Advokat Saiful Huda Tantang Prof Yusril

Ilustrasi

Oleh : Saiful Huda Ems

Di salah satu WAG advokat yang anggotanya semuanya advokat dan ada Prof. Yusril juga saya di dalamnya, ramai memperbincangkan soal tulisan saya tentang Prof. Yusril yang saya beri judul Penghianat Intelektual Bernama Yusril. Dan teman-teman advokat meminta Prof. Yusril untuk mengklarifikasi tulisan saya.

Sayang sekali Prof. Yusril diam saja dan malah beliau menanggapi permintaan klarifikasi teman-teman advokat itu dengan postingan-postingan kampanye partainya, yakni PBB.

Padahal sebenarnya tidak hanya teman-teman advokat melainkan saya juga menantikan klarifikasi atau tanggapan tulisan saya dari Prof. Yusril agar tradisi debat atau polemik yang baik dan saling menghargai dapat terjadi.

Setau saya Prof. Yusril itu sangat menggemari debat, beliau sangat fasih sekali bicara soal Hukum Tatanegara, Agama dan Filsafat. Saya mengikuti pemikiran beliau sejak tahun 1995.

Kegemaran Prof. Yusril terhadap perdebatan keilmuan itu juga nyaris sama dengan kegemaran saya. Profesi dan bidang-bidang yang dipelajari Prof. Yusril pun sama dengan yang saya pelajari.

Bedanya: 1. Yusril sudah profesor sedangkan saya belum. 2. Prof. Yusril pernah mondok di pesantren mana gak jelas, sedangkan saya jelas. 3. Prof. Yusril sudah menulis buku apa saja gak jelas, sedangkan saya jelas. 4. Prof. Yusril pernah menjadi pembantu Soeharto sedangkan saya oposisinya. Prof. Yusril pernah mendukung dan melawan Gus Dur tapi saya mendukung Gus Dur. Prof. Yusril melawan Jokowi dan Ahok sedangkan saya malah mendukung Jokowi dan Ahok. Prof. Yusril partainya gurem tapi terus ngotot ingin ikut Pemilu, sedangkan saya setelah partai saya (PUDI) dinyatakan kalah di Pemilu 1999 saya ikhlas dan ganti partai saja.

5. Prof. Yusril tidak pernah punya rekam jejak (track record) yang baik di organisasi-organisasi pergerakan melawan pemerintah tiran seperti Soeharto, sedangkan saya punya. 6. Prof. Yusril tidak jelas prinsip perjuangan politiknya, sedangkan saya jelas. 7. Prof. Yusril dari dulu senangnya menggunakan Islam sebagai alat untuk meraih perolehan suara politiknya, sedangkan saya malah menghindarinya. 8. Prof. Yusril suka ngibul ke publik sedangkan saya tidak. Masih ingat Prof. Yusril yang mengatakan ia bersama 1000 pengacara akan membela HTI? Kenyataannya dia hanya berdua. 9. Prof. Yusril hanya bisa memahami Al-Qur'an secara tekstual, sedangkan saya selalu berusaha memahami Al-Quran baik secara tekstual maupun kontekstual. 10. Prof. Yusril pernah bongkar pasang istri sedangkan saya tidak. Haha...

Selamat sore Prof. Yusril idola politik saya di Tahun 1998 yang sekarang jatuh terhina karena ambisi buas pribadinya yang ingin jadi Presiden RI dengan menghalalkan segala cara. Saya siap berdebat terbuka dengan anda tidak di group WA tapi dalam forum diskusi terbuka atau paling tidak melalui FB ini. Siap Prof.? Ini juga atas saran dari teman-teman advokat senior lho. Hehe...Salam hormat...(SHE).

Sumber : Status Facebook Saiful Huda Ems

Wednesday, April 4, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: