Adu Domba antara Polisi dan TNI

Oleh: Niken Satyawati
 

Ada status kawan yang muncul di timeline. Katanya, kalau polisi nggak becus menangkap pelaku pembacokan Hermnsyah, serahkan pada TNI atau "masyarakat". Kawan saya itu beberapa hari memang terus nyetatus tentang kasus pembacokan Hermansyah, ahli IT yang pernah tampil di TV One itu.

Digorengnya isu ini sedemikian ruma seperti dia menggoreng isu-isu lainnya. Intinya selalu sama, dia mau menyampaikan kesan: 1. Pemerintah Jokowi nggak pernah ada benarnya. 2. Pemerintah Jokowi musuh Islam. 3. Pemerintan Jokowi teman PKI. 4. Polisi nggak becus 4. TNI top markotop 5. Polisi musuh ulama. 6. TNI teman ulama. Yah... selalu seputar itu ujung-ujungnya.

 

 

Tapi yang jelas sekali di dalam status dia akhir-akhir ini adalah mempertentangkan antara polisi dan TNI. Polisi dicari terus celah kesalahannya. Dan dia menawarkan TNI sebagai solusinya. Bukan cuma TNI ding, tapi TNI dibantu "masyarakat", katanya.

Adu domba antara TNI dan polisi ini ternyata bukan cuma kawan saya seorang yang melakukan. Ada juga di luar sana yang melakukan. Nggak cuma di Facebook tapi juga di Twitter. Ada tokoh berpengaruh yang berusaha melakukannya, tapi lantas menanggung malu sendiri karena cuitannya dijawab sama akun Pusat Penerangan TNI.

Di tengah kerja keras aparat pemerintah dan aparat keamanan untuk membangun negeri ini, di tengah upaya mereka mereka agar Indonesia tak jatuh ke dalam jurang kehancura, ada gerakan sistematis yang berusaha mengadu dua kekuatan bersenjata yang ada. Luar biasaaaaaa...

Sadarkah kalau terjadi perang saudara maka kita semua yang menanggungnya? Sadarkah kalau kita lemah akan jadi santapan lezat negara-negara di luar sana yang sejak lama mengincar kekayaan Indonesia? Pembusukan dari dalam ini benar-benar gerakan yang biadab. Hanya bisa dilakukan oleh orang yang kehilangan rasa cinta pada Indonesia, atau kalau tidak dia memang kehilangan akal sehatnya.

Kenapa harus mengadu dua kekuatan ini? Mereka sama-sama berprestasi dan dibutuhkan masyarakat, untuk melindungi setiap warga negara. Ingatkah prestasi para penembak kita yang ternyata paling unggul dibanding para penembak dari angkatan bersenjata negara lain? Ingatkah polisi yang menangkap para gembong narkoba untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa, dan baru-baru ini menangkap lagi dengan hasil tangkapan 1 ton sabu-sabu senilai Rp 1 triliun lebih?

Kenapa dua kekuatan ini harus diadu alih-alih didorong dan dibantu dalam tugas-tugasnya? Tanyakan pada dengkul yang bergoyang.

 

(Sumber: Status Facebook Niken Satyawati)

 

Foto: Polisi dan barang bukti 1 ton sabu-sabu yang berhasil diamankan.

Friday, July 14, 2017 - 10:15
Kategori Rubrik: