Agama Dan Modernisme

Kelompok ini (seperti de Bonald dan de Maistre) lebih menekankan pentingnya faktor non rasional dalam kehidupan (seperti ritual, seremoni)…, dan mendukung sistem sosial di masa lalu…, seperti sistem hirarki.., institusi patriarkhi…, dan gereja.

Nampaknya sejarah perkembangan Eropa tersebut…, juga dialami masyarakat kita saat ini.

Di tengah berbagai program pembangunan bangsa (modernisme)…, ada pihak-pihak yang merasakan keresahan…, berbagai perubahan sosial modern yang ada (sistem demokrasi, industrialisasi, globalisasi) dianggap dapat menimbulkan kekacauan tatanan yang ada.

Bahkan ada yang berpikiran…, modernisme itu dipandang akan memarginalkan kelompok mereka…, sehingga harus ditolak.

Sebagaimana di Eropa…, di sini reaksi atas modernisme juga bermunculan.

Dalam Islam…, lahir berbagai kelompok keagamaan dari yang konservatif yang merasa tidak nyaman dengan perubahan…, sampai paham radikal yang berkeinginan mendirikan daulah Islamiyah…, atau sekedar penerapan syariat Islam.

Bahkan ada yang bercita-cita menghidupkan sitem khilafah…, yang dianggap kunci kejayaan Islam masa lalu.

Kemajuan ilmu dan teknologi…., tidak memungkinkan kita untuk kembali pada masa lalu.

Kembali ke masa lalu adalah mundur…, jika ingin maju maka harus mau melangkah ke depan.

Kita perlu optimis melihat ke masa depan…., dan tidak ke masa lalu.

Beragama tidak boleh sekedar utopia (berkhayal)…, tapi perlu pemikiran rasional…, empiris…, ilmiah…, dan berorientasi pada perubahan dan kemajuan.

Perlu ketegasan kita untuk menempatkan agama sebagai komplementer modernisme…, sehingga agama selalu bisa beriringan dengan derap pembangunan peradaban…, bukan sebagai alternatif yang saling menegasikan/meniadakan.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *