Agama-Agama Lokal di Timur Tengah

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Jamak diketahui kalau Timur Tengah adalah tempat lahirnya tiga agama besar di dunia dari “rumpun” Abraham atau Ibrahim atau Bram: Judaisme (Yahudi), Kristen dan Islam. Yahudi sebagai “kakak tertua” alias si sulung, Kristen nomor dua, dan Islam sebagai “si bontot” atau “si bungsu”. 

Selama berabad-abad, para pengikut ketiga agama ini hidup dalam damai dan konflik sekaligus. Kadang rukun, kadang berkelahi. Kadang saling bersikap toleran dan menghormati tapi di lain waktu saling “mengeyek” satu sama lain. Kerja sama terjadi di berbagai bidang kehidupan tetapi perang antar-faksi juga membahana sepanjang zaman. 

 

Kerja sama dan juga perang kadang terjadi antara umat Kristen dan Yahudi, kadang Muslim versus Yahudi atau Kristen. Tentu saja semua kasus “eker-ekeran” itu ada sebab-musababnya seperti kata pepatah "tiada wan abon tanpa jamaah bobon". Sebagaimana banjir di Jakardah yang juga ada sebab-musababnya misalnya karena warga membuang sampah sembarangan–sampah yang mestinya dibuang di “tempat pembuangan sampah” e malah dibuang di area kantor gubernur. 

Sebelum Muslim membuat aneka kerajaan di Timur Tengah (Umayah, Abbasiyah, Fatimiyah, Usmaniyah dan masih banyak lagi), Kerajaan Romawi Kristen pernah menguasai Timur Tengah. Begitu pula Kerajaan Aksum yang pernah berkuasa di Etiopia dan kawasan Afrika lain. Kerajaan Byzantium pernah dikristenkan oleh Constantine the Great yang juga pernah lama menguasai Timur Tengah. 

Yahudi juga pernah punya kerajaan besar di abad keempat yang bernama Himyar di kawasan Yaman dan Arabia selatan dengan raja pertamanya Tub’a Abu Kariba As’ad. Sekitar abad keenam, dinasti Yahudi ini berakhir (di era Raja Yusuf atau Dzu Nuwas). Hingga kini sisa-sisa populasi Yahudi masih ada di Yaman (sering disebut “Yahudi Yaman”). 

Penting juga untuk diketahui bahwa Bangsa Arab dulu tidak mendominasi Timur Tengah. Mereka hanya terkonsentrasi di Jazirah atau Semenanjung Arabia saja yang kini sebagian besar menjadi wilayah Arab Saudi. Ekspansi bangsa Arab keluar Semenanjung Arabia baru terjadi beberapa tahun setelah Nabi Muhammad wafat di abad ketujuh (632 M), khususnya di zaman Khalifah Umar bin Khattab yang kemudian menguat, membesar, dan meluas di era dinasti Islam. 

Umar dulu pernah memimpin pasukan ke Mesir dan daerah-daerah lain. Di Mesir dan kawawasan Afrika lain, para pasukan Arab kemudian melakukan kawin-mawin dengan penduduk lokal Afrika yang keturunannya kelak disebut dengan “Arab Hitam” atau “Black Arabs” atau “Afro-Arab”. Ini sama dengan komunitas Mestizo di Filipina dan Amerika Latin yang merupakan hasil kawin silang antara pasukan Spanyol dan perempuan lokal atau “peranakan” (baik China maupun Arab di Indonesia). 

Karena itu wajar jika hingga kini, bangsa Arab di Saudi merasa “lebih Arab” (atau lebih murni ke-Arab-annya atau “darah Arabnya”) ketimbang bangsa Arab lain di Timur Tengah, apalagi kelompok “Arab mblesek” di Endonesah. 

Sebelum bangsa Arab mendominasi, Timur Tengah dulu menjadi rumah bagi berbagai etnis dan suku-bangsa seperti Persi, Turki, Kurdi, Yazidi, Assyria, Aramea, Mandaea, Hurria, Chaldea, Dom, Solluba, Cuthites, dan masih banyak lagi. Sebagian dari suku-bangsa ini masih eksis hingga kini, sebagian punah, sebagian lagi mengalami proses “arabisasi”. 

Karena dihuni oleh berbagai suku-bangsa, maka wajar jika Timur Tengah dulu dan bahkan hingga kini juga dihuni oleh berbagai kelompok agama bukan hanya Yahudi, Kristen dan Islam saja. Ada yang menganut politeisme, ada pula yang monoteisme. Ada cukup banyak agama-agama lokal di Timur Tengah selain ketiga rumpun “agama Abraham/Ibrahim” itu. Sebut saja Zoroastrianisme, Samaritanisme, Yarsanisme, Bahai, Ali-Illahisme, Druzisme, Yazidisme, Mandeanisme, Gnosticisme, Syabakisme, dlsb. 

Agama-agama lokal tersebut belum termasuk agama-agama suku/klan yang populasinya lebih kecil lagi dan terkonsentrasi di pengikut suku atau klan tertentu. Dan tentu saja belum termasuk pengikut Ateisme dan Agnotisisme yang cukup meningkat akhir-akhir ini. Agama-agama tersebut masih eksis hingga kini, meskipun sangat terbatas pemeluknya. Kapan-kapan akan saya uraikan masing-masing agama-agama lokal di Timur Tengah ini. Saya mau nyusu dan ngopi dulu…

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Wednesday, January 8, 2020 - 21:00
Kategori Rubrik: