Agama diantara Cacha dan Waria

ilustrasi

Oleh : Aan Anshori

Viral video prilaku tak terpuji dua orang terhadap waria membuat Chacha, mahasiswiku, terluka. Aku tak menyangka ia akan sebaper itu. Sungguh aku kaget dan gembira.

Ia mengirimiku pesan di Line pukul 21.52 malam ini. Baru aku buka pada 23.16. Telat berjam-jam.

"Pak, saya jadi ingat bapak," tulisnya, sembari menyusuli dengan link video Instagram.

Chacha adalah salah satu dari 50 mahasiswaku di kelas Religion Universitas Ciputra. Jika kamu tanya kenapa ia mengingatku saat melihat video perlakuan tidak manusiawi terhadap waria, maka aku menduga kuat itu dampak dari pengajaranku.

Iya, Chacha dan 49 mahasiswa lainnya pernah aku minta menonton film "Perempuan Tanpa Vagina," plus mendiskusikan serta menulis refleksi atas film tersebut. Film ini tidak masuk dalam silabus resmi tontonan yang wajib diajarkan para dosen. Aku pilih film itu untuk mempertajam kepekaan relijiusitas mereka. How high can our religious sensitivity go?

Itu sebabnya, kalau kalian ketemu anak Ciputra dan tahu film itu, sangat mungkin ia adalah jebolan Republik Aan Management kelas Pancasila atau Religion. Sebab, nampaknya belum ada dosen yang bereksperimentasi dengan isu ini di kelasnya.

Aku cenderung memilih model Marxian ketimbang Hegelian di kelas; tidak banyak memapar teori-teori tentang agama-agama. Alih-alih, membawa sampah persoalan-persoalan dari luar kampus untuk didiskusikan dalam kelas.

"Sebagai penganut Yesus madzhab Roma, gimana keimananmu memandang problem ini? Kalau kamu, penganut Protestan, Buddha, Khonghucu, Islam, bagaimana?"

Begitu kira-kira garis besar SOP di kelasku. Setiap dari mereka merdeka menyatakan pendapatnya. Tak peduli senyleneh apapun itu. Jika ada pendapat yang terasa menyimpang dari rel kemanusiaan aku sangat mudah menawarkam cara pandang yang menurutku sulit mereka tolak.

"Yakin itu ajaran Kristus yang disampaikan pendetamu? Coba kamu baca lagi, sekarang, doa Bapa kami. Renungi sampai kamu menemukan letak kesalahan dalam cara pandangmu," kataku suatu ketika pada mahasiswa setelah kelas usai mendiskusikan Lucinta Luna dan hak politiknya.

Aku ingin mahasiswaku yang Islam meyakini bahwa pengajaran keislaman tidak melulu berbentuk Al-Quran, hadits, kitab kuning atau semburan ceramah dari da'i dan bunyai. Sabda tuhan (ayat) terkadang dapat berbentuk apa saja, termasuk penderitaan para waria.

Chacha dan lainnya belajar agama dari mereka, dari suka-duka kehidupan yang mereka lalui, dari pergumulan relijiusitas yang ditempa ramai-ramai selama satu semester ini di kelas. Sangat mungkin Chacha tidak trampil membaca barzanji, apalagi kitab gundul, namun di kelasku, esensi beragama (Islam) terletak pada sejauhmana sensitifitas mahasiswa terhadap individu/kelompok yang tertindas. Dan sangat jelas, Chacha sudah menunjukkan itu.

Sebagai dosennya, aku sangat bangga padanya dan juga 49 lainnya. (*)

*Vivoku berbunyi, notifikasi sms masuk, dari bank. Gaji telah ditransfer.

# RamadhanAan2020

Sumber : Status Facebook Aan Anshori

Monday, May 4, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: