Agama dan Kupas Kacang

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Beragama itu bisa diibaratkan makan kacang...; untuk mendapat isinya..., kita memang perlu menyentuh dan mengupas kulitnya.

Dan kalau kita sudah berhasil sampai ke isinya..., ya isinya yang kita makan...; kita jangan balik lagi makan kulitnya.

Masalahnya...; banyak dari kita yang ribut terus soal kulitnya..., berputar-putar hanya di kulitnya..., sehingga terhambat untuk menemukan apa isinya..., apa intinya.

Tradisi Sufi..., juga mengajarkan mirip seperti itu...; ada Syariat..., Tarikat..., Hakikat..., dan intinya Makrifat.

Sebelum sampai ke Makrifat...; orang harus belajar Syariat dan yang lainnya dulu.

Namun ketika sudah sampai pada tahap Makrifat..., kita harus mengerti bahwa semua yang lain tadi itu hanyalah sarana menuju Tuhan..., Sang Kebenaran Sejati.

Kalau dalam bahasa Anthony de Mello (seorang imam Yesuit dan psikoterapis..., yang terkenal luas karena buku-bukunya mengenai spiritualitas)...:

Agama itu ibarat jari yang menunjuk ke bulan...., tujuannya adalah bulan itu..., tetapi banyak orang malah hanya melihat jarinya..., dan gagal melihat apa yang ditunjuk jari itu.

Lebih gawat..., banyak orang yang sibuk ngucek-ucek matanya dengan jarinya..., jadinya malah tidak bisa melihat apa-apa.

Atau..., kalau dalam tradisi Kristiani..., sebagaimana diperintahkan Yesus...:

"Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan jiwamu..., dan kasihilah sesamamu manusia..., seperti engkau mengasihi dirimu sendiri....".

Di kedua hukum itulah bergantung semua hukum para nabi.

Jadi...; inti perintah Jesus adalah...: Mengasihi Tuhan Sang Pencipta..., dan mengasihi sesama manusia.

Aturan-aturan yang lain..., seperti bagaimana doa Bapa Kami..., bagaimana liturgi gereja..., katekismus dan lain sebagainya..., adalah kulitnya.

Kulit harus dikupas dulu untuk menemukan isi..., tapi kalau sudah menyadari isi..., jangan terobsesi dengan kulitnya lagi.

Apa gunanya seorang Kristiani yang melulu ribut soal kulit..., mempersoalkan aturan cara berdoa ("syariat") yang benar..., atau mempersoalkan aliran mana ("tarekat") yang lebih benar..., kalau ia melupakan esensi ("hakikat") iman Kristiani..., yaitu kasih.

Orang itu boleh jadi hafal hukum-hukum Gereja..., piawai mengutip ayat-ayat Alkitab..., tapi gagal dalam esensi iman, yaitu mengasihi sesamanya.

Pikirannya hanya soal benar-salah..., dan biasanya...: aku benar..., kamu salah.

Bisa jadi makin jauhlah ia dari hakikat imannya..., apalagi dari puncak tertinggi ("makrifat") imannya..., yaitu melihat sesamanya sungguh sebagai ciptaan Tuhan..., yang layak dikasihi...; bukan yang harus dibenci dan disingkirkan.

Kalau menurut Santo Ignasius Loyola...: "To find God in all things...".

Seandainya kita..., yang selama ini dengan tekun mengupas kulit agamanya (aturan-aturannya..., hukum-hukumnya..., ritual-ritualnya..., upacaranya)..., berhasil menemukan isinya..., maka kita pasti tidak akan ribut soal kulitnya.

Bahkan mungkin..., kita akan melihat suatu dunia yang semakin penuh kedamaian..., keharmonisan..., dan kasih sayang.

Apakah selama ini kita sudah menemukan esensi agama kita...?

Sudahkah kita menghidupinya...?

Atau..., apakah kita masih sibuk mengupas kulitnya...?

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Monday, June 1, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: