Agama Bukan Membelenggu

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Saya tidak mengikuti kehidupan artis, tapi perpindahan agama artis remaja yang semula taat, dan menjalankan agama dengan sangat ketat cukup menarik perhatian.

Pengalaman keagamaanya mirip seorang perempuan dalam Novel Muhyidin M Dahlan, "Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur". Novel yang amat saya sesali pernah saya baca.

Saya cukup mengalami goncangan ketika itu, mengikuti kisah nyata bagaimana seorang wanita sangat taat berubah haluan menjalani free sex, bahkan nyaris terjebak dalam pelacuran.

Intinya rigiditas beragama menyebabkan kejenuhan mental dan lelah secara psikologis. Agama saat ini telah menjadi alat ukur untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri; sudah menggunakan jilbab di kritik kurang lebar dan kurang menjulur kebawah, sudah begitu masih dikritik karena tidak menutup wajah, terus demikian sampai orang jenuh prustasi menanggalkan jilbab.

Tidak sampai disitu ia juga pindah agama. Dan di agama barunya ia mengaku merasa mendapatkan ketenangan. Saya tentu merasa kecewa, tapi dapat bersimpati kepadanya, karena tidak mudah bagi perempuan yang menjadi janda diusia 18 tahun, dengan proses yang tidak manusiawi, lalu dihakimi terus menerus.

Remaja ini antusias mengimani dan mengamalkan Islam, namun sayang ia masuk melalui pintu yang salah. Melalui pintu yang menuntut manusia berubah secara drastis dan sporadis. Secara terus menerus.

Saya membaca artikel di BBC Indonesia, di Turki, setelah kemenangan Partai Islam konservatif, terutama setelah dugaan kudeta 2016, terjadi penangkapan dan pemecatan pegawai negeri, banyak muda-mudi taat yang secara tiba-tiba berubah menjadi etheis dan menganut agama dheisme, agama yang meyakini adanya Tuhan namun tidak mengintervensi manusia dengan kewajiban ibadah dan membebaskan manusia menentukan kehidupannya.

Ketika marak politik identitas, dengan corak agama, terutama saat maraknya demo-demo saya menduga kuat akan menyebabkan semakin banyak orang yang menjauh dari agama. Sedikit demi sedikit menjadi nyata.

Ada yang salah dalam pola keberagmaan kita. Maafkan kami Salma Fina.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Friday, December 6, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: