Adakah Toko Menjual Agama?

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Menurut data terbaru (religionfact.com., Juli 2018), manusia sebagai penduduk dunia berjumlah 7,5 milyar jiwa. Sekitar 2,2 milyar beragama Kristen, 1,5 milyar Islam, dan ‘juara’ ketiga berjumlah 1,1 milyar digolongkan sebagai penganut Sekuler, Atheis, Tidak Beragama, Agnostik.

Jumlah itu mengungguli Hindu sekitar 827 juta s.d milyar, Buddha 450 juta s.d 1 milyar (mengenai ini didapat keterangan, proses pendataannya lebih rumit, karena penganutnya sendiri tak merasa penting dengan soal tercatat atau tidak).

 

 

Tahun depan mungkin data berubah lagi, dengan angka-angka mencengangkan. Misal, juara ke-tiga bisa naik tingkat menjadi kedua atau justeru pertama. Beberapa indikasi, menurunnya penganut agama Abrahamik lebih karena proses keberagamaan di internal masing-masing. Beberapa negara Timur Tengah, dengan sistem kenegaraan yang dominan berfaham Islam, di Arab Saudi pun, muncul gejala generasi muda menganut atheisme atau juga deisme (mempercayai Tuhan tapi tidak agama).

Dari sisi pengkategorian masih memerlukan penajaman, karena definisi agama dibangun dalam perspektif yang beragam. Para penganut kepercayaan tradisional Cina, disebut berjumlah 400 s.d 500 juta. Kebanyakan penduduk Tionghoa suku Han memeluk kepercayaan tradisional yang merupakan sinkretisme beberapa kepercayaan atau filsafat, di antaranya Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Menariknya, kepercayaan ini tidak memiliki kitab suci resmi.

Agama tentu saja kurang sopan kalau disebut sebagai “barang dagangan”. Tetapi, apa istilah kita untuk orang yang ‘menjual agama’? Bagaimana dulu kisah-kisah mereka yang disebut nabi, ketika menjadi harapan bagi pengikutnya, dari jumlah kecil hingga kemudian kini? Bagaimana dulu orang tertarik mengikuti Konfusius, Buddha, Yesus, Muhammad, dan sebagainya?

Mungkin karena ajarannya dinilai baik, menarik. Orangnya baik, patut diteladani. Ramah. Murah senyum. Pembela dan bukan penindas. Membebaskan dan bukan membelenggu dengan ancaman-ancaman. Dan seterusnya. Bukan hanya kutbah, tetapi perilaku atau teladan juga bagian yang mempengaruhi syiarnya.

Kasus di Turki, ketika Islam terinstitusionalisasi ke sistem negara, pada jaman Erdogan, populasi penduduk penganut Islam mengalami penurunan. Atheisme dan Deisme muncul di negeri itu. Artinya? Ada proses yang terjadi sebagaimana dalam hukum dagang. Maka mereka yang bermimpi agamanya atau ajarannya ‘laku’ harus berlaku sebaik-baiknya. Agar orang tidak justeru menolak atau meninggalkan. Tidak jaman lagi diancan-ancam. Dalam Islam, menurut Gus Dur, nggak usah takut dibilang kafir, karena begitu jadi kafir nyebut dua kalimat syahadat sudah nggak kafir lagi. Gampang toh?

Memang menurunnya keyakinan atas agama lebih sering karena bagaimana buruknya agama itu diperlakukan. Bukan sebagai alat atau jalan untuk melakukan internalisasi, melainkan lebih banyak dioperasionalisasikan dalam bentuk-bentuk verbalisasi nilai. Teks-teks atau narasi yang dibangun seolah itu kebenaran agama yang operated. Bukan hasil (output) sebuah proses memberagama (belajar nilai agama untuk membangun rohaninya).

Dari sisi ilmu marketing, kalau agama mulai berkurang peminat, sesuatu yang bisa dimengerti. Omongan seorang pengusaha muda di Yogyakarta, yang tidak sangat terkenal, namanya Harry Slyman, mungkin bisa direnungkan; “Temukan strategi marketing yang tepat dan selalu bereksperimen. Produk terbaik tanpa tekhnik menjual yang handal hanya akan menjadi onggokan barang di gudang debu.”

Tumpuan nasihatnya, pada eksperimen dan kreativitas. Apakah agama bisa diperlakukan seperti itu, jika ingin kembali meraih kepercayaan umat manusia, sebelum jumlah atheis bertambah lagi? Terserah sih. Karena di negeri Indonesia yang Pancasila ini, anehnya, masih saja ada yang dengan cara nggak sopan memaki-maki liyan, dengan menyebut kafir-kafir-kafir, dan menganggap dirinya paling sahih di dunia. Apalagi bisa ngapling-ngapling sorga.

Itu akan dapat banyak simpati atau malahan orang akan antipati? Abu Hamid Al Ghazali, filsuf dan sufi dari Persia abad 11, pernah ngendika; “Kita tidak dapat mengakui bahwa setiap orang yang mengaku beragama pasti mempunyai segala sifat-sifat yang baik.” Bahkan, Ghazali tidak ragu mengatakan, di dunia ini ada ulama yang sahih dan ulama palsu. Yang palsu, menurutnya, yang menjual agama untuk kekuasaan!

Lha, tapi apakah ada yang menjual agama di Indonesia, untuk kekuasaan? Coba saja cermati masjid-masjid hari ini, pada kutbah shalat Jumat nanti. Catat nama khatibnya, masjidnya, di dusun atau kampung mana, desa, kecamatan, kabupatan atau kotamadya, dan propinsi mana. Terus, kumpulkan, tumpuk pinggir. Kita akan tahu bagaimana agama sering dirugikan para penganutnya sendiri, yang berlebihan tapi bodoh.

“Negeri ini, Republik Indonesia,” berkata Sukarno pada 1 Juni 1945, “bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat-istiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”

Atau kalau agama-agama itu mau dikampanyekan lagi, agar meraih kepercayaan umat, nasihat seorang pengusaha AS, James Cash Penney, yang menulis buku Crazy Billionaires Speak, mungkin bisa dicamkan: “Toko yang menjual barang-barangnya dengan harga murah, namun kurang menaruh perhatian pada layanan yang diberikannya, tidak akan mencapai kesuksesan seperti halnya toko dengan pegawai yang sopan. Pelanggan tidak begitu tertarik untuk menghemat sedikit uang belanja dengan mengorbankan layanan yang diterimanya. Pelayanan yang sopan akan menjadikan pelanggan sebagai iklan berjalan.”

Tapi, adakah toko yang menjual agama?

 

(Sumber: facebook Sunardian W)

Friday, February 8, 2019 - 23:30
Kategori Rubrik: