Afi dan Kualitas Cecunguk di Sekitar Kita

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Dari kasus Afi kita melihat mental dan kualitas manusia. Ada yang pencemburu, ada yang tegas, ada yang adil, ada yang memancing di air keruh. Saya diam menyimak baik-baik silang sengkarut itu. Namun ada yang lucu ketika saya mengetahui pihak yang hendak menggunakan nama Nuruddin Asyhadie untuk membunuh karakter anak itu. Saya bahkan melihat indikasi menarik dan membelokkan Nuredan pada aksi politis.

Kalau kalian memahami Nuredan, mengenali maksudnya baik-baik, tindakan kekanak-kanakan itu tak perlu terjadi. Yang dilawan Nuredan itu kebiasaan pengkultusan secara membabi-buta. Metode pengangkatan secara ngawur dan tak bertanggung-jawab. Ini pertarungan panjang dia. Mungkin sudah jadi bagian dari karakter. Jadi tidak berhenti pada diri bocah yang sedang tenar itu, ia tidak serendah itu.

 

 

Kasus Afi ini persoalan etika, tidak perlu dibahas lebih jauh. Dia hanya harus diingatkan, diluruskan, diberi pemahaman, tapi jangan dibunuh karakternya. Mengingat di seberang Afi ada orang-orang intoleran dalam jumlah ribuan yang telah mengambil posisi itu. Afi dianggap berbahaya bagi pengagum Rizieq Shihab dan penghuni bumi datar.

Ketika tulisan Warisan muncul, saya juga ingin mengkritik tulisan itu. Namun ketika melihat antusiasme pembaca, banyak orang yang merasa dapat pencerahan, saya mengurungkan niat itu. Apalagi ketika mengetahui para bigot telah menewaskan akun Facebooknya.

Tulisan itu klise? Ya. Tidak mendalam? Ya. Namun ia jujur dan lahir dari hati. Mungkin ia memang disarikan dari banyak bacaan, termasuk status FB orang lain. Orang-orang boleh terinspirasi dari hal-hal sederhana, bahkan profan. Termasuk dari tulisan Afi.

Lalu kenapa diterima secara luas? Karena dibutuhkan publik. Orang-orang sibuk tidak punya waktu membaca tulisan berat di medsos. Mereka hanya punya jeda sebentar untuk melepaskan penat. Apalagi sifat medsos yang serba cepat, multy tasking. Membuat tulisan pop yang diterima khalayak juga tidak gampang, apalagi membuat tulisan lucu. Masing-masing punya target sendiri. Orang yang tak biasa melucu membuat tulisan lucu itu hasilnya sangat menyedihkan.

Persis seperti tulisan-tulisan yang membombardir Afi, apalagi yang meminjam nama Nuredan itu. Ia bahkan tidak beropini secara jelas di sana. Semata-mata menjadikan nama Nuredan sebagai tameng dan ia numpang tenar dengannya. Saya terus terang jijik dengan siasat seperti itu. Karena orang-orang akan mengejar Nuredan dan menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan tak bermutu. Kelas Nuredan mestinya tidak di situ.

Afi masih harus tumbuh, ia tak boleh berhenti di sini. Kasus yang menimpanya ini adalah pelajaran berharga baginya. Dan kita sebagai orang-orang yang mengamati kemelut tak bermutu itu juga bisa memetakan watak manusia di sekitar kita. Untuk orang-orang yang ingin berbuat adil, memotong dari akar persoalan, perlu dihormati. Namun mereka yang menggugat Afi hanya karena cemburu, merasa dilangkahi, karena unsur senioritas, sebenarnya hanya kelas cecunguk. Mereka tidak memilih lawan yang sepadan.

Mereka yang berpikir membuat tulisan pop atau lucu itu gampang. Padahal tulisannya lebih buruk dari Afi. Lebih tidak layak untuk dibaca oleh orang-orang sibuk. Mereka yang masih hidup di jaman keemasan media massa cetak dan berpikir generasi selanjutnya tidak lebih cerdas dan kritis. Mereka yang sibuk mengurus kepatutan tata bahasa, tapi lupa substansi untuk layak diterima publik. Dan satu lagi, mereka yang mengolok-olok Seword, tapi menulis di Kompasiana. Mereka ini cecunguk di sekitar kita. Kelas mereka hanya di situ dan tidak kemana-mana.

Afi bahkan jauh lebih baik dari mereka, jauh lebih layak untuk ditunggu tulisan-tulisannya. Karena itulah ambisi kecemburuan muncul untuk menghabisinya. Suka membikin gaduh berlebihan demi mencari panggung. Persis seperti aksi pasukan persekusi Rizieq yang sibuk bawa materai enam ribu ke mana-mana. Shame on you!

(Sumber: Kajitow Elkayeni)

Friday, June 2, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: