Agama dan Spiritualitas

ilustrasi

Oleh : Meicky Shoreamanis Panggabean

Gue pernah nulis begini:Rugi lho menolak bantuan orang kristen. SDM di Kristen itu berlimpah.

Gue pernah 1-2 tahun nawarin bantuan untuk training gratis tapi ditolak. Gue cuma mau kasih training ke sekolah negeri dan sekolah Islam.

Beberapa temen berkomentar," Lo ke sekolah-sekolah kristen aja. Bangun orang dalem. Itu di Papua, mereka sibuk ngeIslamin anak-anak kita."

Gue nggak mau. Indonesia terlalu beragam untuk direduksi hanya jadi sekumpulan orang kristen. Lagian gue udah kerja puluhan tahun di sekolah kristen yang muridnya rata-rata kristen sama buddha.

Gue juga mau dong ngurusin pendidikan yang di dalamnya ada orang-orang beragama lain atau atheist atau agnostik atau apalah.

Gue akhirnya sempat terlibat banyak tapi cuma sebentar. Gue jadi non aktif karena **peserta hampir semua berjilbab, Muslim garis keras, dan rata-rata pro Prabowo. Lagipula gue sipit dan sosmed gue isinya kebanyakan politik, vokal, dan Jokowi banget.**

Gue dijelasin itu semua, kalimat yang diapit **, oleh donaturnya. Dia bicara dengan baik-baik.

Gue paham (ya iyalah!) dan mundur karena kehadiran gue berpotensi membuat peserta jadi resisten.

Di titik itu gue sadar bahwa kegiatan semacam itu benar-benar bukan bagian gue. Temen-temen gue yang kristen dan leluasa masuk ke mereka, sosmednya bersih dari politik.

Gue nggak kecewa karena gue yakin kalo kita udah usaha dan berdoa lalu ternyata gak dapat, berarti memang tempat itu bukan ladang yang harus kita garap. Itu jatah petani yang lain. Biarkan mereka yang kerja.

Jadi ya gue nggak pernah ikut lagi. Yang rugi?Ya peserta.

Gue udah hubungi temen gue untuk kasih mereka training komputer di kantor temen gue yang ada Microsoft Lab. Anter jemput gratis, makanan disediakan.

Gue udah hubungin guru yang banyak duit karena main saham, rajin menabung, dan melek valas untuk kasih training literasi finansial. Gue tau beberapa guru di sekolah sederhana yang bisa liburan sampe Korea karena manajemen keuangannya bagus.

Temen gue yang lain bisa kasih pelatihan soal usaha kecil.

Uang juga udah ada, bukan dari donatur lho. SDM berlimpah. Itu pelatihan komputer, beudddd...Bisa 5 peserta didampingi 1 asisten trainer. Rata-rata training komputer pesertanya minimal 30an dan trainernya cuma 1.

Kenapa gue mau terlibat di training ini? Di sini gue akan melakukan generalisasi. Ini lho alasannya:

Murid-murid kaya di sekolah internasional dan di sekolah kristen yang mahal-mahal itu, banyak yang akan jadi bos, pejabat, pengusaha. Duit, ada. Koneksi ortu, ada. Jaringan pertemanan, udah terbentuk.

Gereja peranannya besar. Banyak gereja gede ngadain acara khusus setiap tahun selama 1-2 hari. Pembicaranya tuh pebisnis, pejabat, dll.

Anak gue dateng ke sesi untuk remaja, pembicaranya perancang perhiasan Ratu Elizabeth. Ada juga seminar soal perdagangan perempuan, klinik musik, videografi, dan demo masak. Pembicaranya ada Youtuber, aktor, menteri, ibu rumah tangga, dll.

Percayalah, yang bikin beginian bukan cuma 1 gereja.

Lo bisa bayangin, asupan gizi ke otak anak-anak orang kristen kayak apa? Sementara di tempat lain anak-anak diasuh para ayah yang bangga hadir di seminar "Bagaimana hidup rukun dengan 4 istri."

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada saudara-saudara setanah air gue yang Muslim, izinkan gue untuk menyampaikan bahwa gue melihat adanya potensi besar akan lahirnya gap kualitas yang lebar antara generasi mendatang yang Kristen dan yang Muslim.

Gue pikir, gue mesti melakukan sesuatu, sekecil apapun itu.

Nah, bos dengan asupan gizi tinggi di otak butuh karyawan cerdas. 1 bos punya 200an anak buah. Gue mau terlibat di perjalanan berpikir mereka yang 200an ini. Kalo cara berpikir mereka bagus, yang untung ya bos-bosnya.

Gap berpikir yang jauh antar orang di institusi yang sama menciptakan lingkungan kerja yang nggak sehat, menekan laju produktivitas serta merusak wellbeing. Gue melihat ada kesempatan untuk melakukan sesuatu.

Sayang gue gagal karena negara kita terpecah-belah.

Gue kecewa? Kalo kejadiannya dulu, iya. Gue ditolak berulang kali 3-9 tahun yang lalu. 6 tahun, Cuy. Gue udah kebal.

Ada banyak jalan untuk gue mengabdi. Cuma ya sayang aja, sih. Kesempatan mereka maju jadi tertutup gara-gara politik identitas.

Buat elo-elo yang ditolak kayak gue atau Melanie, jangan sedih. Yang rugi mereka. Pantang menolong orang yang tak mau ditolong kecuali untuk urusan nyawa dan kecuali kalo penolakan mereka membahayakan sikon.

Berharap saja semoga akan segera tiba saatnya mereka tau bahwa kemanusiaan lebih penting daripada doktrin dan sesama lebih berharga daripada agama.

Yang penting, inget-inget aja, Yesus aja yang baeknya aujubilah bawaannya ditolak meluluk apalagi kita.

Untuk sementara ini, kita matangkan saja spiritualitas kita. Ini pekerjaan maha sulit tapi kayaknya wajib kita lakukan. Sehingga, jika mereka yang menolak kita suatu hari ternyata datang ke kita untuk minta tolong, kita bisa dengan lapang dada membantu lalu setelah itu bertanya:

"Ada lagi yang bisa saya bantu?"

Sumber : Status Facebook Meicky Shoreamanis Panggabean

Friday, September 20, 2019 - 19:15
Kategori Rubrik: