Agama dan Pertolongan

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Sore tadi saya naik perahu klothok dari Penajam(kota kabupaten lokasi ibukota baru) menuju Balikpapan. Siangnya dari Balikpapan berangkat naik speedboat. Saya kapok, kecepatan tinggi, goyangannya membuat sakit pinggang, perut dan kepala.

Ya pulangnya naik perahu klothok, dengan kecepatan lebih rendah, tapi lebih nyaman.
Saat turun, perahu agak bergoyang karena ombak. Seorang ibu muda minta tolong saya membantu ibunya yang sdh agak sepuh untuk turun ke dermaga yg medannya memang agak susah. Dengan reflek kupegang lengannya dan kubantu jalan agar nggak terjatuh. Apakah saya mikir beliau bukan muhrim? Jelas tidak.

Reflek kemanusiaanlah yang muncul, beliau perlu bantuan. Gimana kalau beliau ibuku, bulikku atau kakakku. Itu saja. 

Gimana kalau terjatuh dan masuk ke laut? Apakah aku nafsu? Ya ampun sempat2nya mikir gitu, yg ada adalah rasa kasihan. Jauh dari pikiran2 kotor begitu. Tapi sekarang banyak lho yang berpandangan sempit, menuhankan syariah, lupa konteks ajaran dan hilang kemanusiaannya. Yang.muncul justru wajah aneh, tidak manusiawi, tidak membumi, orientasinya langit sementara masih hidup di bumi.

Pernah ada lho mahasiswa S2 saya, Ibu2 sdh cukup tua dibanding yg lain. Karena ada kuliah sore hingga malam, nggak ada lagi angkot ke rumahnya. Bingung dia pulang naik apa.Satu2nya mhswa cowok nggak mau nganter karena alasan bukan muhrim. Diminta2 ybs maupun teman2nya, si cowok tetap nggak mau. Padahal saya tahu si cowok ini anak baik. Bimbingan saya. Tetapi karena oleh ustadznya atau kelompoknya diajari paham begitu, maka kebaikannya kalah dengan syariah yg diyakininya.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Thursday, February 13, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: