Adab Para Pemimpin Muslim

Ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Tahun 2018 Masehi . . . .
Dua atau 3 mingguan lalu saya sempat agak gusar dan sedih. Hanya karena satu postingan FB. Foto seorang 'Pemimpin muslim' sedang minum sambil duduk. Sebenarnya biasa saja.

Yang bikin saya marah karena 'bunyi' kalimat pengantar foto itu. "Adab Pemimpin Muslim, Minum sambil Duduk" 

Kalau cuma begitu ndak perlu nunggu sampai jadi orang 'Besar'. Anak TK 'Islam Terpadu', Little boys of Kindergarten 'Islam Hadhari' Malaysia, Bocah PAUD 'Islam Nusantara', pun sudah paham 'nglonthoki' dan jadi perilaku sehari-hari . . . . 

Yang bikin sedih lagi, disaat sang 'Pemimpin Muslim' itu disorot performancenya, para 'fans' penggembira membela dengan rilis postingan yang sama sekali tidak bermutu. Me'redusir', mem'bonsai' Standar dan Citra 'Adab Pemimpin Muslim'. Sungguh nampak bodoh, naif, sekaligus memalukan ! 

Tahun 632 Masehi . . . .
Setelah kesedihan agak mereda, karena Rasul Muhammad SAW mangkat, umat muslim disibukkan dengan mencari penggantinya. Sungguh perkara pelik. Nabi tidak eksplisit memberikan acuan cara pemilihan, alih-alih menunjuk pengganti.

Kualitas seperti apa 'manusia' yg mampu dan layak menggantikannya sebagai khalifah ? Namun setelah debat panjang dalam berkali musyawarah, mufakat memilih Abu Bakar Ash Shiddiq. Mertua Nabi. Golongan Muslim Pertama. Yang juga menemani Rasul hijrah dari Makkah ke Madinah. Satu perjalanan yg rumit, melelahkan dan penuh marabahaya.

Umar bin Khattab, sahabat terkasih lainnya, tampil. Singa Padang Pasir, bertubuh tinggi besar, bersuara berat tegas, mendukung Abu Bakar. Kalimat pendek pidato dukungannya justru menyiratkan kualitas dirinya. Jujur mengakui orang yang lebih layak, yang lebih tinggi 'nilai'nya

Umar bin Khattab, sahabat terkasih lainnya, tampil. Singa Padang Pasir, bertubuh tinggi besar, bersuara berat tegas, mendukung Abu Bakar. Kalimat pendek pidato dukungannya justru menyiratkan kualitas dirinya. Jujur mengakui orang yang lebih layak, yang lebih tinggi 'nilai'nya 

Hijrah bersama Nabi sudah menunjukkan kualitas memegang 'Amanah' dan sklil 'Strategi' Abu Bakar, mungkin begitu menurut Umar. Kedermawanan dan empati Abu Bakar pun diakuinya. Dikatakan dia selalu kalah dalam 'Perlombaan Amal' melawan Abu Bakar (petikan bebas hadits Abu Dawud-Tarmidzi).

Namun apa mau dikata, Khalifah Pertama dari Empat Khulafaur Rasyidin ini, memerintah hanya 2 tahun lamanya. Sebelum mangkat beliau sempat menunjuk Umar sebagai penggantinya.

Tahun 634 Masehi
Umar bin Khattab pun menjadi Khalifah ke-Dua. Sosok yang ketajaman pedangnya di medan perang semasyhur kedermawanannya. Jujur, keras hati. Cerdas. Dan juga tak jarang 'Out of the Box' pula. 

Bagaimana tidak. Ditengah masyarakat yg masih lekat dengan budaya lisan, ide penulisan ayat2 Allah untuk di jadikan Mushaf Quran, sungguh sangat brillian. Sekaligus 'Super Bid'ah' ! 

Karena Rasul tidak pernah memberi contoh apalagi memerintahkan .

Setelah dipilih menjadi khalifah, Umar tidak selebrasi keliling lapangan atau sujud sukur bak Striker yg telah berhasil menyarangkan bola gol ke gawang lawan.

Bukan diucap 'Alhamdulillah' tapi 'Innalillah . . ' Jabatan bukan Hadiah, melainkan Amanah 

Kesederhanaannya pun nyaris tak tertandingi. Seorang Yahudi yg hendak mengadukan nasibnya sempat kebingungan mencari letak 'istana' Sang Khalifah. Ternyata tak jauh beda dengan rumah tetangganya. Singgasananya pun tak lebih hanya hamparan pelepah di bawah keteduhan pohon kurma . . .

Jauh berbeda dengan kemewahan istana dan tahta para Khalifah setelah jaman Khulafaur Rasyidin. Mungkin itu yg jadi salah satu sebab keruntuhan keKhalifaan Muslim. Terlalu dekat dan memuja dunia.

Yang akhirnya rubuh bukan karena berperang dengan musuh, tapi karena tak mampu berjihad menghadapi lawan yg lebih berat. Melawan hawa nafsunya sendiri ! (hadits Baihaqi)

Ketegasan dalam menegakkan keadilan pun banyak yg meriwayatkan. Tanpa banyak bicara. Seperti saat Umar mengirim sepotong tulang busuk yg digurat 2 garis dengan pedangnya, kepada Gubernur Mesir, Amr bin 'Ash. Yang dinilai lalai pegang amanah.

Pucat pasi berkeringat dingin ketakutan Amr bin 'Ash ketika menerima teguran tersirat Sang Khalifah. Bersegera membenahi kesalahannya.

Umar pun memerintah dengan hati2. Pesan Nabi agar segala sesuatu diatur dan dikerjakan hanya oleh yg 'Ahli' (petikan bebas hadits Bukhari), sungguh amat menakutinya.

Selalu mematut diri dengan bekerja keras, asah nurani, dan santun melayani. Agar setidaknya mendekati predikat 'ahli'. Persis seperti pesan Rasul yang sangat dia kasihi . . . . 

Memang selayaknya bahkan seharusnya para calon pemimpin dan pemimpin selalu berkaca, memantaskan. Laik tidak jadi pemimpin.

Namun yang sering terjadi 'milik nggendong lali', kata pepatah Jawa. Hawa nafsu memiliki (kekuasaan) membawa alpa diri. Lupa ukuran 'mutu' diri.

Rakyat butuh Pemimpin yg selalu bekerja keras melayani. Pencitraan melayani (rakyat) dan mengabdi (negara). Namun disuguhi pemimpin yg bercitra seorang 'Dagelan'. Yang fasih berkilah, cekatan mengaku pekerjaan lain orang, dan setiap saat tak henti membuat lawakan tak cerdas dan memalukan. Sedikit 'nggilani' !

Bikin mual perut seharian. Dua Puluh Empat jam sehari. Tiga Puluh hari sebulan. Dua Belas bulan setahun. Sampai 5 tahun ke depan. Yang bisa buat BPJS tekor, akibat banyaknya pasien perut sakit terlalu banyak bahan lawakan, gigi sakit menahan kegeraman . . .

Mana tahan . . . ?! ?! ?! 

Friday, August 3, 2018 - 18:45
Kategori Rubrik: