Agama adalah Candu

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Dulu saya tak habis pikir ketika pemikiran komunis menuduh bahwa agama adalah candu. Mana ada cerita agama jadi candu.

Tapi kalau melihat begitu banyak korban berjatuhan sia-sia akibat perang tak berkesudahan dengan mengatasnamakan agama, rasanya kok jadi ada benarnya.

Mending perang antar agama, justru perangnya internal sesama pemeluk agama yang sama. Sesama muslim saling mengkafirkan, lalu berbunuhan. Sesama Kristiani saling mengkafirkan lalu berbunuhan.

Keributan, gempar, geger, hingar bingar, kerusuhan, hingga radikalisme dan terorisme yang meminjam wajah agama. Sehingga agama jadi tercoreng dan orang semakin jijik dengan agama.

Tapi tentu saja bukan berarti kita buang agama kita lalu murtad dan jadi komunis. Tidak begitu logikanya.

Yang perlu diluruskan bukan agamanya, tapi kelakuan orang yang sering menjadikan agama sebagai tameng menghalalkan semua cara demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Beragama seharusnya sebagaimana dulu Rasulullah SAW. Surat ajakan masuk Islamnya dicium oleh Raja Mesir Muqawqis. Meski tidak bersedia masuk Islam, tapi sangat memuliakan Nabi SAW. Bahkan mengirimkan hadiah termasuk budak wanita Maria Al-Qibthiyah.

Beragama seharusnya seperti Umar bin Al-Khattab, yang justru diundang oleh para pemuka Kristiani di pusat kerajaan mereka, Baitul Maqdis, untuk diserahkan kunci kota mereka.

Mereka lebih percaya kepada Umar yang tidak seagama dengan mereka, namun bisa menjamin keadilan, keamanan dan keberagaman di Palestina.

Beragama itu seharusnya seperti Utsman bim Affan yang mendamaikan dua pasukan muslimin dari Kufah dan Damaskus, yang nyaris saling berbunuhan. Hal itu lantaran perbedaan qiroat Al-Quran.

Bacaan orang Kufah ikut guru mereka, Abdullah bin Mas'ud. Sedangkan bacaan orang Damaskus ikut guru mereka Ubay bin Ka'ab. Namun qiroat masing-masing berbeda. Padahal keduanya ahli qiroat dan juga menuliskan wahyu ketika turun di masa kenabian.

Beragama seharusnya seperti Amr bin Al-Ash, yang dipercaya menjadi penguasa di Mesir. Yang memintanya justru para penguasa Kristiani Mesir Koptik. Beliau menjamin tidak ada satu pun rumah ibadah yang dirobohkan dan tidak ada warga non muslim yang dipaksa masuk Islam.

Pada akhirnya tujuan syariat itu adalah maslahat yang jadi hajat semua orang. Menjaga agama, nyawa, akal, harta, dan nasab/ kehormatan.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, December 15, 2019 - 17:30
Kategori Rubrik: