Adakah Sisi Kebaikan Ratna Sarumpaet Dkk?

Oleh : Rudi S Kamri

Jujur sampai detik ini saya masih penasaran dengan kasus kejahatan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet dan kawan-kawan. Yang membuat saya tidak habis pikir adalah : "Kok ada ya orang sejahat dan busuk hati seperti seorang Ratna Sarumpaet dan kawan-kawan".

Bagi saya yang sedang belajar berusaha keras menebarkan nilai-nilai kebaikan kepada sesama, dibuat terheran-heran dengan polah tingkah para pemburu kekuasaan seperti Ratna Sarumpaet dan kawan-kawan. Mengapa saya tegaskan "dan kawan-kawan" karena saya SANGAT TIDAK YAKIN kelakuan jahat itu direncanakan dan dilakukan sendiri oleh Ratna Sarumpaet. Saya haqul yaqin ada kelompok besar yang berada di balik peristiwa jahat ini.

Tidak bisa saya bayangkan kerusakan sosial yang akan terdampak di negeri ini seandainya saat itu pihak POLRI tidak sigap membuktikan dan membongkar kejahatan kebohongan yang dilakukan oleh Ratna dkk. Ratna Sarumpaet menangis menggerung-gerung mengakui kejahatannya itu terjadi karena dia dan kelompoknya sudah terdesak kepepet oleh realita yang diungkap oleh Polri. Andai saja Polri tidak sigap pasti mereka sudah merajalela merusak semua tatanan sosial. Mereka akan demo besar-besaran berkepanjangan, mereka akan menciptakan chaos, mereka akan membakar amarah sosial masyarakat dan ujungnya mereka akan merampok harta yang paling berharga dari kita yaitu AKAL SEHAT.

Ini kejahatan berjamaah yang paling brutal yang dilakukan oleh sekelompok manusia tamak dan tuna nalar. Yang membuat saya tidak habis mengerti, mengapa hanya karena ambisi dan kekuasaan mereka dengan sadar menjelma menjadi Penjahat Kemanusiaan tanpa nurani. Padahal diantara mereka ada mantan jenderal, ada Profesor, ada dokter, ada ustadz, ada pemuka agama lainnya serta ada jurnalis. Kesimpulan saya adalah ambisi kekuasaan yang over dosis membuat mereka kehilangan intelektualitas, kehormatan dan harga diri sebagai manusia.

Orang dengan tipikal seperti tersebut di atas, sangat ringan tanpa beban rajin memproduksi kebohongan. Mereka dengan tanpa rasa berdosa menyebarkan fitnah dan kebencian. Mereka terbelenggu oleh strategi kampanye ala Rob Allyn atau ESF yang menghalalkan segala cara untuk bisa menang dan merebut kekuasaan. Mereka gunakan agama untuk merusak iman dan moral pendukungnya. Mereka gunakan Rumah Allah untuk menyebarkan kebencian dan kebohongan. Mereka pelintir semua kebenaran yang hakiki menjadi alat untuk berternak kebodohan. Duuuh Gusti.......

Strategi mereka sebenarnya mudah diterka. Mereka dengan sengaja menyebarkan serangan kepada lawan politiknya. Tidak peduli serangan ini salah atau benar. Tidak peduli serangan mereka berbasis data atau tidak. Mereka hanya ingin menyebarkan kegaduhan sosial di masyarakat dengan berbagai distorsi informasi atau informasi sesat.

Pola serangan seperti ini sudah berkali-kali dilakukan oleh Capres, Cawapres dan Timses dimana Ratna Sarumpaet menjadi bagian di dalamnya. Mereka bilang kemiskinan di era Jokowi naik tajam, padahal data menunjukkan sebaliknya. Mereka memberikan angin sorga untuk para nelayan, tapi begitu Menteri KKP Susi Pudjiastuti menegur keras, si lelaki melambai itu hanya cengengesan sambil minta maaf.

Pilpres bagi mereka bukan perang citra positif atau adu gagasan. Tapi hanya membangun industri kebohongan dan ujaran kebencian. Dan bagi saya Ratna Sarumpaet hanya "small piece" dari bongkahan besar dari gerakan pembunuhan akal sehat yang sistematis dan masif. Kelompok seperti mereka harus kita cegah untuk berkuasa. Kita akan berdosa besar kepada anak cucu kita kalau membiarkan Kelompok Manusia Jahat ini merampok sumber daya masa depan bangsa Indonesia yaitu akal sehat dan empati sosial.

So, menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini, adakah sisi kebaikan dari Ratna Sarumpaet dkk ? Entah mengapa setiap melihat wajah Ratna saya selalu teringat wajah Prabowo, Amien Rais, Fadli Zon, Egi Sujana, Ahmad Dhani, Nur Sugi, Tengku Zulkarnain dan lain-lain. Jadi mana mungkin saya menemukan ada nilai kebaikan disana. Paham kan ?

Salam SATU Indonesia,
Rudi S Kamri
20102018

 

Sumber: facebook Rudi S Kamri

Saturday, October 20, 2018 - 09:45
Kategori Rubrik: