Adilnya Tuhan

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Siapa yang tidak iri dianugerahi wajah cantik bagi perempuan, rupa tampan bagi laki-laki? Apalagi ini zaman media sosial. Betapa orang senang sekali mengunggah foto diri ke banyak media sosial, lalu dikomentari banyak orang: cantik banget, tampan banget! Kita mungkin juga bertanya-tanya, kenapa ada orang yang punya harta banyak, bisa membeli apapun yang ia suka, tiap hari makan enak, disiarkan langsung di media sosial? Tapi di saat yang sama, justru masih banyak juga orang yang untuk makan sehari-hari saja kelimpungan. Di mana letak keadilan Allah?

Ada sepasang istri dan suami, dua-duanya sudah diangkat menjadi PNS, plus sertifikasi, keduanya sudah berangkat haji, rumahnya megah, mobilnya mewah, dan lain sebagainya, pernah tidak di antara kita ada yang menggerutu, lalu membandingkannya dengan kehidupan kita sendiri? Apalagi kalau melihat fenomena rebutan jabatan. Logis sekali jika kemudian banyak orang berebut jabatan, karena apalagi kalau bukan karena gajinya besar? Tak terkecuali orang-orang yang terus mengejar pendidikan tinggi, sampai gelar akademiknya lengkap dan mentereng. Hampir semuanya diraih dengan berlelah-lelah hanya demi meraih uang yang banyak dan jabatan yang tinggi.

Lalu saya merenung, makanala realitas sosial datar dan monoton seperti itu. Sementara di saat yang sama kehidupan sosial di masyarakat semakin kacau. Kehidupan di kampung atau di Desa yang telah lama dikenal dengan kehidupan yang guyub dan gotong-royong, malah semakin memudar. Putra-putri terbaik Desa sudah gengsi alias tidak mau menjadi petani, menjadi penolong masyarakat Desa, melakukan perubahan sosial di kampungnya. Kalau tidak menjadi orang kota dan berkarir di sana, hidup di kampung pun terjebak dengan kehidupan yang individualistis. Orang-orang pun menjadi acuh, mudah tersinggung dan inginnya dihormati.

Orang-orang kemudian mengejar kesuksesan hidup hanya dengan tolok-ukur demikian, sebagaimana telah diungkapkan. Sungguh menjenuhkan. Makna hidup yang sangat sempit dan rigid. Sistem sosial kehidupan kita menjadi kaku. Memaksa banyak orang terjebak dalam kehidupan yang konsumtif dan hedonis. Para ulama, tokoh masyarakat dan orang-orang terhormat lainnya tak ubahnya dengan orang-orang awam yang tidak paham dengan keilmuan. Sungguh menjenuhkan. Saya meyakini jika ada sesuatu yang tidak beres.

Untungnya Allah Maha Adil. Untungnya kita punya Allah. Sang penguasa alam dan jagat raya ini. Kita masih bisa beribadah dan berdoa. Sehingga dari sinilah kita bisa mengubah tatanan sosial yang sempit dan rigid itu. Bahwa kesuksesan dan keberkahan hidup, tidak melulu dijamin oleh kecantikan dan ketampanan paras. Kesuksesan hidup tidak selalu identik dengan harta dan uang yang banyak. Keberkahan hidup sama sekali tidak identik dengan gelar akademik yang mentereng dan jabatan yang tinggi. Kita harus benar-benar merombak mindset dan carapandang kita soal kesuksesan dan keberkahan hidup.

Maka melalui catatan harian ini saya ingin menegaskan kepada siapapun, untuk terus meluaskan makna syukur kita kepada Allah. Kita tidak perlu minder jika wajah kita tidak secantik dan setampan orang lain. Harta kita belum sebanyak orang lain. Gelar akademiknya tidak sementereng orang lain. Jabatannya tidak setinggi orang lain. Orang yang akan Allah tambahkan nikmatnya adalah orang yang bahagia dengan apa yang sekarang ada. Orang yang terus bersyukur apapun yang Allah berikan. Kita tidak pernah tahu kehidupan nyata dari orang lain. Bisa jadi selama ini kita banyak terpukau dan tertipu oleh topeng.

Orang boleh parasnya cantik dan tampan, tapi kita tidak boleh dengki. Ada seseorang yang tadinya wajahnya cantik, tiba-tiba Allah uji dengan wajahnya yang berubah akibat terjatuh dan atau terbakar. Ada orang yang kaya raya, tetapi Allah uji dengan hancurnya rumah tangga. Gajinya sebulan kalau dikalkulasikan antara istri dan suaminya tidak kurang dari 30 juta, tetapi keduanya tidak merasakan ketenangan hidup. Selalu gelisah. Ada juga orang yang gelar akademiknya tinggi, gajinya memang besar, tetapi untuk berbicara di depan publik, menulis buku sulitnya minta ampun. Bahkan tidak ada waktu untuk turut membenahi realitas sosial sekitar yang karut-marut. Selebihnya ada yang Allah uji dengan penyakit kronis, anak yang durhaka, terjebak perilaku korupsi, dan masih banyak lagi.

Saya meyakini inilah bukti betapa Allah Maha Adil. Sementara ada orang-orang yang memilih hidup sederhana, terlepas apakah ia sedang dalam kondisi banyak maupun sedikit harta. Hidup yang apa adanya. Rumah tidak semewah para konglomerat. Makan asalkan bisa mengganjal lapar. Minum sekadar untuk melepas dahaga. Waktunya beribadah ia utamakan. Bekerja pun disiplin. Bahwa kesuksesan dan keberkahan hidup akan selalu dekat dengan kejujuran, kepedulian, menolong orang lain, membahagiakan orang lain, selain juga terus fokus pada upaya pengabdian dalam melakukan transformasi sosial mulai dari lingkungan sosial terdekat.

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

 

Saturday, May 30, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: