Adik Kelas MAPK yang Keluar dari HTI

ilustrasi
Oleh : Nun Alqolam
 
Saya dulu sewaktu kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga sering melanglang untuk mengunjungi teman-teman MAPK yang kuliah di berbagai kampus. Tujuannya satu, mengajak mereka masuk Hizbut Tahrir untuk mendirikan khilafah sebagai satu-satunya solusi seluruh problem manusia modern.
Insya Allah teman-teman seperti Dr. Arif Maftuhin, Dr. Qomarul Huda, Dr. Homaidi Hamid, pakar ngetrel Rossi Abenk, Dr (cand) Moh Sholehuddin, Dr. (cand) Wahid Hadi Purnomo, Dr. Riza Hadikusuma, Dr. Muhammad Adib,. Dr. Asrorun Niam, Jurnalis senior Ilham Khoiri dan Dr. (Cand) Asrori, Dr. Mohamad Shohibuddin pernah saya kunjungi, atau setidaknya mendengar sepak terjang saya di Hizbut Tahrir.
Saya juga tidak lupa beberapa kali mengunjungi adik kelas di asrama MAPK dengan tujuan sama. Oh ya, ada adik kelas yang sampai sekarang masih ikut kelompok itu.
Di bawah ini kisah adik kelas jauh. Dia bernama Azid Muttaqin dari Mojokerto. Selepas dari Kaliwates, dia kuliah di UIN SUNAN KALIJAGA.
Dulu sewaktu di MAPK, dia dan kawan kawan asrama ikut halaqah karena direkrut oleh guru honorer Bahasa Inggris yang tinggal di asrama. Selama setahun penuh disuplai majalah dan buletin HT.
Dia (Mas Azid) berkata, "Bahasa buletin dan majalah HTI yang provokatif dan agitatif itulah yang dulu menarik bagi saya yang awam. padahal, kalau bagi akademisi yang kritis, hanya omong kosong".
Mas Azid punya pengalaman sewaktu Makesta IPNU-IPPNU, sempat mengadakan seminar tentang Khilafah dengan nara sumber KH. Muhyiddin Abdus Shomad ditandem dengan salah satu alumni yang aktivis HT, juga didampingi guru bahasa Inggris yang membina halaqahnya. Acara berjalan lancar, tapi forum lebih didominasi aktivis HT. Memang pengalaman saya di HT sewaktu seminar akan disetting untuk "melumpuhkan" pembicara lain. Caranya moderator dan penanya berasal dari anggota HT.
Nah, selesai acara, malamnya dia sowan ke nDalem Yai Muhyiddin. Di situ, dia dan teman-temannya dinasehati.
Dia juga mempunyai pengalaman yang menurutnya menggelikan. Pada waktu itu, dia "menjabat" ketua 1 di IPNU Imam Bonjol, sekaligus bidang pengkaderan di IRM, sebelum akhirnya disuruh keluar dari IRM. Dia juga pernah di PII dan sebagai fund rising. Alasannya ikut di PII lucu juga, yakni ingin mendapat makanan yang surplus vitamin.
Kata Mas Azid, "Alhamdulillah, semua anggota halaqahku sudah keluar, termasuk saya. Tapi saya yang paling lama bertahan. Teman yang bikin saya waktu itu enggan untuk ikut halaqah lagi adalah Susilo, teman seangkatan yang cukup kritis atas materi yang disampaikan. Sekarang dia dosen UII, sedang mengambil program doktoral di Australia."
 
Sumber : Status Facebook Nun Alqolam
Sunday, September 27, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: