Adabmu Iku Lho

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar
(Bapak Yang Memuliakan Dirinya. . .

Kemaren malam ada teman lama nelpon. Dari jauh. Propinsi Alberta, Kanada, Amerika Utara. Teman kuliah.

Cerita macem2. Termasuk tentang 'drama' perjalanan-nya menuju Bandara Soetta, hari Selasa, tanggal 10 November 2020 lalu.

Teman saya ini Muslim. Perlu saya tulis ini. Jadi ngerti waktu. Pesawat take-off pukul 6.30, berangkat dari rumah jam 1 malam. Karena Muslim itu, dia sempatkan dulu sholat tahajjud di rumah. Siapa tahu ada apa2 di jalan, ndak sempat lakukannya di Langgar atau musholla Bandara. Karena dia tahu ada tamu 'asing' datang, yang perlu jemputan.

Ternyata bener ada apa2. Meskipun sudah diperkirakan, tapi jauh dari perhitungan. Masih pukul 2 malam, mobilnya sudah ndak bisa jalan. Mandhêg. Mogok ? Bukan . . .

Ada sekumpulan 'laskar' halangi jalan Tol Bandara. Ditutup untuk persiapan sholat malam. Persis seperti yang teman saya tadi lakukan di rumah. Persiapan sembahyang subuh juga. Gelar tikar sembari makan minum. Di tengah jalan itu. Jalan Tol menuju Bandara . . .

Dia pun turun minta jalan secara baik2. Eh malah segera dikerubuti sekelompok orang berpakaian 'sarngi' tapi raut muka sangar. Kata teman saya, kayak di Afganishtan. Permintaannya ndak digubris. Mobil disuruh balik.

Teman saya lalu datangi polisi yang sedang jaga. 'Mbok yo diatur agar satu jalur bebas', usul dia. Namun agaknya polisi itu pun ndak berdaya. Melihat percakapan itu kelompok 'sarngi' datangi lagi. Ndak terima. 'Sudah tahu ndak boleh lewat kok. Bandel.' Makin sangar mereka . . .

Nyoba jalan kaki juga ndak boleh. Katanya itu area 'suci'. Kalau mau jalan, pilih saja di pinggir, di bagian tanah, bukan aspal. Teman saya tentu saja ndak mau, karena bau pesing dan bau 'taik', kata Teman. Mungkin anggota laskar yang kebelet, asal 'buang' saja disitu. Bersihkan diri pakai pasir dan batu, kayak jaman dulu . . .

Mengalah. Mobil dimundurkan sampai ketemu Pintu Tol. Keluar lalu masuk jalan2 kampung kecil. Andalkan arahan 'google map'. Sesekali nyasar ke jalan tikus sebelah tol. Ketika buka jendela, sama juga. Bau tak sedap menyergap dan juga ada 'penampakan' tai manusia di atas rerumputan dan di-sela2 belukar . . .

Namun akhirnya mobil terhenti juga. Harus masuk tol lagi, yang pepat. Terpaksa dia turun. Koper dan mobil ditinggal, cuma bawa rangsel. Jalan kaki. Itu masih sekitar 5 sampai 6 kilometer, kata 'google map', dari Terminal 3 Internasional.

Di jalan gelap itu, sempat disalip beberapa ojek yang sudah berpenumpang. Akhirnya ketemu seseorang yang naik sepeda montor. Dia diboncengkan. Belak-belok. Sampai ketemu pos jaga. Ojek berkerumun disitu, rupanya di larang masuk. Masih sekitar 3 kilometer dari Terminal.

Namun teman saya lolos, yang bonceng dia ternyata seorang 'petugas', yang bisa tunjukkan 'kartu pass security'. Akhir cerita, sepeda montor Pak Security berhenti persis di depan pintu keberangkatan. Teman saya haturkan banyak terima-kasih. Nunduk2 sampek njengking2 kayak orang Jepang. Karena sekaligus bersyukur. Dan si Bapak 'petugas' disodori duit ndak mau . . .

Check-in tanpa bagasi. 'Bisa ditunggu sampai pukul 6', kata pegawai check-in. Dia telpon sopir, kalau sampai langsung saja antar koper ke meja check-in.

'Ndak sempat, Pak . . .' Jawab sopir tertawa ringan, kirim video kumpulan para laskar yang sedang bergerombol menutup jalan. Ya sudah. Take off cuma bawa rangsel . . .

Di koridor masuk pesawat, ketemu perempuan asal Orlando Amerika. Ngobrol sebentar. Omong kalau teman saya beruntung, karena ada yang boncengi sepeda montor. Dia, kata wanita asal Orlando itu, lari sepanjang 6 kilometer . . .

Teman saya nimpali, 'I am sorry . . .' Dijawab juga dalam bahasa Inggris yang kira2 artinya, 'Halah !'

Saya berpikir, apakah diantara para laskar itu ada Orang Jawa ? Orang Jawa kan mesti ngerti dan paham 'Tepa salira'. Tepa itu 'tepak', di-tempat-kan, Salira itu 'awak', diri sendiri.

Coba kalau orang Jawa, mesti semua di 'pas' kan pada diri sendiri. Kalau saya yang di stop, sedangkan saya buru2, gimana. Kalau saya yang lari 6 kilometer untuk mengejar pesawat di sela2 padatnya kerumunan orang, rasanya juga gimana . . .

Karena bisa saja lho, nanti para laskar, suatu waktu bareng orangtuanya yang sepuh, menuju bandara, untuk umroh atau berangkat haji, ketemu jalan Tol yang mampet. Karena ada 'laskar lain' yang juga demo. Atau 'dibalas' oleh 'alam', ban mobil bocor. Yok opo . . . ?! Mau ajak ortu-nya yang sepuh lari sejauh 6 kilometer, kayak wanita Amerika itu ?! Sido ndlosor . . .

Atau, 'takdirnya' sudah ditulis sendiri. Mereka tak akan pernah 'terhalang' di Jalan Tol itu. Karena sampai mati tak akan pernah lagi lewat atau menapaki Jalan Tol arah Bandara itu. Oleh Tuhan, mereka tak pernah diberi 'rejeki' lebih. Agar bisa umroh, berhaji, atau kemana pun . . .

Tapi ya begitulah mereka. Nyusahin orang bukannya jengah, tapi malah gagah . . .

Seakan percaya bahwa mereka begitu kuat dan gagah, tak ada yang mampu menandingi, alih2 melawan. Hingga aparat dan pemerintah pun tak ada yang berani. Pikir mereka . . .

Sabtu malam diulang lagi. Bikin kerumunan, tanpa hiraukan protokol 3M. Oleh Pemerintah malah dikirim masker dan alat bantu cuci tangan, dan lain-lain.

Makin percaya diri saja. Makin percaya jika mereka kuat tak tertandingi. Jokowi, yang ngirimi masker, malah didoakan umurnya pendek. Padahal yang berdoa katanya baru sakit 3 bulan. Kalau doanya mbalik ?!

Ndak papa. Mungkin begitu pikirnya. Mati syahid. Ketemu bidadari. Gitu saja . . .

Minggu pagi seperti biasa, saya olah-raga pagi. Seperti biasa mengarah juga ke pasar. Berpapasan dengan seorang Bapak yang jualan 'kemoceng'. Cuma beberapa. Sesuai kapasitas bawa tangannya.

Pakai masker. Berjalan pelan menjajakan dagangannya. Seakan takut tersenggol atau disenggol orang lain. Agaknya beliau juga terapkan 'jaga jarak'.

Mungkin dia khawatir, jika dia OTG, Orang Tanpa Gejala, bisa tulari yang lain. Atau sebaliknya, takut tertular juga oleh OTG yang berpapasan dengannya. Namun dia harus keluar rumah untuk menjemput rejeki.

Si Bapak tadi sedang 'memelihara' dan 'menjaga' orang lain. Sedang 'memuliakan' orang lain. Sekaligus juga sedang 'pelihara' dan 'muliakan' dirinya.

Bukankah setiap orang adalah 'khalifah' ? Setidaknya bagi diri sendiri ?

Apakah dengan 'kemuliaan' yang sedang diraih atau bahkan sudah tergenggam, si Bapak pedagang itu jadi laris dagangannya ? Sebegitu larisnya hingga hidupnya menjadi makmur, dan mampu berangkatkan dirinya untuk ber-umroh atau haji ?

Bisa iya, bisa ndak. Yang jelas si Bapak telah mendapat 'rejeki' lain, dari Allah, yang juga berlimpah. Hati yang kaya dan lapang . . .

Tandanya ? Sebegitu 'kaya'nya beliau, hingga selalu sempat dan ada waktu untuk pikirkan, pelihara, dan muliakan orang lain. Bukankah saya seorang 'Khalifah' ? Begitu pikirnya . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Tuesday, November 17, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: