Adilnya Tuhan

Orang-orang kemudian mengejar kesuksesan hidup hanya dengan tolok-ukur demikian, sebagaimana telah diungkapkan. Sungguh menjenuhkan. Makna hidup yang sangat sempit dan rigid. Sistem sosial kehidupan kita menjadi kaku. Memaksa banyak orang terjebak dalam kehidupan yang konsumtif dan hedonis. Para ulama, tokoh masyarakat dan orang-orang terhormat lainnya tak ubahnya dengan orang-orang awam yang tidak paham dengan keilmuan. Sungguh menjenuhkan. Saya meyakini jika ada sesuatu yang tidak beres.

Untungnya Allah Maha Adil. Untungnya kita punya Allah. Sang penguasa alam dan jagat raya ini. Kita masih bisa beribadah dan berdoa. Sehingga dari sinilah kita bisa mengubah tatanan sosial yang sempit dan rigid itu. Bahwa kesuksesan dan keberkahan hidup, tidak melulu dijamin oleh kecantikan dan ketampanan paras. Kesuksesan hidup tidak selalu identik dengan harta dan uang yang banyak. Keberkahan hidup sama sekali tidak identik dengan gelar akademik yang mentereng dan jabatan yang tinggi. Kita harus benar-benar merombak mindset dan carapandang kita soal kesuksesan dan keberkahan hidup.

Maka melalui catatan harian ini saya ingin menegaskan kepada siapapun, untuk terus meluaskan makna syukur kita kepada Allah. Kita tidak perlu minder jika wajah kita tidak secantik dan setampan orang lain. Harta kita belum sebanyak orang lain. Gelar akademiknya tidak sementereng orang lain. Jabatannya tidak setinggi orang lain. Orang yang akan Allah tambahkan nikmatnya adalah orang yang bahagia dengan apa yang sekarang ada. Orang yang terus bersyukur apapun yang Allah berikan. Kita tidak pernah tahu kehidupan nyata dari orang lain. Bisa jadi selama ini kita banyak terpukau dan tertipu oleh topeng.

Orang boleh parasnya cantik dan tampan, tapi kita tidak boleh dengki. Ada seseorang yang tadinya wajahnya cantik, tiba-tiba Allah uji dengan wajahnya yang berubah akibat terjatuh dan atau terbakar. Ada orang yang kaya raya, tetapi Allah uji dengan hancurnya rumah tangga. Gajinya sebulan kalau dikalkulasikan antara istri dan suaminya tidak kurang dari 30 juta, tetapi keduanya tidak merasakan ketenangan hidup. Selalu gelisah. Ada juga orang yang gelar akademiknya tinggi, gajinya memang besar, tetapi untuk berbicara di depan publik, menulis buku sulitnya minta ampun. Bahkan tidak ada waktu untuk turut membenahi realitas sosial sekitar yang karut-marut. Selebihnya ada yang Allah uji dengan penyakit kronis, anak yang durhaka, terjebak perilaku korupsi, dan masih banyak lagi.

Saya meyakini inilah bukti betapa Allah Maha Adil. Sementara ada orang-orang yang memilih hidup sederhana, terlepas apakah ia sedang dalam kondisi banyak maupun sedikit harta. Hidup yang apa adanya. Rumah tidak semewah para konglomerat. Makan asalkan bisa mengganjal lapar. Minum sekadar untuk melepas dahaga. Waktunya beribadah ia utamakan. Bekerja pun disiplin. Bahwa kesuksesan dan keberkahan hidup akan selalu dekat dengan kejujuran, kepedulian, menolong orang lain, membahagiakan orang lain, selain juga terus fokus pada upaya pengabdian dalam melakukan transformasi sosial mulai dari lingkungan sosial terdekat.

Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *