Agama Bukan Ibarat Istri Tetangga

ilustrasi

Oleh : Gus Bin

saya sebetulnya mau nulis tentang UAS dan keseleo lidahnya..

tapi kok males ya..

cuma satu hal saja yang bikin gatel; karena beberapa orang (mistakenly) menyebutnya sebagai ulama..

ah, dia itu kan juru dakwah profesional.. bukan ulama, setidaknya untuk standar saya.. beda banget ya ulama sama penceramah..

penceramah profesional itu ya harus memuaskan pemirsanya.. dan mostly dibayar untuk perform..

karena pemirsa yg tidak puas tidak akan repeat order.. demikian adagium hukum supply and demand-nya.

mirip-mirip dengan stand up comedian profesional..

yang urusannya samasekali berbeda dengan kelucuan slapstik kepleset kulit pisang, kejedot pintu, kecemplung comberan, toyor-toyoran, atau diguyur bedak yang kemudian diketawain penonton bayaran..

saya mengerti betul bahwa untuk menyiapkan materi stand up comedy itu merupakan pekerjaan yang sangat serius dan menuntut kreatifitas tinggi..

sebagai disiplin ilmu, stand up comedy mempunyai formula standart yaitu melakukan Set Up atau Premis (kalimat pengantar yg menggiring ke arah jokes), kemudian meluncurkan Punch Line (kalimat utama yg jadi puncak kelucuan).. 
maka jadilah satu buah Bit/Joke yang (kalau beruntung) akan sukses dan memecah tawa..

rumus sederhananya adalah menggiring ekspektasi dengan set-up, kemudian mematahkan ekspektasi tadi dengan punchline yang tidak terduga..

dalam perjalanannya, tak jarang terjadi seorang Stand Up Comedian (yang senior sekalipun) gagal membawakan materi..

bercanda dan melucu secara cerdas itu rumit..

para profesional open mic itu harus mengamati banyak hal.. candaan untuk kalangan mahasiswa, misalnya, pasti akan gagal total jika dibawakan di depan ibu-ibu majelis taklim..

karena persepsi terhadap kelucuan itu berbeda-beda..

bagi satu orang (atau satu kelompok), suatu candaan bisa jadi lucu.. tapi di saat yang sama akan jadi sangat menyinggung pihak lain..

itu sebabnya, dalam stand up comedy, ada beberapa norma dan aturan taktertulis yang harus(nya) diikuti..

di antaranya, adalah bahwa seorang Komedian hanya berhak meroasting/becandain kelompok identitasnya sendiri, khususnya bila jokesnya mulai nyerempet SARA..

misalnya, hanya komika yang gendut yang "pantes" bikin jokes mengenai suka duka jadi orang gendut.. tanpa khawatir dituduh body-shaming..

Ernest Prakasa, misalnya, "berhak" bikin jokes yang agak tajem mengenai etnis Tionghoa/China, karena kebetulan Ernest terlahir sebagai Chinese.. dia orang dalam..

kalau ada orang dari suku lain bikin jokes tentang etnis Tionghoa, mereka harus super hati-hati, karena rawan gagal..

Arie Kriting bisa sangat lucu bikin materi jokes becandain kemiskinan di Indonesia Timur.. bisa sangat lucu juga bikin becandaan fisik sekalipun.. karena dia punya privilege khusus.. akan jadi tidak lucu kalau seorang etnis Jawa, misalnya, membawakan materi komedi yang sama persis dengan Arie Kriting.. bukannya pecah tawa, malah bisa pecah kerusuhan..

apalagi becandain agama orang..

buat tiap orang, agamanya itu pasti spesial.. kalau nggak istimewa, ya nggak akan dipeluk..

itu sebabnya saya nggak terlalu setuju dengan postingan yang menyamakan agama dengan istri tetangga.. 
katanya, tidak elok mengkritik istri tetangga, walaupun terlihat jelek.. demikian juga dengan agama..

masalahnya, gimana kalau ternyata istri tetangga itu istimewa..? masa sih nggak boleh ikutan memeluk.. katanya mirip agama..

kita ini mbok ya jangan jadi bangsa yang spaneng, tegang, kaku, dan suka kepo ngurusin urusan pribadi orang lain..

seperti istri tetangga saya itu lho.. kayanya dia sering kepoin saya..

kemarin saya memergoki dia lagi stalking fesbuk dan instagram saya di layar laptop yang dipangkunya..

saya lihat sendiri kok pakai lensa tele saya dari atap rumah, tembus ke jendela kamar tidurnya.. hampir tiap hari..

suwer..

Sumber : Status Facebook Gus Bin

Wednesday, August 21, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: