda terbalik dengan politikus busuk yang menggunakan agama untuk meraih jabatan. Mereka merangkul kelompok radikal untuk berkoalisi dengan mereka agar meraih kursi jabatan di negeri ini. Mereka rela memecah belah bangsa ini selama mereka belum menjadi pejabat.

Oh Gus Dur doakan negeri ini dari alam kuburmu, agar perjuanganmu menyatukan bangsa terus berlanjut.

 

(Sumber: Facebook Ardiyansyah)

Friday, April 6, 2018 - 23:15
Kategori Rubrik: