Adian Napitupulu yang Saya Kenal

Oleh: Denny Siregar

 

Dalam perjalanan panjang di dunia media sosial, tanpa sadar saya perlahan-lahan masuk ke lingkaran politik dan bertemu banyak orang, juga tokoh-tokoh didalamnya.

Tidak sulit bagi saya mengenalkan diri, karena biasanya mereka juga membaca pemikiran saya di grup-grup whatsap pribadi mereka. Saya senang ketemu banyak orang sekaligus mengenal pribadi mereka.

 

Saya mengenal Adian Napitupulu juga disana. Pertemuan pertama kali waktu saya bikin acara Seruput Kopi di televisi Youtube Cokro TV saat kampanye lalu. Kebetulan Adian jadi narasumbernya, bersama Wanda Hamidah.

Sambil menunggu persiapan, saya seperti biasa nongkrong dibelakang gedung, tempat saya biasa merenung, ngopi sambil ngudud tentunya. Waktu sendirian adalah waktu istimewa, karena bisa berfikir lebih jauh tentang apa saja.

Tiba-tiba Adian Napitupulu datang. Dia bersama istrinya. Dia mengenali saya dan tersenyum. Kami kemudian duduk dan saling mengenalkan diri.

Saya sendiri tidak tahan untuk tidak bertanya. Banyak hal. Terutama tentang apa visinya untuk negeri ini. Dan cerita dari Adian pun meluncur panjang. Dia seperti bukan bercerita pada saya, tapi pada banyak orang tentang apa yang dia inginkan untuk negeri ini.

Politik itu pragmatis, bahkan condong melahirkan seorang yang oportunis. Tetapi Adian bisa dibilang orang yang ideologis dan juga seorang idealis. Dia bukan tipikal orang yang memanfaatkan dunia politik untuk kekayaan pribadinya, meski saya yakin dia kalau mau kaya sangat bisa.

Saat Adian ditawari menjadi Menteri, saya pernah menulis, "Adian pasti menolak. Kursi Menteri tidak cocok untuknya.. " Dan saya dimarahi banyak pengagumnya. Pada akhirnya saya benar. Kenapa saya tau ? Ya, karena ngobrol2 di belakang gedung itu.

Adian bukan tipikal orang kantoran atau terbiasa menghadapi birokrasi. Dia sedikit banyak sama seperti saya, independen, semaunya sendiri, merdeka dalam berfikir dan keras kepala jika ada kemauan. Dan kami sama-sama muak dengan model penjilat yang asal bapak senang. 

Pembicaraan satu jam itu dibarengi dengan batangan-batangan rokok yang berkali-kali dibakar. Adian memang perokok yang kuat, meski kabarnya dia sudah dapat 5 ring di jantungnya.

Mendengar kabar Adian kolaps dan masuk rumah sakit karena serangan jantung, saya terdiam sejenak.

Ada rasa kekhawatiran yang dalam, karena saya takut kehilangan sosok yang idealis dalam memperjuangkan negeri ini. Saya cocok dengan Adian karena kami punya idealisme yang sama.

Bro Adian, kalau sempat membaca tulisan ini, cepatlah sembuh. Kita cari lagi waktu untuk berdiskusi tentang banyak hal sambil mentertawakan kemunafikan banyak orang.

Perjuangan masih panjang, brader. Jangan menyerah di tengah jalan..

Salam secangkir kopi. Sebatang rokoknya kusimpan nanti..

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Sunday, December 22, 2019 - 07:15
Kategori Rubrik: