AFI dan Kerinduan Kita atas Perempuan Jahiliyah

Oleh : Aan Anshori

Asa Firda Inayah alias AFI melesat bak peluru. Pesonanya tak mampu lagi dibendung, bahkan oleh faktor paling fundamental dalam menelurkan sebuah karya tulis sekalipun; kesucian dari anasir plagiasi dan “kecongkakan intelektualitas”

Terlepas dari kenyinyiran sebagian kalangan atas dominannya peran media mengkreasi kehadirannya, dukungan publik pada dara asal Banyuwangi ini terus mengalir deras. Lalu, kenapa respons positif publik sedemikian gegap gempita? Apa yang sebenarnya terjadi?

Saya kira, bangsa yang tengah berjuang melawan gerogotan kanker intoleransi agamis ini membutuh banyak figur perlawanan atasnya. Publik begitu haus figur alternatif ketimbang yang biasa muncul di permukaan. Doktor, profesor, aktivis atau tokoh agama merupakan figur arus utama yang tak lagi menarik. Dapat dikatakan, semakin antimainstream seorang figur, publik akan mudah tersita perhatiannya.

Sosok AFI, bagi saya, adalah antimainstream itu sendiri. Di dalam dirinya terakumulasi lekatan berbagai identitas yang bisa dikatakan terepresi; dia perempuan, ndeso, masih sangat muda, dan bukan dari kalangan kaya, apalagi berdarah biru. Faktor lain yang tak kalah penting adalah ia mengenakan jilbab.

Sangat mungkin ada banyak siswi perempuan yang bisa kita sejajarkan kemampuannya dengan AFI. Di sekolah-sekolah unggulan swasta yang biasanya didominasi pelajar non-Muslim, di mana sistem pembelajarannya lebih egaliter,  kemampuan literasi dan keberanian berpendapat merupakan dua hal jamak yang mudah kita dapati.

Namun demikian, mari periksa sekeliling kita; seberapa banyak institusi pendidikan (terutama Islam) yang berhasil memproduksi siswi-siswinya dengan dua kemampuan tadi?

Peradaban Islam hingga saat ini masih terus diborgol dengan kultur patriarkal yang tidak bisa dianggap remeh. Data Global Gender Gap yang dirilis World Economic Forum 2016 masih menempatkan semua negara berpenduduk mayoritas Muslim di bawah urutan 50 dunia, kecuali Mozambik. Indonesia sendiri terkapar di urutan 88 dari 144 negara–masih jauh lebih mujur ketimbang Brunei (103), Malaysia (106), Iran (139), apalagi Saudi Arabia (141).

Ini artinya ketimpangan gender di negara-negara Islam sungguh menganga setidaknya dalam aspek partisipasi ekonomi, penguatan politik, maupun akses ekonomi, pendidkan dan kesehatan.

Riset lain yang dilakukan Moamen Gouda/Cesifo (2016) malah menunjukkan perempuan yang hidup di bawah regulasi syariah mengalami ketertindasan lebih dibanding mereka yang hidup di negara Muslim yang mengaplikasikan regulasi sekuler.

Perempuan Muslim oleh ajarannya acapkali dibarikade oleh kewajiban untuk “santun” dan “tahu diri”, yang pada gilirannya memaksa dirinya minder atas tubuh dan pikirannya sendiri, terutama ketika berada di ruang publik–lebih-lebih di hadapan laki-laki. Laki-laki dalam Islam seakan telah ditakdirkan menjadi superior ketimbang perempuan dalam sektor publik–tidak peduli setinggi apa pun pencapaian perempuan.

Cobalah sisir berapa jumlah perempuan yang menjabat sebagai kepala kantor kementerian agama di daerah, atau kantor urusan agama seluruh kecamatan di Indonesia. Hitung juga betapa sangat-sangat kecilnya jumlah perempuan yang dipercaya menjabat sebagai kepala sekolah ibtidaiyah (SD), tsanawiyah (SMP), aliyah (SMU), atau pemimpin institusi pendidikan tinggi Islam negeri.

Potret ketidakberdayaan perempuan Islam menahan ranggasan nalar patriarkal bukannya tidak disadari oleh perempuan itu sendiri. Mereka sangat tahu itu namun cenderung kewalahan menghadapinya.

Dari sini, saya kira, kita bisa melacak kenapa kehadiran AFI mendapat respons gegap-gempita dari publik. Mereka, pengagum AFI, terlihat seperti musafir yang kehausan dan melihat selarik kilatan air di gurun tandus. Publik seperti tengah melihat new messiah yang kedatangannya sudah ratusan tahun telah disebutkan dalam kitab suci.

Jejak Jahiliyah

“Kenapa sih menteri agama di Indonesia selalu dijabat laki-laki?” tanya AFI kepada Menteri Agama Lukman Hakim di salah satu acara talkshow. Ini adalah pertanyaan “kurang ajar” yang sangat tidak diharapkan kuasa patriarki keluar dari mulut perempuan –sama kurang ajarnya ketika perempuan menanyakan alasan ketidakbolehan mereka menjadi imam salat laki-laki.

Pembungkaman keberanian perempuan dalam meninju kecongkakan dominasi laki-laki, secara jujur, merupakan salah satu proyek utama Islam historik. Proyek ini bekerja dengan cara menstigma perempuan kritis pra-islam dengan istilah jahiliyah. Padahal dalam bukunya, Women and Gender in Islam: Historical Roots of a Modern Debate (1992), Profesor Leila Ahmed membuat simpulan yang sungguh mencengangkan terkait perempuan jahiliyah:

“JAHILIA WOMEN were priest, soothsayer, prophets, participants in warfare, and nurse on batterfield. They were fearlessly outspoken, defiant critics of men, author of satirical verse aimed at formidable opponent, keepers, in some unclear capacity, of the holy shrine in Mecca; rebels and leaders of rebellions that include men, and individual who initiated and terminated marriage at will, protested the limits Islam imposed on that freedom, and mingled freely with men of theirs until Islam banned such interaction.”

Dalam lintasan sejarah, kita bisa menemukan perdebatan Nabi SAW dengan Hind bint Uthbah, istri dari mertuanya, Abu Sufyan, saat diminta bersumpah saat masuk Islam. Atau bagaimana sengitnya  Ummu Jamil bint Harb, istri paman Nabi, Abu Lahab, mengkritik Abu Bakar sedang jagongan dengan Nabi dekat Ka’bah. Perempuan tersebut tidak terima dirinya dan suaminya “dikutuk” secara abadi sebagaimana tertuang dalam QS. 111:1-5 (Guillaume 1955).

Sulafa bint Sad, salah satu perempuan jahiliyah, dengan terbuka mengekspresikan kegusarannya ketika tahu beberapa anggota keluarganya terbunuh dalam Perang Badar. Kabarnya, ia bersumpah akan menjadikan batok kepala pembunuh keluarganya (Asim bin Thabit) sebagai cawan minum anggur (Ibn Kathir/TL Gassick 2000).

Perempuan pra-Islam memang dikenal ekspresif dalam melontar kritik kepada siapa saja yang dianggap pantas dikritik. Umar bin Khattab pernah gusar menghadapi perempuan Madinah yang memang sudah terbiasa sejajar dengan laki-laki. “We men of Quraysh dominate our women. When we arrived in Medina we saw that Ansar let themselves be dominated by theirs. Then our women began to copy their habits,” kata Umar seperti direkam Sahih Bukhari dalam hadits panjang yang dinarasikan Abdullah bin Abbas (Mernissi 1991).

Kekritisan ala perempuan pra-Islam sangat nyata hinggap dalam diri Aisha bint Abu Bakar, salah satu istri Nabi. Sayangnya, rekam jejak keberanian, intelektualitas, dan kiprahnya di sektor politik tidak lagi dijadikan lokomotif kebangkitan perempuan Islam. Sejarah Aisha pelan-pelan diserimpung dari pentas peradaban perempuan Islam (Spellberg 1996).

Barangkali, perempuan Muslim terakhir dalam catatan sejarah Islam awal yang dikenal sangat tangguh mempertahankan kedaulatannya sebagai perempuan adalah Sukayna bint al-Husayn (w. ± 736 M). Ia adalah cicit Nabi, anak dari Sayyida Husayn dan al-Rabab bint Imri al-Qays al-Kalbiyyah.

Keberanian Sukayna, salah satunya, ditunjukkan dengan cara pernah melabrak pejabat publik yang tengah menjelek-jelekkan almarhum kakeknya, Ali bin Abi Thalib, di masjid.  Bukan hanya itu, perempuan aristokrat yang tidak berjilbab ini menurut catatan A. Arazi dalam Encyclopedia of Islam (1960) adalah simbol feminisme yang ekstrem saat itu.

Sukayna bisa kita sebut sebagai peletak awal perjanjian pra-nikah dalam sejarah Islam di mana ia sangat ketat menjaga kemerdekaannya sebagai perempuan. Sukayna memasukkan klausul “ogah dipoligini” dalam perjanjian nikah.

Pernah suatu ketika ia memergoki suaminya tengah beradu peluh dengan salah satu budak perempuannya (jawari). Sukayna marah. Ia langsung menggunakan hak nusyuznya dan meminta pengadilan untuk menceraikan dirinya. Persidangan ini, menurut Mernissi (1991), sontak membuat geger seluruh kota. Ketika vonis cerai disetujui, ia berdiri di persidangan dan berteriak sembari menghadap mantan suaminya, “Look as much as you can at me today because you will never see me again.”

Namun seperti halnya Khadijah bint Khuwaylid, Hind bint Uthbah, maupun Aisha bint Abu Bakar, epos Sukayna bint al-Husayn kemudian serasa (di)tenggelam(kan) dalam sejarah kebangkitan perempuan Islam. Pelan tapi pasti, sistem matrilineal yang hidup saat pra-Islam digeser menjadi patrilineal dengan menempatkan laki-laki sebagai figur sentral–utamanya sebagai  suami (Alfons Teifen 2002).

Walhasil, bisa dikatakan, kekaguman kita pada sosok AFI sesungguhnya merupakan jeritan untuk memanggil kembali spirit keberanian perempuan masa lalu–masa yang sering kita nista sebagai jahiliyah.**

Sumber : geotimes

Saturday, June 10, 2017 - 13:00
Kategori Rubrik: